Poin Penting
Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang perdagangan sesi I hari ini, 28 Januari 2026.
IHSG hingga pukul 11.20 WIB terpantau telah mengalami pelemahan hingga 7,76 persen ke level 8.283,59, posisi tersebut telah mendekati batas trading halt sebanyak 8 persen.
Pelemahan IHSG itu dipicu oleh keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memberikan perlakuan sementara untuk pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan terkait indeks review, termasuk indeks review Februari 2026.
Baca juga: Keputusan MSCI Tekan IHSG, Analis Wanti-wanti Risiko Dana Asing Tertahan
Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, menegaskan pihaknya bersama dengan pemangku kepentingan akan terus berusaha untuk menindaklanjuti keputusan MSCI tersebut.
“Jadi pada hari ini intinya kita akan melakukan segala effort kerja sama dengan semua stakeholder untuk follow up hal-hal yang dipandang terkait dengan apa yang dilakukan oleh Indonesia. Tentu kita akan follow up sebetulnya ya,” ucap Nyoman di Jakarta, 28 Januari 2026.
Sebelumnya, BEI telah melakukan peningkatan keterbukaan dengan penyampaikan pengumuman data free float di website BEI.
Meski demikian, pihak MSCI menilai data tersebut belum cukup menggambarkan kepemilikan saham yang sebenernya. Oleh karenanya, BEI akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan.
Perlakuan sementara yang dilakukan MSCI, antara lain, pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan naik antar–indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Perlakuan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability), sembari memberi waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan perbaikan transparansi.
Baca juga: Outflow Investor Asing Tembus Rp1,65 Triliun, Saham-saham Berikut Terbanyak Dijual
Diketahui, pada Oktober 2025 MSCI mengumumkan tengah meminta masukan kepada para pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh KSEI sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten Indonesia.
MSCI menyebut bahwa berdasarkan hasil konsultasi dengan pelaku pasar, para investor menyoroti permasalahan fundamental terkait investability di pasar Indonesia masih dapat berlanjut.
Hal tersebut diakibatkan kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran atas kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu proses pembentukan harga yang wajar. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi (Pertalite dan solar) maksimal 50 liter per kendaraan… Read More
Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28% menjadi Rp3,36… Read More
Poin Penting Pemerintah melakukan efisiensi dan refocusing anggaran K/L untuk merespons dampak konflik Timur Tengah… Read More
Poin Penting Pemerintah mengurangi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5… Read More
Poin Penting Kontribusi segmen wholesale mencapai sekitar 64 persen dari total portofolio kredit 2025 dan… Read More
Poin Penting Kebijakan WFH berpotensi menghemat APBN sebesar Rp6,2 triliun dari kompensasi BBM, serta menekan… Read More