Ilustrasi papan layar pergerakan saham IHSG. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Posisi Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market) kembali diuji. Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara terbuka membuka kemungkinan reklasifikasi status pasar modal Indonesia menjadi frontier market. Ini seiring berlanjutnya kekhawatiran investor global terhadap transparansi kepemilikan saham dan kualitas data free float di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam pengumuman yang disampaikan Selasa (27/1), MSCI menegaskan masih menahan sejumlah penyesuaian indeks saham Indonesia.
Langkah ini diambil setelah menerima banyak masukan dari investor global yang menilai transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia belum cukup kuat untuk menopang penilaian kelayakan investasi secara konsisten.
Sebagian investor memang mendukung penggunaan laporan registrasi efek bulanan dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai acuan tambahan penghitungan free float.
Namun, MSCI mencatat keberatan signifikan terhadap penggunaan data klasifikasi pemegang saham versi KSEI yang dinilai belum sepenuhnya andal.
Baca juga: MSCI Guncang IHSG, Ini yang Bakal Dilakukan BEI
“MSCI menerima masukan bahwa data tersebut belum cukup mendukung penilaian free float dan investability secara berkelanjutan,” tulis MSCI dalam pernyataannya yang juga dirangkum oleh Kiwoom Research.
MSCI mengakui terdapat perbaikan minor pada data feed free float di BEI. Namun, perbaikan tersebut dinilai belum menyentuh persoalan mendasar, terutama terkait rendahnya transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran akan potensi perdagangan terkoordinasi yang berisiko mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar.
Berdasarkan penilaian tersebut, MSCI memutuskan menangguhkan seluruh perubahan terkait saham Indonesia pada periode rebalancing Februari 2026.
Dampaknya, bobot Foreign Inclusion Factor (FIF) saham Indonesia tetap, tidak ada saham Indonesia yang masuk ke MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak ada promosi saham dari kategori Small Cap ke Standard.
Menurut MSCI, kebijakan ini diambil untuk menekan index turnover dan risiko kelayakan investasi, sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar Indonesia untuk melakukan perbaikan yang lebih substansial.
“Jika tidak ada perubahan signifikan hingga Mei 2026, MSCI dapat menurunkan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes, dan membuka kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi frontier market,” tegas MSCI.
MSCI menambahkan, pihaknya akan terus memantau perkembangan pasar modal Indonesia dan melanjutkan konsultasi dengan pelaku pasar serta regulator terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca juga: MSCI Bikin IHSG Rontok Hampir 8 Persen, Begini Respons BEI
Efek keputusan MSCI sangat terasa pada perdagangan saham Indonesia. Pada perdagangan sesi II Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melorot hingga 8 persen. BEI pun mengambil sikap untuk menghentikan sementara perdagangan pada pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), Rabu, 28 Januari 2026.
Pelemahan IHSG tersebut imbas dari indeks global MSCI yang memutuskan membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia, menyusul kekhawatiran atas isu free float dan aksesibilitas pasar. (*)
Poin Penting ASBISINDO menilai perbankan syariah 2026 relatif stabil, namun penguatan fundamental bisnis menjadi tantangan… Read More
Poin Penting IHSG ditutup anjlok 7,35 persen ke level 8.320,55, dengan tekanan jual masif di… Read More
Poin Penting Thomas Djiwandono membantah ada pembahasan dengan Presiden Prabowo sebelum dicalonkan sebagai Deputi Gubernur… Read More
Poin Penting Bank Aceh Syariah memperoleh kuota KUR Rp1,5 triliun pada 2026 untuk memperkuat akses… Read More
Poin Penting DBS fasilitasi pembiayaan sindikasi USD 100 juta untuk mendukung ekspansi Zhongce Rubber Group… Read More
Poin Penting Komisi I DPR prihatin maraknya judol dan pinjol ilegal yang menjerat masyarakat kecil,… Read More