Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di sela acara Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) bertajuk Road to Jakarta Food Security Summit 6, Selasa, 13 Januari 2026. (Foto: Mohammad Adrianto Sukarso)
Poin Penting
Jakarta – Pemerintah terus mematangkan rencana peningkatan mandatori pencampuran biodiesel berbasis kelapa sawit (FAME) ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dari B40 menjadi B50. Meski demikian, pada 2026 penggunaan BBM solar masih mengacu pada B40.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, Presiden Prabowo Subianto saat ini masih mengarahkan penggunaan BBM solar B40, sembari pemerintah melanjutkan kajian menuju implementasi B50.
“(Untuk) tahun ini arahan Pak Presiden tetap B40. Untuk B50 kajian harus dilakukan terus-menerus,” ungkapnya di sela-sela acara Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) bertajuk Road to Jakarta Food Security Summit 6, Selasa, 13 Januari 2026.
Baca juga: Harga BBM di Pertamina, Shell, BP, Vivo Kompak Turun per 1 Januari 2026, Ini Rinciannya
Airlangga menjelaskan, pemerintah terus memantau berbagai aspek, terutama pergerakan harga solar dan harga minyak sawit, sebelum memutuskan implementasi B50. Meski demikian, persiapan menuju B50 tetap dilakukan dan ditargetkan pada semester II 2026.
“(B50) kita siapkan di semester 2. Tetapi, sekarang, dengan skenario harga yang ada, kita ikuti arahan Bapak Presiden (menggunakan) B40, tetapi siap (untuk) B50,” jelas Airlangga.
Ia juga menyebutkan bahwa pemerintah akan menggelar rapat khusus terkait implementasi B50. Namun, hingga kini belum ada kepastian waktu pengumumannya.
Sebagai informasi, program BBM B40 dan B50 merupakan kebijakan mandatori untuk meningkatkan kemandirian energi nasional, menghemat devisa, serta menekan impor solar. Angka pada B40 dan B50 menunjukkan persentase campuran biodiesel berbasis sawit dalam solar.
Implementasi B40 telah berjalan sejak Januari 2025. Sementara itu, B50 diproyeksikan mulai diterapkan pada pertengahan 2026, sebagaimana disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Baca juga: Presiden Prabowo Panggil Bahlil ke Istana, Bahas Apa?
Pada akhir 2025, BBM B50 telah diuji coba secara terbatas dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan untuk mengevaluasi dampaknya. Apabila uji coba berjalan sukses, B50 berpeluang diterapkan secara luas pada semester II 2026.
“Maka dapat dipastikan, andaikan B50 kita implementasikan katakanlah sukses dalam tes, maka itu kemungkinan besar dilakukan pada semester kedua (2026), paling cepat,” ungkapnya kepada awak media. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Pengguna Aplikasi Jago terhubung Bibit-Stockbit tembus 3 juta per Januari 2026, tumbuh 38%… Read More
Poin Penting OJK percepat reformasi pasar modal melalui delapan rencana aksi untuk memperkuat likuiditas, transparansi,… Read More
Poin Penting Asuransi kesehatan penting di tengah gaya hidup sibuk dan biaya medis yang terus… Read More
Poin Penting OJK menegaskan fundamental dan prospek jangka panjang pasar modal Indonesia masih sangat baik,… Read More
Poin Penting BPJS Ketenagakerjaan dan KONI memperluas perlindungan atlet, dengan 265 ribu pelaku olahraga terdaftar… Read More
Poin Penting OJK dan BEI paparkan 8 aksi reformasi pasar modal ke MSCI, dengan fokus… Read More