Poin Penting
Jakarta – Mandiri Utama Finance (MUF) menutup tahun 2025 dengan kinerja yang tetap tumbuh positif meskipun industri multifinance dan otomotif menghadapi berbagai tantangan. Perusahaan pembiayaan yang merupakan anak usaha Bank Mandiri ini berhasil meningkatkan pembiayaan, aset, serta laba, sekaligus memperbaiki kualitas pembiayaannya.
Direktur merangkap Pelaksana Tugas Direktur Utama MUF, Dapot Parasian S. Sinaga, mengatakan bahwa 2025 bukan tahun yang mudah bagi industri pembiayaan. Tekanan ekonomi dan tantangan di lapangan cukup terasa, termasuk persoalan eksekusi jaminan fidusia yang semakin kompleks.
“2025 bukan tahun yang mudah bagi industri multifinance dan otomotif di Indonesia. Sangat challenging. Tapi kami bersyukur MUF tetap dapat tumbuh dan kualitas pembiayaan juga membaik secara signifikan,” ujar Dapot dalam acara Media Gathering Ramadhan MUF, Kamis (5/3).
Baca juga: Resmi, Bank Mandiri Tingkatkan Kepemilikan Saham Mandiri Utama Finance jadi 99,99 Persen
Sepanjang 2025, MUF membukukan penyaluran pembiayaan sebesar Rp24,1 triliun atau tumbuh 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Aset perusahaan juga meningkat dari Rp34 triliun pada 2024 menjadi Rp40 triliun di 2025 atau naik 17 persen. Sementara itu, laba perusahaan melonjak dari Rp300 miliar menjadi Rp400 miliar atau tumbuh sekitar 33 persen.
Perbaikan kinerja tersebut diikuti oleh peningkatan kualitas pembiayaan. Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) MUF turun dari 1,36 persen pada 2024 menjadi 1,3 persen pada 2025. Sementara itu, net credit loss juga berhasil ditekan dari 5 persen pada 2024 menjadi 4 persen pada 2025, dan pada awal 2026 kembali turun ke level sekitar 3 persen.
Menurut Dapot, salah satu kunci keberhasilan MUF adalah optimalisasi nasabah captive dari ekosistem perbankan. MUF memanfaatkan basis nasabah dari Bank Mandiri, Bank Syariah Indonesia (BSI), serta Permata Bank untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan yang lebih berkualitas.
“Di 2022 captive consumer kita masih di kisaran 20 persen. Pada 2025 sudah mencapai 51 persen. Dan ternyata nasabah captive yang bankable secara kualitas jauh lebih baik dibandingkan non-bankable,” jelasnya.
Strategi tersebut dinilai efektif menjaga kualitas portofolio pembiayaan sekaligus memperkuat pertumbuhan bisnis. Sebagai perusahaan pembiayaan yang baru berusia 11 tahun, MUF juga terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra perbankan guna memperluas basis nasabah dan memperkuat model bisnisnya.
Baca juga: Bank Mandiri Apresiasi Perpanjangan Penempatan Dana SAL hingga September 2026
Memasuki 2026, MUF akan melanjutkan strategi yang sudah berjalan dengan memperluas kerja sama dengan bank-bank lain, terutama dari kelompok bank KBMI 3. Selain itu, perusahaan juga menekankan penguatan kualitas sumber daya manusia sebagai pilar utama pertumbuhan bisnis.
“Di 2026 kami akan terus mengoptimalkan captive customer dan menambah partner bank, terutama dari bank KBMI 3. Bagi kami ini cara untuk tumbuh lebih sehat,” kata Dapot.
Dengan strategi itu, MUF menargetkan kinerja yang lebih baik pada tahun ini. Perusahaan ini membidik laba sekitar Rp500 miliar pada 2026, meskipun tantangan industri diperkirakan masih cukup berat.
“Target kami di 2026 adalah mencapai profit Rp500 miliar, walaupun memang tantangannya kemungkinan masih seberat tahun lalu,” pungkasnya. (*) Ari Nugroho
Poin Penting Celios menilai perjanjian ART RI–AS tidak setara dan lebih banyak merugikan Indonesia dibandingkan… Read More
Poin Penting Akulaku Finance menargetkan pembiayaan baru Rp8,2 triliun pada 2026, tumbuh 12 persen. NPF… Read More
Poin Penting Pegadaian mengintegrasikan Tabungan Emas dengan Jaringan PRIMA, sehingga top up kini bisa dilakukan… Read More
Poin Penting Akulaku Finance menyalurkan pembiayaan Rp7,44 triliun pada 2025, naik dari Rp6 triliun pada… Read More
Poin Penting Harga emas terus naik dalam jangka panjang, meski tetap mengalami fluktuasi jangka pendek.… Read More
Poin Penting Danantara Indonesia melakukan governance reset dengan mengevaluasi aset, kebijakan akuntansi, dan tata kelola… Read More