Musim Semi Bank BUMN

Musim Semi Bank BUMN

Menjaga Harga, Mengendalikan Inflasi
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

 

Oleh Paul Sutaryono, Penulis adalah Staf Ahli Pusat Studi BUMN, pengamat perbankan & mantan Assistant Vice President BNI.

SEPANJANG 2021, empat bank badan usaha milik negara (BUMN) mampu meraih laba bersih Rp73,50 triliun. Bukan main! Kondisi itu bisa disebut sebagai musim semi bank BUMN di tengah gempuran COVID-19! Apakah musim semi itu akan terus berlangsung pada 2022?

Sebelum melangkah lebih jauh, kita cermati dulu kinerja bank umum. Menurut Siaran Pers Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan kredit bank umum (tidak termasuk bank umum syariah) makin subur 5,2% per Desember 2021 dibandingkan dengan per Desember 2020 sebesar 2,41%. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih subur 12,21%. Data itu merupakan sinyal bahwa sektor riil mulai bergerak lebih kencang. Kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross 3% membaik dari 3,06%.

Sejauh mana kinerja bank BUMN pada 2021? Bank pemerintah tetap mampu menorehkan kinerja unggul dengan meraih laba bersih yang membuat decak kagum kalangan bisnis. Secara kualitatif, Bank Negara Indonesia (BNI) menjadi juara dalam meraih laba bersih, yang melejit 232,2% menjadi Rp10,89 triliun. Kinerja gemerincing BNI itu disusul Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan kenaikan laba bersih 75,53% menjadi Rp32,21 triliun. Namun, secara kuantitatif, BRI menjadi pemimpin pasar (market leader) dalam pencapaian laba bersih.

Kemudian, Bank Mandiri menyusul dengan kenaikan laba bersih 66,86% menjadi Rp28,02 triliun. Terakhir, Bank Tabungan Negara (BTN) berhasil menaikkan perolehan laba bersih 48,30% menjadi Rp2,38 triliun per Desember 2021. Itulah sekilas kinerja cemerlang empat bank pemerintah di tengah sergapan COVID-19.

Lantas, apa saja tantangan dan peluang bank BUMN pada 2022? Apa saja langkah strategis untuk mengulangi musim semi pada 2022? Pertama, bank BUMN harus mampu melakukan tidak hanya adaptasi dan inovasi tapi juga transformasi digital. Bank pemerintah harus dapat melakukan ketiga formula itu untuk tetap bersaing dengan bank digital.

Meskipun rata-rata memiliki modal kecil, bank digital dapat mencuil pangsa pasar (market share) bank umum. Karena itu, investor atau bank asing makin lama akan makin melirik bank digital melalui merger dan akuisisi. Dengan bahasa lebih bening, modal bank kecil akan lebih besar lagi agar mampu bersaing dengan jitu. Bank digital yang diakuisisi akan menjadi alat perpanjangan bisnis investor asing dalam mereguk madu industri perbankan nasional.

Pada 2021, saham bank digital dan saham teknologi telah memberikan kontribusi tinggi bagi kinerja pasar modal yang kinclong. Bahkan, Bank Jago (ARTO) sebagai bank digital baru dengan modal kecil sudah mengungguli bank papan atas BNI (BBNI) dalam nilai kapitalisasi pasar (market cap) pada 2021 (lihat tabel). Bukan main! Inilah tantangan sejati bagi bank BUMN.

Kedua, selain sebagai pemimpin pasar, bank BUMN memiliki peran sentral sebagai agen pembangunan (agent of development). Artinya, bank BUMN mutlak harus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan penyaluran kredit untuk memulihkan ekonomi. Terlebih saat ini likuiditas bank BUMN sedang berlimpah. Hal itu ditengarai dengan permodalan yang mencapai 25,67% per Desember 2021. Ditambah lagi dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang akan menjadi faktor pendorong (push factor) utama dalam memulihkan ekonomi. Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp455,62 triliun pada 2022, turun dari Rp744,77 triliun pada 2021. Dana PEN untuk tiga klaster, yakni kesehatan Rp122,5 triliun, perlindungan masyarakat Rp154,8 trilliun, dan penguatan ekonomi Rp178,3 triliun.

Lalu, bagaimana peran bank BUMN? Bank BUMN wajib memperderas kucuran kredit ke sektor yang sanggup menyerap banyak tenaga kerja. Katakanlah ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena  segmen itu mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 100 juta orang, tepatnya 119,56 juta orang. Terlebih telah dibentuknya induk usaha (holding company) tiga BUMN Ultra Mikro: Pegadaian, Permodalan Nasional Madani (PNM), dan BRI sebagai induk usaha. Hal itu menjadi pendorong utama bagi BRI untuk makin fokus ke Ultra Mikro.

Ingatlah bahwa usaha mikro menjadi primadona karena mampu menyerap 109,84 juta orang (89,04%), jauh lebih tinggi daripada usaha kecil 5,93 juta orang (4,81%), usaha menengah 3,79 juta orang (3,07%), dan usaha besar 3,81 juta orang (3,08%). BRI sebagai pemimpin pasar UMKM bakal menikmati durian runtuh mengingat Ultra Mikro merupakan sumur rezeki nan gurih.

Ketiga, hendaknya kucuran kredit fokus ke sektor manufaktur, pertanian, dan perdagangan serta infrastruktur. Hingga November 2021, bank BUMN telah menyalurkan kredit ke sektor infrastruktur (sektor listrik, konstruksi, dan transportasi) Rp406,26 triliun. Alhasil, bank BUMN ikut menekan tingkat pengangguran.

Keempat, pemulihan ekonomi akan tercapai ketika didukung percepatan vaksinasi lengkap plus vaksin ketiga sebagai vaksin penguat (booster). Hal itu menjadi penting dan mendesak ketika kasus COVID-19 varian Omicron ternyata telah melebihi puncak kasus Delta pada Juli 2021. Percepatan vaksinasi bertujuan untuk mencapai kekebalan komunal (herd immunity). Dengan demikian, mobilitas masyarakat akan terus meningkat. Kondisi itu akan mendorong sektor riil untuk melaju lebih kencang.

Kelima, kini rasio kredit bermasalah (NPL) bank umum mencapai 3% per Desember 2021 membaik dari 3,6% per Desember 2020. Meski NPL masih di bawah ambang batas aman 5%, tapi itu berarti bank BUMN wajib memperbaiki kualitas kredit. Apalagi bank pemerintah melakukan restrukturisasi kredit paling besar dibandingkan dengan kelompok bank lainnya. Saat ini nilai outstanding restrukturisasi kredit mencapai nominal Rp693,6 triliun, menipis dari Rp830,5 triliun. Jumlah debitur restrukturisasi kredit juga membaik dari tertinggi 6,8 juta debitur menjadi 4,2 juta debitur. Jangan sampai ada debitur yang gagal dalam restrukturisasi kredit. Mengapa? Karena, kegagalan itu dapat menurunkan kolektibilitas kredit yang dapat mendorong kenaikan NPL.

Perbaikan NPL akan mengikuti bentuk pemulihan ekonomi. Ada beberapa pola pemulihan ekonomi pasca-COVID-19 menurut Szlezak, Reeves, dan Swartz (2020). Bentuk V: wabah menyebabkan ekonomi anjlok dengan pertumbuhan ekonomi menurun tajam dan pengangguran melonjak. Namun, dalam waktu singkat, ekonomi akan tumbuh kembali pada posisi sebelum krisis. Ketika pemulihan ekonomi berbentuk V, NPL akan membaik meski agak lambat. Makin cepat pemulihan ekonomi, makin cepat pula sektor riil akan bergairah kembali sehingga pengucuran kredit makin deras. Kenaikan NPL akan mengerek cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang dapat mengikis modal.

Keenam, tapi ketika cadangan tidak digunakan pada akhir tahun, maka cadangan itu dapat menambah laba tahun berjalan. Inilah salah satu faktor yang mampu mendorong kenaikan laba bersih bank BUMN. Kok bisa? Karena bank BUMN memiliki modal raksasa sehingga mereka mampu membuat cadangan begitu besar bahkan bisa melebihi 200%.

Ketujuh, untuk itu, bank BUMN wajib meningkatkan penerapan manajemen risiko. Hal itu bertujuan untuk mampu menepis potensi risiko kredit, operasional, pasar, dan likuiditas. Buahnya, NPL bisa ditekan lebih rendah.

Kedelapan, semoga derasnya kredit akan mengerem penempatan dana di surat berharga. Data OJK mencatat dana bank umum yang diparkir di surat berharga menebal 26,86% dari Rp1.465,62 triliun per November 2020 menjadi Rp1.859,25 triliun per November 2021. Wah! Aksi parkir itu akan menguntungkan bank tapi membebani Bank Indonesia (BI) karena menambah biaya moneter.

Kesembilan, BI telah menaikkan giro wajib minimum (GWM) rupiah untuk bank umum dari 3% dengan pemenuhan secara rata-rata dan 0,5% secara harian menjadi 6,5% secara bertahap. Inilah tahapannya. Efektif 1 Maret 2022 GWM naik menjadi 5%, 1 Juni 2022 menjadi 6%, dan 1 September 2022 menjadi 6,5%. GWM merupakan dana yang wajib dipelihara bank di BI dalam bentuk rekening giro dalam jumlah tertentu. Apakah kenaikan GWM itu akan menekan likuiditas bank BUMN? Taklah, karena likuiditas bank BUMN masih berlimpah.

Kesepuluh, tapi pemerintah harus menggeber program padat karya tunai (cash for work) dan padat karya desa. Langkah itu akan mengangkat konsumsi rumah tangga yang selama ini memberikan kontribusi paling tinggi terhadap PDB sekitar 54% disusul investasi dan ekspor.

Nah, ketika aneka langkah strategis demikian telah terpenuhi dengan baik, maka musim semi bank BUMN akan berulang untuk memulihkan ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]