Moneter dan Fiskal

Menko Darmin: Maret-April Bisa Terjadi Deflasi Lagi

Jakarta – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mengalami deflasi sebesar 0,08 persen pada Februari 2019 biasa terjadi diawal tahun. Bahkan, Maret dan April 2019 diperkirakan juga bakal mengalami deflasi.

Menurutnya, turunnya harga bahan makanan pada Februari 2019 menjadi pemicu terjadinya deflasi sebesar 0,08 persen. Deflasi yang terjadi di Februari, kaya dia, merupakan bukti bahwa pemerintah menjaga kestabilan harga bahan pokok, kendati masih ada beberapa bahan makanan yang mengalami kenaikan.

“Terjadi deflasi ini sebenarnya yaa memang bukan jarang, itu biasa terjadi. Dan itu bisa terjadi pada bulan-bulan Maret atau April,” ujar Darmin di Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019.

Dia mengungkapkan, pada bulan-bulan sebelumnya  yakni Desember 2018 dan Januari 2019 harga bahan pangan seperti daging ayam dan telur cukup tinggi sehingga terjadi inflasi di bulan tersebut. Namun di bulan selanjutnya, harga-harga mulai turun dan terkendali, sehingga mendorong deflasi.

“Telur ayam sama daging ayam, sama bumbu-bumbuan itu deflasinya kira-kira 2,5 persen. Jadi sumber deflasinya paling besar di situ, walaupun sebenarnya kelompok-kelompok lain banyak yang harganya turun tapi belum minus dia, masih plus,” ucap Darmin.

Selain daging ayam dan telur ayam, bahan makanan yang memicu terjadinya deflasi juga bersumber dari cabai dan bawang yang harganya mulai stabil lantaran musim panen sudah mulai datang. Sehingga yang tadinya harganya tinggi di akhir tahun, namun di akhir Februari-April mulai turun harganya.

“Bahan makanan itu deflasinya 1,11 persen. Kenapa cabai dan bawang ya lagi-lagi panennya itu baru mulai sekarang. Sehingga yang tadinya dia agak naik di akhir tahun, mulai turun,” paparnya.

Menurut BPS, deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan sebesar 1,11 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,31 persen.

Kemudian, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,25 persen; kelompok sandang sebesar 0,27 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,36 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,11 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Rupiah Babak Belur, Misbakhun Kritik Kebijakan BI yang Konvensional

Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai BI masih menggunakan pendekatan konvensional… Read More

11 mins ago

Bank Mandiri Mau Gelar RUPST 29 April 2026, Simak Agenda Lengkapnya

Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More

50 mins ago

Siap-Siap! Bea Cukai Buka 300 Formasi CPNS Lulusan SMA Bulan Depan

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More

1 hour ago

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Begini Respons BI

Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More

2 hours ago

CIMB Perluas Segmen Affluent ASEAN Sejalan Strategi Forward30

Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More

3 hours ago

Cinema XXI (CNMA) Tebar Dividen Jumbo Rp980 Miliar, Ini Jadwal Pembayarannya

Poin Penting CNMA membagikan dividen Rp12 per saham, termasuk dividen interim Rp5 per saham. Pembayaran… Read More

3 hours ago