Nasional

Minta Nasihat Ray Dalio, Prabowo Bahas Masa Depan Danantara

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan miliarder asal Amerika Serikat (AS), Raymond Thomas Dalio terkait pembentukan Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia yang baru saja diluncurkan yakni Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. 

Lantas, nasihat apa saja yang diberikan Ray Dalio kepada Prabowo? 

Di hadapan Prabowo, Ray Dalio mengungkapkan, Indonesia berpeluang menjadi negara maju karena memiliki potensi transformasi yang kuat.

“Bahan-bahan tersebut mencakup tingkat utang yang relatif rendah, kemampuan untuk memiliki modal yang dapat diinvestasikan untuk menciptakan titik lepas landas (perekonomian),” kata Ray di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip VOA Indonesia, Selasa, 11 Maret 2025.

Ia menilai, BPI Danantara yang digadang-gadang akan mengelola aset BUMN hingga Rp14.000 triliun itu bisa menjadi salah satu modal utama bagi Indonesia untuk bisa menjadi negara maju. 

Baca juga : Ada Danantara, OJK Pastikan Tetap Awasi Bank BUMN

“Karena begitu ada pembentukan modal dengan potensi tinggi ini, Anda akan mendapatkan titik lepas landas yang terjadi berulang kali di berbagai negara,” jelasnya.

Meski begitu, sejalan dengan adanya potensi besar, selalu ada kendala yang harus diatasi. Ray menyebut ada lima tantangan yang harus diselesaikan oleh Indonesia jika ingin menjadi negara maju.

Antara lain hambatan birokrasi, kesulitan mendirikan usaha, tingkat kewirausahaan, pembentukan permodalan dan korupsi.

“Melalui pengalaman saya, saya mempunyai pengalaman di dunia nyata di negara-negara ini, seperti China, Singapura, dan sejumlah negara lain, di mana saya melihat bagaimana transisi tersebut terjadi,” tuturnya.

Diakuinya untuk melakukan berbagai transformasi menuju negara maju tidaklah mudah. Namun, Ray meyakini Prabowo merupakan sosok yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Alasan Prabowo Meminta Nasihat Ray Dalio

Sementara itu, Presiden Prabowo menjelaskan bahwa ia membutuhkan pandangan kritis dari Ray Dalio dalam pembentukan BPI Danantara.

Menurutnya, Ray Dalio adalah seorang pengusaha dan investor global yang memiliki pengalaman luas dalam pembentukan SWF di berbagai negara.

“Anda (Ray Dalio) seorang pemain yang sangat berpengalaman dalam ekonomi global, banyak pengalaman di Asia, di Timur Tengah, di dunia, dan kami sangat beruntung memiliki Anda sebagai teman dan kami ingin selalu berinteraksi dengan Anda, mendengar dari Anda, pengalaman Anda. Saya pikir Anda berada di posisi yang bisa berbicara dengan kami secara terbuka dan terkadang secara kritis. Saya pikir kita membutuhkan nasihat kritis,” ungkap Prabowo.

Baca juga : Menyoal Tata Kelola Danantara, Kekuatan Besar Masih di Tangan Kementerian BUMN

Selain meminta masukan dari Ray Dalio, Prabowo juga turut mengundang berbagai pihak untuk berdiskusi secara terbuka mengenai pengelolaan Danantara.

Masukan Ray Dalio untuk Danantara

Kepala BPI Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani mengatakan, diskusi yang terjadi dengan Ray Dalio berlangsung produktif dan memberikan wawasan baru terkait pengelolaan Sovereign Wealth Fund(SWF) Indonesia.

Ray Dalio, ujar Rosan, sebelumnya telah berkontribusi dalam pengembangan SWF di berbagai negara seperti Temasek (Singapura), Public Investment Fund (PIV) di Arab Saudi, hingga SWF di Persatuan Emirat Arab (PEA). Masukan dari Dalio diharapkan dapat membantu Danantara berkembang sesuai dengan tujuannya.

“Input dan masukan dari Ray Dalio ini kepada kami sangat-sangat baik, sangat-sangat bagus masukan-masukannya sehingga ke depannya ini peran dari Danantara bisa berjalan sesuai dengan amanahnya,” ujar Rosan.

Dalam diskusi tersebut, Ray Dalio juga membagikan pengalamannya dalam mengelola investasi di berbagai SWF dunia. Pembicaraan mencakup perbandingan model SWF dari berbagai negara seperti China dan Uni Emirat Arab (UAE), guna mengadopsi strategi yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

“Jadi bentuk kerja sama seperti apa, kemudian insentifnya seperti apa, bidang-bidangnya seperti apa. Jadi pembicaraannya tadi cukup dan kita juga terbuka karena kita kan benchmarkingatau melakukan perbandingan dengan negara-negara lain SWF-nya. Nah, ini kita terbuka juga kita bisa mengadopsi dan tentunya kita sesuaikan dengan kondisi yang ada di Indonesia,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

RUPST OCBC Sepakat Tebar Dividen Rp1,03 Triliun dan Buyback 438 Ribu Saham

Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More

1 hour ago

Konflik AS-Iran Tekan Biaya Logistik, ALFI Minta Regulasi KBLI Dievaluasi

Poin Penting ALFI mendesak pemerintah melakukan harmonisasi regulasi KBLI 2025 karena dinilai memicu inefisiensi dan… Read More

2 hours ago

Bos BTN Laporkan Penurunan NPL Konstruksi di Bawah 10 Persen

Poin Penting NPL konstruksi BTN menurun ke bawah 10%, dari sebelumnya sekitar 26%, dengan target… Read More

3 hours ago

IHSG Berbalik Ditutup Menguat 0,39 Persen, Mayoritas Sektor Hijau

Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,39% ke level 7.307,58 pada perdagangan 9 April 2026. Mayoritas… Read More

3 hours ago

Purbaya Ungkap Pengadaan Motor Listrik untuk SPPG Sempat Lolos Meski Ditolak

Poin Penting Menkeu Purbaya akui miskomunikasi, sebagian pengadaan motor listrik untuk SPPG ternyata sempat disetujui.… Read More

3 hours ago

Tak Perlu Ribet Tukar Uang, Belanja di Korea Selatan Kini Cukup Scan QR Livin’ by Mandiri

Poin Penting Livin’ by Mandiri hadirkan QR antarnegara di Korea Selatan, memungkinkan transaksi QRIS tanpa… Read More

4 hours ago