Jakarta – Neraca perdagangan Indonesia terus mengalami surplus selama 19 bulan berturut-turut. Hal ini disebabkan oleh nilai ekspor yang selalu lebih tinggi dari impor yang ada.
Presiden Joko Widodo mengungkapkan salah satu alasan dari tingginya nilai ekspor adalah karena keputusan untuk menghentikan ekspor bahan mentah seperti nikel. Pasca keputusan ini, Presiden menyebut terjadi peningkatan signifikan dalam nilai ekspor.
“Saya lihat biasanya hanya US$1 miliar sampai US$2 miliar, kemarin hingga akhir tahun lalu, sudah hampir mencapai US$21 miliar, tepatnya US$20,8 miliar,” ujar Jokowi pada sambutannya secara virtual, Senin, 3 Januari 2022.
Ke depan, pemerintah akan terus fokus pada hilirisasi industri. Larangan ekspor pada barang-barang mineral mentah seperti nikel akan diperluas ke bauksit, timah, dan tembaga.
Dengan demikian, Indonesia akan lebih fokus pada process material yang nantinya akan memberikan nilai tambah bagi ekspor. Sehingga tren surplus neraca perdagangan bisa terus dipertahankan. (*)
Editor: Rezkiana Np
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More
Poin Penting OCBC Sekuritas bermitra dengan Makmur untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur… Read More