Naik 30% Maybank Indonesia Catat Laba Rp663 Miliar di Semester I-2022

Naik 30% Maybank Indonesia Catat Laba Rp663 Miliar di Semester I-2022

Maybank
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – PT Bank Maybank Indonesia, Tbk mencatatkan laba setelah pajak dan Kepentingan Non-Pengendali (PATAMI) sebesar Rp663 miliar di Semester I-2022 atau mengalami kenaikan 30% bila dibandingkan dengan tahun lalu diperiode yang sama yakni sebesar Rp510 miliar. Sedangkan laba sebelum pajak (PBT) naik 23,9% menjadi Rp944 miliar dari Rp762 miliar.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Taswin Zakaria mengatakan, peningkatan laba perseroan didukung oleh kondisi ekonomi yang berangsur membaik pada semester pertama 2022, di mana hal ini mendorong peningkatan terhadap kebutuhan akan pembiayaan. Kinerja tersebut dikontribusikan terutama dari penurunan provisi sehubungan dengan membaiknya kualitas aset, serta didukung oleh pertumbuhan kredit, penurunan biaya dana (cost of funds), dan biaya overhead yang terkendali.

Ia menjelaskan, bahwa Maybank Indonesia mencatat Net Interest Income (NII) atau Pendapatan Bunga Bersih sebesar Rp3,48 triliun. Hal ini didukung oleh pertumbuhan kredit ritel dan korporasi, biaya dana yang rendah, sejalan dengan pertumbuhan CASA yang kuat sehingga mendorong Net Interest Margin (NIM), atau Marjin Bunga Bersih meningkat 18 basis poin menjadi 4,6% pada semester pertama tahun ini.

Fee based income atau Pendapatan Non-Bunga, di luar pendapatan fees dari Global Market, naik 5,2% menjadi Rp818 miliar dari Rp777 miliar pada periode tahun lalu, sehubungan dengan pendapatan fee yang berasal dari lini bisnis ritel dan anak perusahaan. Sementara, fees terkait  Global Market mengalami penurunan sebesar 69,2% disebabkan oleh dinamika suku bunga global dan volatilitas pasar. Hal ini menyebabkan pendapatan fee-based turun 8,4% dibandingkan periode tahun lalu.

Seiring dengan peningkatan kegiatan bisnis dan perdagangan pada semester pertama 2022, total kredit yang disalurkan tumbuh 8,1% menjadi Rp106,81 triliun dari Rp98,80 triliun pada periode tahun lalu. Pertumbuhan untuk semester pertama tahun 2022 merupakan yang pertama kalinya dicatat sejak awal pandemi, dan pertumbuhan tersebut dipimpin oleh segmen kredit Global Banking yang tumbuh 16,7% menjadi Rp42,09 triliun dari Rp36,07 triliun. Ada pun segmen kredit Global Banking juga tumbuh 19,4% secara kuartalan.

Total segmen kredit Community Financial Services (CFS) tumbuh 3,2% menjadi Rp64,73 triliun dari Rp62,73 triliun pada periode tahun lalu. Segmen kredit CFS Ritel mencatat pertumbuhan sebesar 9,0% di seluruh segmen ritel menjadi Rp35,95 triliun dari Rp32,98 triliun, seiring dengan perbaikan daya beli masyarakat pada semester pertama 2022. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terus bertumbuh sebesar 8,5% menjadi Rp15,65 triliun dari Rp14,42 triliun, serta pembiayaan otomotif anak perusahaan yang juga tumbuh 10,8%.

Retail Small and Medium Enterprises (RSME) tumbuh 5,0% menjadi Rp12,65 triliun dari Rp12,04 triliun, didukung kondisi ekonomi yang membaik. Namun demikian, Kredit CFS Non-ritel turun 3,3%, oleh karena Bank mengambil langkah untuk melakukan rebalancing pada portofolio kredit non-ritel serta menerapkan kendali atas penyaluran kredit agar kredit yang disalurkan memberi manfaat bagi kelangsungan usaha, serta menjaga komitmen nasabah.

Simpanan nasabah tumbuh 3,9% menjadi Rp111,66 triliun dari Rp107,43 triliun pada periode tahun lalu. CASA tumbuh 22,3%, didukung Giro yang tumbuh 34,6% dan Tabungan sebesar 8,6%. Sementara, simpanan berjangka (time deposits) turun 9,3% menjadi Rp56,53 triliun dari Rp62,36 triliun. Hal ini selaras dengan strategi Bank untuk memperkuat likuiditas dengan mengoptimalkan simpanan berbiaya rendah, dan mengandalkan layanan perbankan digital untuk menghimpun simpanan nasabah. Alhasil, Rasio CASA terus membaik dan tercatat menguat menjadi 49,4% pada Juni 2022 dibandingkan 41,9% pada Juni 2021.

Menurut Taswin, perseroan tetap menerapkan langkah konservatif untuk memastikan kualitas aset tetap terjaga dengan mencadangkan provisi lebih awal di semua segmen bisnis, termasuk pembiayaan Syariah, serta dengan seksama memantau seluruh portofolio kredit Bank. Di tengah prospek ekonomi yang membaik, Bank mencatat penurunan beban provisi sebesar 32,6% menjadi Rp534 miliar didukung upaya Bank dalam melakukan restrukturisasi, khususnya pada kredit nasabah yang terdampak pandemi.

Sedangkan untuk rasio Non Performing Loan (NPL) konsolidasi juga tercatat membaik menjadi 3,5% (gross) dan 2,6% (net) pada Juni 2022 dari 4,4% (gross) dan 2,7% (net) pada Juni 2021, serta penurunan saldo NPL sebesar 12,5%. Bank terus menerapkan prinsip kehati-hatian serta menerapkan risk posture yang konservatif.

Di tengah kegiatan bisnis yang berangsur kembali ke normal, biaya overhead tetap terkendali menjadi Rp2,86 triliun. Bank akan tetap disiplin dalam menerapkan pengelolaan biaya secara berkelanjutan di seluruh organisasi dan di setiap kegiatan usahanya, agar setiap biaya yang dikeluarkan dapat meningkatkan pendapatan Bank.

Posisi likuiditas Bank tetap kuat dengan rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan to Deposit Ratio (LDR Bank saja) berada di posisi yang sehat pada level 84,0%. Sementara, Rasio Kewajiban Pemenuhan Kecukupan Likuiditas/Liquidity Coverage Ratio (LCR Bank saja) tercatat 165,3% pada Juni 2022, berada di atas tingkat minimum yang diwajibkan regulator yakni sebesar 100%.

Posisi permodalan Bank tetap kuat dengan Rasio Kecukupan Modal/Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat 25,9% pada Juni 2022 dibandingkan 26,3% di Juni 2021. Total modal Bank tercatat naik menjadi Rp28,21 triliun pada Juni 2022 dari Rp27,16 triliun pada Juni 2021.

“Kami bersyukur melihat pertumbuhan Bank yang kuat di tengah momentum pasar yang kembali bergairah pada semester pertama 2022. Selain itu, kami bangga terhadap kinerja kredit Bank yang telah bertumbuh di sebagian besar segmen. Kami akan terus menerapkan strategi dan inisiatif untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang pada portofolio kredit Bank,” ujar Taswin, dikutip 29 Juli 2022.

Menurutnya, menyikapi ketidakpastian yang disebabkan oleh keadaan geopolitik dan perkembangan pasar belakangan ini, perseroan akan terus menerapkan kehati-hatian dalam menjalankan bisnis Bank, serta mempersiapkan berbagai langkah preventif untuk menjaga kualitas aset serta risk posture yang diperlukan untuk menghadapi potensi ancaman global.

“Kami akan melanjutkan upaya untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola dalam setiap kegiatan bisnis kami, sejalan dengan misi, Humanising Financial Services,” ucapnya.

Group President dan Chief Executive Officer Maybank, Dato’ Khairussaleh Ramli menambahkan, di tengah tekanan pasar yang sedang berlangsung, Maybank Indonesia kembali mencetak kinerja positif yang membanggakan pada semester pertama 2022. Kinerja positif yang berhasil ditorehkan oleh Bank semakin mempertegas kemampuan Maybank Indonesia untuk dapat menangkap berbagai peluang bisnis.

Baca juga : Maybank Indonesia Bukukan Laba Kotor Rp562 Miliar di Kuartal I-2022

Dengan didukung fundamental yang kuat, dan manajemen risiko yang efektif, pihaknya meyakini Maybank Indonesia akan mampu menghadapi kondisi ekonomi yang menantang di kuartal selanjutnya.

“Merupakan suatu kehormatan untuk dapat kembali bergabung bersama Grup Maybank dan menjadi bagian dari Maybank Indonesia. Dengan pengalaman bersama Maybank Indonesia di masa lalu, saya berharap untuk dapat bekerjasama serta bersinergi dengan seluruh jajaran Bank dalam menjalankan strategi pertumbuhan jangka panjang untuk kesuksesan Maybank Indonesia di masa mendatang,” tutup Dato’ Khairussaleh Ramli. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]