Analisis

Menteri dari Partai Lebih Besar di Bandingkan Sebelumnya: Nama Rini dan Susi Hilang

Oleh: Mikail Arkana Mo
Pengamat The Asian Economic and Capital Market Institute

Akhirnya drama dua hari para Menteri Kabinet Jokowi-Amin usai. Komposisi dari unsur partai politik 15 orang (43%) dan dari non partai 20 orang (57%). Jika dibandingkan periode pertama, periode kedua unsur partainya lebih besar. Periode pertama unsur partai 13 orang dan 21 orang (38%) dan non partai 21 orang (62%). Disamping itu, Jokowi hanya menyisakan 14 nama dari Kabinet sebelumnya. Nama-nama populer seperti Susi Pudjiastuti dan Rini Soemarno hilang.

Pembentukan kabinet ini juga menggambarkan koalisi besar dengan menguasai 74,2% dari 575 kursi DPR setelah masuknya Gerinda di pemerintahan. Jika dibandingkan dengan Pemerintahan SBY tahun 2009-2014 lalu, Koalisi Jokowi dapat dikatakan hampir sama. Waktu era SBY tahun 2009-2014 (75,5%) kursi DPR.

Pengalaman pemerintahan SBY, koalisi gemuk ini ternyata rasa oposisi. Duduk di pemerintahan dapat kursi, tapi tetap oposisi dalam kasus tertentu. Contoh paling segar dalam ingatan, politisasi kasus penyehatan Bank Century. Kasus Bank Century murni politik dan bukan sebuah skandal yang digembar-gemborkan oleh anggota DPR. Selama lima tahun “Drama Bank Century” diputar.

Koalisasi gemuk ini, bisa jadi akan mempersulit gerak, tapi bisa jadi akan efektif dalam menjalankan roda pemerintahan. Penguasaan kursi DPR dan pemerintahan akan memudahkan dalam mengambil keputusan.

Periode kedua atau periode terakhir ini dimana Jokowi sudah tidak bisa dicalonkan lagi, harusnya bisa lebih mudah. Namun pengalaman, partai-partai tentu tidak tinggal diam untuk “mengelus-elus” jagonya. Bisa saja efektifitas Kabinet Kerja II ini hanya akan memikirkan siapa calon 2024. Menteri-menteri dari partai akan sulit dikendalikan, tapi melihat masuknya Gerinda, bisa jadi PDI-P dan Gerinda akan sepakat mencalonkan jagonya di tahun 2024.

Sementara dari nama-nama yang dipanggil selama dua hari ini, Jokowi masih menyisakan 14 nama dari kabinet sebelumnya. Seperti, Sri Mulyani Indrawati, Basuki Hadimulyo, Budi Karya Sumadi, Bambang Brodnonegoro, Luhut Binsar Panjaitan, Tjahno Kumolo, Sofyan Djalil, Yasona H Laoly, Airlangga, Siti Nurbaya, Pratikno, Teten Masduki dan Moeldoko.

Sejumlah nama-nama populer hilang dari Kabinet Kerja II, seperti Susi Pudjiastuti, Rini Soemarno, Darmin Nasution.

Nama-nama baru muncul, seperti Nadiem Makarim yang merupakan menteri paling muda (35) dan Fachrul Razi (72) menteri paling tua seperti Luhut Binsar Panjaitan.

Hilangnya Menteri Rini Soemarno, dalam jajaran Menteri tentu akan berdampak pada kocok ulang direksi dan komisaris BUMN.

Sejumlah direksi BUMN sekarang dag-dig-dug, apalagi direksi yang merupakan “kroni-kroni” Rini Soemarno. Pemilihan direksi BUMN yang dinilai tidak didasarkan oleh pertimbangan kinerja dan lebih mementingkan unsur psikologis atau like and dislike. Pekerjaan rumah pengganti Rini tidak ringan, seperti utang besar Krakatau Steel, Jiwasraya dan gagalnya holdingisasi perkebunan dan penempatan direksi yang tak punya visi. Seperti, ada direksi yang belum setahun pindah di tiga BUMN. Juga, ada direksi yang keluar masuk dan pergantian nomenklatur yang tak jelas dan terencana

Hilangnya Menteri Rini dan Susi

Akhirnya Jokowi menjawab, ternyata Rini Soemarno yang digambarkan sangat kuat karena tetap dipertahankan meski DPR selama 5 tahun menolaknya dan lebih dari itu Istana bilang apa Rini melakukan apa sehingga Rini Soemarno dinilai publik sebagai orang kuat. Contoh paling akhir, Istana jangan bilang rombak direksi BUMN, eh Rini Soemarno tetap merombak dan tentu dengan alasan yang dibuat sendiri untuk meyakinkan Presiden Jokowi.

Meski Kabinet II ini unsur partai sedikit lebih dominan tentu Jokowi diharapkan tidak didekte oleh partai partai yang sedang menyiapkan calon Presiden 2024.

Selamat berkerja semoga tim ekonomi dapat mendorong ekonomi yang lebih berkeadilan dan mampu menciptakan lapangan kerja.

Tantangan tidak ringan, penurunan perdagangan global, disruption, dan digital ekonomi serta geopolitik yang terus berubah.

Waktunya bekerja, setelah lebih setahun tidak bekerja karena kampanye dan paska pilpres yang panjang dan melelahkan.

Dwitya Putra

Recent Posts

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

3 hours ago

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

9 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

9 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

10 hours ago

Dorong Inklusi Investasi Saham, OCBC Sekuritas dan Makmur Sepakati Kerja Sama Strategis

Poin Penting OCBC Sekuritas bermitra dengan Makmur untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur… Read More

11 hours ago

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

14 hours ago