Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini
Poin Penting
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor pada periode Januari-November 2025 sebesar USD256,56 miliar atau naik 5,61 persen secara kumulatif (ctc), dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar USD242,93 miliar.
“Total nilai ekspor sepanjang Januari-November 2025 mengalami peningkatan sebesar 5,61 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Andil utama peningkatan nilai ekspor disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 10,41 persen,” ujar Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS dalam Rilis BPS, Senin, 5 Januari 2026.
Secara rinci, sepanjang Januari-November 2025 ekspor migas tercatat sebesar USD11,81 miliar. Angka ini turun 17,64 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu pada periode sama sebesar USD14,34 miliar.
Baca juga: Pasar Domestik Lesu, Emiten STRK Agresif Ekspansi ke Pasar Ekspor
Sementara, ekspor non migas naik sebesar 7,07 persen atau secara nilai sebesar USD244,75 miliar pada Januari-November 2025. Sebagai pembanding, pada Januari-November 2024 ekspor non migas tercatat sebesar USD228,59 miliar.
Kenaikan ekspor non migas ini utamanya didorong oleh kenaikan di sektor industri pengolahan dan pertanian. Di mana sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor non migas pada periode Januari-November 2025, dengan andil sebesar 10,41 persen.
“Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar, yaitu minyak kelapa sawit, barang perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, logam dasar bukan besi, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya,” jelasnya.
Sementara berdasarkan negara dan kawasan tujuan utama ekspor, nilai ekspor non migas ke Tiongkok sebesar USD58,24 miliar atau naik 6,42 persen dibandingkan tahun lalu pada periode sama.
“Jika dibandingkan secara kumulatif dengan periode yang sama tahun lalu, pada Januari-November 2025 ekspor non migas ke Amerika Serikat (AS), ASEAN, dan Uni Eropa mengalami peningkatan sementara ke India mengalami penurunan,” imbuhnya.
Adapun secara tahunan (year on year/yoy), nilai ekspor Indonesia turun 6,60 persen yoy atau USD22,52 miliar di November 2025, dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama sebesar USD24,11 miliar.
Ekpsor tersebut terdiri dari ekspor non migas yang terkontraksi 5,09 persen menjadi USD21,64 miliar dan ekspor migas turun cukup dalam sebesar 32,88 persen atau USD0,88 miiar.
Baca juga: UMKM Indonesia Catat Lonjakan Ekspor ke Eropa pasca IEU-CEPA
Pudji menjelaskan, penurunan nilai ekspor pada November 2025 secara tahunan, utamanya didorong oleh penurunan nilai ekspor non migas, yaitu komoditas bahan bakar mineral yang menurun 18,89 persen, dengan andil -2,77 persen.
Kemudian, disusul oleh lemak dan minyak hewani/nabati yang turun 18,81 persen, dengan andil -2,21 persen, serta besi dan baja turun 17,14 persen dengan andil -1,71. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Penukaran uang baru menjelang Lebaran 2026 dapat dilakukan langsung di kantor cabang BRI,… Read More
Poin Penting Kewajiban neto PII naik menjadi USD272,6 miliar pada Triwulan IV 2025 dari USD261,8… Read More
Poin Penting BRI menyiapkan uang tunai Rp25 triliun untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat selama periode… Read More
Poin Penting BCA menyesuaikan operasional cabang selama libur dan cuti bersama Nyepi dan Lebaran 2026,… Read More
Poin Penting OJK proyeksikan kredit UMKM 2026 tumbuh 7–9 persen (yoy) didorong optimisme konsumen dan… Read More
Poin Penting Industri BPR terdampak ketidakstabilan ekonomi global dan regional, mendorong Perbarindo mengajak kembali ke… Read More