Ilustrasi: Kantor pusat Bank Lampung. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Laba bersih Bank Lampung sepanjang 2025 benar-benar mencuri perhatian. Bank daerah ini mencatat laba bersih Rp205,31 miliar, melonjak hampir dua kali lipat atau tumbuh 99,03 persen dibandingkan 2024 (yoy) yang sebesar Rp103,15 miliar.
Lonjakan laba ini jadi sinyal kuat bahwa mesin bisnis Bank Lampung sedang bekerja jauh lebih rapi, efisien, dan terarah, di tengah tantangan industri perbankan yang makin kompetitif.
Berdasarkan laporan keuangan publikasi, dikutip Jumat (13/2), kinerja laba Bank Lampung yang melesat ini menarik karena terjadi di saat pendapatan bunga relatif stagnan. Pendapatan bunga hanya naik tipis 0,07 persen menjadi Rp1,017 triliun.
Tapi kunci ceritanya ada pada sisi beban bunga yang turun tajam 19,79 persen menjadi Rp375,72 miliar. Penurunan biaya dana ini memberi ruang napas besar bagi profitabilitas, sekaligus mencerminkan strategi pendanaan yang jauh lebih cerdas.
Dengan beban bunga yang lebih ringan, pendapatan bunga bersih (NII) memang sedikit terkoreksi 1,21 persen menjadi Rp541,6 miliar. Meski demikian, kualitas margin justru membaik. Hal ini tercermin dari net interest margin (NIM) yang naik signifikan dari 5,49 persen menjadi 6,36 persen.
Baca juga: OJK Dorong KUB BPD Tingkatkan Kredit UMKM dan Ekonomi Daerah
NIM yang meningkat menunjukkan bank ini mampu mengelola aktiva produktifnya dengan lebih efektif, meski volume pendapatan bunga tidak tumbuh agresif.
Efisiensi makin terasa ketika melihat beban operasional lainnya yang turun 9,05 persen menjadi Rp360,99 miliar. Dampaknya langsung terasa pada rasio BOPO yang meluncur dari 87,47 persen ke 76,84 persen. Angka ini jauh di bawah batas ideal 85 persen, menandakan Bank Lampung semakin gesit dan efisien dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Efisiensi inilah yang menjadi bantalan utama lonjakan laba tahun ini.
Dari sisi intermediasi, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh solid 8,82 persen menjadi Rp8,29 triliun. Yang patut diapresiasi adalah kualitas pertumbuhannya, karena dana murah melonjak 21,85 persen menjadi Rp3,71 triliun. Pertumbuhan giro yang melesat 56,88 persen menjadi Rp1,78 triliun mendorong rasio dana murah terhadap DPK naik dari 39,94 persen menjadi 44,72 persen. Struktur pendanaan yang makin murah ini jelas membantu menekan beban bunga.
Di sisi lain penyaluran kredit juga tetap tumbuh sehat sebesar 4,32 persen menjadi Rp7,52 triliun. Yang lebih penting, kualitas kredit terjaga dengan baik. NPL Gross turun dari 2,82 persen menjadi 2,69 persen, jauh di bawah ambang batas aman regulator sebesar 5 persen. Ini menunjukkan fungsi intermediasi Bank Lampung tak hanya tumbuh, tapi juga dijalankan dengan prinsip kehati-hatian yang konsisten.
Dari sisi neraca, total aset Bank Lampung naik 9,72 persen menjadi Rp11,48 triliun. Pertumbuhan aset ini sejalan dengan ekspansi kredit dan penguatan likuiditas, sehingga mencerminkan ekspansi bisnis yang terukur dan tidak agresif berlebihan. Skala usaha yang makin besar memberi ruang lebih luas bagi bank ini untuk mengoptimalkan pendapatan ke depan.
Kesehatan permodalan juga berada di level yang sangat aman. Modal inti tumbuh 16,10 persen menjadi Rp1,56 triliun, mendorong rasio kecukupan modal (CAR) naik ke level 30,03 persen. Semakin tinggi CAR, semakin kuat daya tahan bank terhadap risiko, sekaligus memberi fleksibilitas untuk ekspansi bisnis yang lebih berani tapi tetap prudent.
Rasio profitabilitas Bank Lampung ikut melonjak tajam. ROA naik dari 1,25 persen menjadi 2,48 persen, menandakan bank ini semakin efisien dalam memanfaatkan aset untuk menghasilkan laba. ROE juga melonjak dari 7,98 persen menjadi 14,79 persen, mencerminkan kemampuan manajemen dalam mengelola modal secara jauh lebih optimal. Ini menegaskan bahwa lonjakan laba Bank Lampung bukan kebetulan, melainkan hasil perbaikan fundamental.
Baca juga: Agus Fitrawan Bankir BPD Divonis Bebas, Majelis Hakim Nilai Sengketa Kredit Ranah Perdata
Lebih jauh, likuiditas dan efisiensi biaya Bank Lampung pun terkendali. LDR berada di 90,75 persen, masih dalam rentang ideal 78-92 persen, menandakan penyaluran kredit berjalan agresif tapi tetap aman.
Sementara cost to income ratio (CIR) turun signifikan dari 62,87 persen menjadi 53,69 persen. Meski masih sedikit di atas ideal 50 persen, tren penurunan ini menunjukkan arah perbaikan yang jelas dalam manajemen biaya.
Di bawah kepemimpinan Indra Merviana selaku Direktur Operasional merangkap pejabat sementara Direktur Utama, Bank Lampung layak mendapat apresiasi atas transformasi efisiensi yang sukses menopang lonjakan laba dan membuka jalan pertumbuhan berkelanjutan ke depan. (*) Ari Nugroho
Poin Penting Pemerintah mulai membangun desa nelayan dengan target 1.000 desa tahun ini dan 5.000… Read More
Poin Penting Tabungan emas milik UUS OCBC NISP melonjak tajam, nasabah naik 223% dan gramasi… Read More
Poin Penting Bank BPD Bali gandeng Kejaksaan Tinggi Bali lewat FGD untuk memperkuat tata kelola… Read More
Poin Penting Program MBG telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat dan mendistribusikan sekitar… Read More
Poin Penting DPK OCBC Syariah naik 27% menjadi Rp10,9 triliun, sementara aset meningkat 20% menjadi… Read More
Poin Penting Target ekspor tekstil naik 10 kali lipat dalam 10 tahun, didorong oleh perluasan… Read More