Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto
Poin Penting
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan penyesuaian lembaga pemeringkat Moody’s menjadi outlook negatif ke Indonesia disebabkan oleh kurangnya penjelasan dari pemerintah terhadap mekanisme pembiayaan investasi.
Seperti diketahui, lembaga pemeringkat Moody’s mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2, namun melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif.
Airlangga menjelaskan, pembiayaan untuk investasi tahun ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya, yang biasanya dilakukan melalui BUMN atau APBN sekarang beralih ke Daya Anagata Nusantara (Danantara).
“Ada perbedaan di tahun ini karena investasi biasanya kan dibiayai oleh BUMN atau melalui APBN. Nah saat sekarang investasi dilakukan dengan Danantara,” kata Airlangga usai Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026, dikutip, Jumat, 6 Februari 2026.
Baca juga: Outlook Negatif dari Moody’s Jadi Alarm Keras untuk Kebijakan Prabowo
Airlangga menyatakan telah melakukan komunikasi dengan Danantara untuk memberikan penjelasan kepada para lembaga pemeringkat global terkait perubahan tersebut.
“Jadi saya sudah bicara dengan Danantara di mana mereka juga akan mempersiapkan langkah-langkah untuk menjelaskan kepada rating agency,” kata Airlangga.
Airlangga menjelaskan, Danantara menjaga tata kelola yang baik, dan merupakan bagian dari transformasi BUMN menjadi Sovereign Wealth Fund (SWF). Menurutnya, langkah ini merupakan best practice.
Dia juga memastikan, pemerintah akan tetap konsisten untuk menjaga defisit APBN tetap berada di level 3 persen dan posisi utang akan dijaga di level di bawah 40 persen.
“Kalau Moody’s kan dari segi ratingnya tetap investment grade. Hanya Moody’s bicara mengenai outlook. Outlook itu membutuhkan penjelasan. Karena pemerintah tetap konsisten bahwa budget defisit dipatok di 3 persen kemudian utang di bawah 40 persen,” imbuh Airlangga.
Adapun Moody’s Ratings mengubah prospek peringkat Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari stabil dan menegaskan peringkat penerbit jangka panjang mata uang lokal dan asing pada Baa2.
Baca juga: Outlook Negatif dari Moody’s Jadi Alarm Keras untuk Kebijakan Prabowo
Peringkat obligasi senior tanpa jaminan mata uang lokal dan asing ditegaskan pada Baa2 dan peringkat obligasi jangka menengah (MTN) senior tanpa jaminan mata uang asing serta peringkat program penerbitan obligasi senior tanpa jaminan juga ditegaskan pada (P)Baa2.
Menurut Moody’s, perubahan prospek ini didorong oleh berkurangnya prediktabilitas dalam pembuatan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dan menunjukkan melemahnya tata kelola.
Jika berlanjut, tren ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama mapan, yang telah mendukung pertumbuhan ekonomi yang solid dan stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Bank Aladin Syariah bersama Alfamart menyalurkan 60.000 paket makanan di 34 kota dan… Read More
Poin Penting Grab menyebut separuh mitra ojolnya merupakan mantan korban PHK, menunjukkan peran platform sebagai… Read More
Poin Penting OJK menilai penurunan kinerja bank Himbara bersifat siklikal akibat faktor global dan pelemahan… Read More
Poin Penting Tugu Insurance menjalankan program Tugu Green Journey dengan mendaur ulang 1,7 ton limbah… Read More
Poin Penting Kemnaker masih menyelidiki dugaan PHK sekitar 400 pekerja PT Karunia Alam Segar, produsen… Read More
Poin Penting CIMB Niaga mencatat laba bersih Rp6,93 triliun pada 2025, tumbuh tipis 0,53% secara… Read More