Teknologi

Modernisasi Core Banking System Jadi Kunci Mendorong Pertumbuhan Bisnis Perbankan

Poin Penting

  • Modernisasi core banking system menjadi kebutuhan strategis bagi bank untuk mengikuti perkembangan digital banking yang kian pesat
  • Core banking modern berbasis cloud dan API mengurangi ketergantungan pada vendor, memungkinkan transaksi real-time tanpa downtime
  • Tantangan biaya investasi awal dapat diatasi melalui skema single subscription price, yang membantu bank merencanakan anggaran tanpa beban biaya infrastruktur dan risiko hidden cost.

Jakarta – Modernisasi core banking system bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi industri perbankan untuk bertahan dan adaptif di lanskap keuangan yang didominasi oleh teknologi digital.

“Artinya kalau punya core system yang modern, fleksibel dan mudah diintegrasikan akan sangat mendukung proses pertumbuhan bisnis perbankan,” kata Adhi Prayogo, Regional Solution Consulting Head Oradian dalam acara Executive Banking Forum: Infobank Executive Lunch 2025, di Jakarta, Rabu, 19 November 2025.

Namun dalam praktiknya, banyak bank perlu melakukan upgrade core banking lantaran sistem lama tak mampu mengikuti kebutuhan digital banking yang tumbuh pesat, dengan prediksi mencapai 4,2 miliar pengguna pada 2026.

Dengan modernisasi core banking system, lanjut Adi, akan banyak perubahan yang dirasakan pihak perbankan. Sebab, di era cloud ready ini setiap bank tak perlu memikirkan masalah infrastruktur dan platform karena cloud modern sudah menawarkan fleksibilitas tinggi.

Baca juga : Telkomsigma Kenalkan Digitalisasi Mikro Banking Berbasis AI untuk BPR dan Koperasi

“Di mana mengurangi ketergantungan bank terhadap vendor, semisal kalau ada perubahan seperti ingin meluncurkan produk baru jadi bisa mempercepat time to market sehingga dalam penyesuaian sistem tak perlu lagi proses yang lama,” jelasnya. 

Adhi melanjutkan, modernisasi core banking system juga akan melepas ketergantungan kepada vendor dari sisi produk, sehingga bank bisa melakukan konfigurasi sendiri dengan fleksibel.

“Tak kalah penting, menawarkan kemudahan integrasi dengan core modern berbasis API (Application Programming Interface). API merupakan metode integrasi populer saat ini untuk semua sistem modern,” jelas Adhi.  

Menurut Adhi, teknologi tersebut memungkinkan integrasi cepat, transaksi real-time tanpa downtime, dan waktu implementasi jauh lebih cepat dalam hitungan minggu atau bulan.

“Di mana, kalau semuanya sudah dapat di-expose dan berintegrasi dengan API akan memudahkan sekali untuk bisa berpartner maupun bekerja  sama dengan institusi-institusi digital semacam e-commerce maupun channel digital yang lain,” bebernya.

“Alhasil, bisa membangun perubahan bisnis dari sisi sharing economy atau ekosistem based banking karena memudahkan integrasi ke sistem eksternal maupun internal,” tambahnya.

Kemudahan Penarikan Data Real Time

Lebih jauh Adhi menjelaskan, modernisasi core banking system juga memudahkan penarikan data, pelaporan secara real time, akuntasi keuangan secara real time sehingga bisa mendapatkan data dengan mudah untuk mengelola report internal maupun eksternal. 

Baca juga : Modernisasi Core Banking Dorong Perbankan Lebih Gesit dan Fleksibel

“Dan juga sistem tersebut juga sudah dapat mencatat historical data dan juga di mana data-data dengan mudah dapat ditarik secara real-time untuk diolah,” bebernya.

Ia menekankan, modernisasi core banking system menjadi salah satu kunci untuk mendukung pertumbuhan bisnis serta mendukung inovasi-inovasi baru perusahaan.

Tantangan Core Banking System

Penerapan modernisasi core banking system di industri perbankan kerap dihadapkan dengan sejumlah tantangan. Salah satunya, dari sisi biaya investasi awal yang tinggi untuk mengganti sistem lama.

Namun, kata Adhi, kendala biaya tersebut masih bisa disiasati. Sebab, pihaknya menawarkan single subscription price tanpa memikirkan biaya lainnya seperti biaya server dan biaya database.

“Karena kalau dengan penawaran kami berupa single subscription price akan memudahkan partner yang bekerja sama dengan kami untuk merencanakan budgeting maupun menghindarkan dari hidden cost,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Pemerintah Belum Siapkan Perppu Defisit APBN, Menkeu Purbaya: Anggaran Masih Aman

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah belum berencana menerbitkan Perppu untuk menaikkan… Read More

3 hours ago

Gara-Gara Menu Kelapa Utuh, Operasional 9 Dapur MBG di Gresik Disetop

Poin Penting BGN menghentikan sementara 9 dapur Program Makan Bergizi Gratis di Gresik karena polemik… Read More

3 hours ago

Belum Mampu Rebound, IHSG Ditutup Parkir di Zona Merah ke Posisi 7.022

Poin Penting IHSG ditutup melemah 1,61 persen ke level 7.022,28 pada perdagangan Senin (16/3/2026). Sebanyak… Read More

3 hours ago

Konflik Iran-AS-Israel Dorong Harga Minyak, Defisit APBN Berpotensi Melebar

Poin Penting Konflik Iran–AS–Israel memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas USD100 per barel.… Read More

4 hours ago

Demutualisasi Bursa Efek dan Manajemen Risiko

Oleh Paul Sutaryono KINI pemerintah sedang menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang demutualisasi bursa efek.… Read More

4 hours ago

Cara Amartha Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Desa

Poin Penting Amartha meluncurkan Amartha Empower, portal donasi, zakat, dan sedekah untuk memperluas pemberdayaan ekonomi… Read More

4 hours ago