Moneter dan Fiskal

Moody’s Turunkan Outlook Indonesia, BI Tegaskan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Poin Penting

  • BI menilai penurunan outlook Moody’s tidak mencerminkan pelemahan ekonomi domestik. Stabilitas sistem keuangan (SSK) disebut masih sangat baik dan robust
  • Ekonomi 2025 tetap tumbuh di atas 5 persen, konsumsi dan investasi terjaga. Permodalan perbankan kuat (CAR 28 persen) dan NPL tetap di level aman.
  • Pada 2026, BI mempertahankan stance pro growth, menjaga stabilitas nilai tukar dan harga, serta menyiapkan kebijakan strategis untuk mendorong kredit dan stabilitas ekonomi.

Pontianak – Bank Indonesia (BI) menegaskan penurunan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat Moody’s tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi dalam negeri.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudential BI, Alexander Lubis, menyatakan, meski kinerja ekonomi global mengalami ketidakpastian dan penurunan, fundamental ekonomi Indonesia masih sangat kuat.

“BI memandang bahwa penyesuaian ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. Kondisi stabilitas sistem keuangan (SSK) masih sangat baik,” tegas Alex dalam Editors Briefing di Pontianak, Kalimantan Barat, Jum’at, 6 Februari 2026.

Baca juga: Moody’s Turunkan Outlook RI, Purbaya: Hanya Jangka Pendek

Ke depan, Alex melanjutkan, penyesuaian yang dilakukan Moody’s tidak mencerminkan kondisi yang terjadi stabilitas sistem keuangan yang sangat robust. Konsumsi rumah tangga dan investasi juga terjaga, di mana perekonomian tetap tumbuh di atas 5 persen pada 2025.

“Ini menjadi modal kita menghadapi volatilitas yang terjadi di global,” imbuhnya.

Fundamental sektor keuangan juga diklaim tetap solid. Rasio permodalan tercatat kuat di posisi 28 persen. Rasio kredit bermasalah (NPL) juga terjaga di batas aman.

Di 2026, BI tetap menjaga “stance” pro growth sambil tetap memantau perkembangan dan menyiapkan langkah-langkah strategis atau kebijakan untuk menjaga stabilitas perekonomian.

BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar dan harga, bila terjadi pembalikan arah sentimen global yang berimbas pada sektor keuangan dalam negeri.

Baca juga: Moody’s Pangkas Outlook RI, Danantara Bilang Begini

“Ke depan, kita akan tetap data dependent. Saat ini semua variable kita observasi. Kita amati Masih mengarah ke stance kita yang pro growth,” lanjutnya.

Adapun dari sisi financial cycle, BI menilai kinerja kredit memang masih di bawah tingkat optimal. Maka itu, perlu dilakukan dorongan lewat sejumah kebijakan strategis untuk terus menopang percepatan pertumbuhan kredit, yang pada akhirnya akan berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi.

Sebagai informasi, Moody’s menurunkan outlook ekonomi Indonesia dari stabil ke negatif pada 5 Februari 2026 kemarin. Meski begitu, Moody’s tetap mempertahankan rating Indonesia di level Baa2. (*) Ari Astriawan

Galih Pratama

Recent Posts

Bantah Terkait Dugaan Kasus Pidana Pasar Modal, Berikut Klarifikasi Lengkap BUVA

Poin Penting PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menegaskan tidak memiliki keterlibatan, baik langsung maupun… Read More

2 hours ago

Ekonomi RI Tumbuh 5,11 Persen, Celios: Dari Mana Sumber Pertumbuhannya?

Poin Penting Celios pertanyakan pertumbuhan PDB 5,11 persen dipertanyakan, pasalnya konsumsi rumah tangga & PMTB… Read More

2 hours ago

Purbaya Lantik 43 Pejabat Pajak dan DJA, Ini Daftar Lengkapnya

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melantik 40 pejabat eselon II di DJP dan… Read More

4 hours ago

Laba BCA Digital Melonjak 98 Persen Jadi Rp213,4 Miliar di 2025

Poin Penting BCA Digital raih laba Rp213,4 miliar, ditopang DPK Rp14,3 triliun (+22%) dan kredit… Read More

4 hours ago

OJK Targetkan Kredit Tumbuh 12 Persen di 2026, Begini Tanggapan Bankir

Poin Penting Pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan 10–12 persen, lebih tinggi dari target 2025 sebesar 9–11… Read More

5 hours ago

Premi ACA 2025 Tumbuh 17 Persen di Tengah Perlambatan Industri

Poin Penting ACA membukukan premi Rp6 triliun sepanjang 2025, tumbuh 17 persen yoy, jauh di… Read More

7 hours ago