Keuangan

Meroket 33 Persen, Pendapatan Premi Asuransi ACA Tembus Rp3,64 Triliun

Jakarta — Asuransi umum dalam holding BCA Group, PT Asuransi Central Asia (ACA) membukukan pendapatan premi Rp3,64 triliun hingga November 2023. Pendapatan premi tersebut naik 33,3% dibandingkan posisi yang sama di tahun lalu, yakni Rp2,73 triliun.

Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan dikutip 4 Januari 2024 menunjukkan, pendapatan di lini premi ACA didongkrak dari bertambahnya jumlah premi bruto Rp3,28 triliun, atau naik 35,5% dari tahun sebelumnya Rp2,42 triliun. Adapun, jumlah beban klaim bruto di periode November 2023 mencapai Rp1,13 triliun.

Baca juga: 5 Tantangan yang Akan Dihadapi Industri Asuransi di 2024

Sementara itu, sampai 31 November 2023, total laba komprehensif yang dicetak ACA senilai Rp534,45 miliar di November 2023. Laba yang diperoleh ACA naik tipis jika dibandingkan posisi 31 November 2022, yakni Rp529,29 miliar.

Sementara itu, laba setelah pajak ACA turun menjadi Rp461,77 miliar dari capaian November 2022 sebesar Rp500,06 miliar.

Jika mengacu pada kinerjanya tersebut, melandainya perolehan laba ini tampaknya disebabkan naiknya beban usaha perusahaan menjadi Rp539,32 miliar dari periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp471,09 miliar.

Jika dilihat dari pos lainnya, pendapatan underwriting ACA meroket 19,8% yoy. Nilainya naik dari Rp1,11 triliun pada 31 November 2022 menjadi Rp1,33 triliun pada 31 Desember 2023. Namun, beban underwriting perseroan turut naik 34,7% menjadi Rp623,06 miliar dari yang sebelumnya Rp462,41 miliar.

Total aset perseroan pun ikut tumbuh 7,53% yoy menjadi Rp13,5 triliun. Jika dibandingkan dengan posisi 2022, aset perusahaan bernilai Rp12,6 triliun.

Baca juga: Banyak Agen Asuransi Nakal, Siap-Siap! Bakal di Blacklist

Beranjak ke indikator kesehatan keuangan, ACA mencatatkan rasio tingkat solvabilitas (risk-based capital/RBC) berada di level sangat baik mencapai 400,55% pada November 2023. Kondisi itu jauh melampaui kewajiban RBC yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 120%.

Jumlah utang yang ditanggung perusahaan turun 3,12% yoy menjadi Rp1,55 triliun, sedangkan jumlah liabilitas turun 16% yoy menjadi Rp12,49 triliun. (*) Ranu Arasyki Lubis

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

2 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

3 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

4 hours ago

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

8 hours ago

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

16 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

17 hours ago