Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme terhadap penguatan hubungan antara komunitas bisnis Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Hubungan tersebut diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan investasi berkelanjutan di kedua negara.
Pernyataan itu disampaikan Airlangga saat menjadi pembicara kunci dalam pertemuan Roundtable Luncheon yang diselenggarakan oleh US-ASEAN Business Council (US-ABC) di Washington D.C.
Dalam forum tersebut, Airlangga juga memaparkan perkembangan ekonomi Indonesia, prioritas pemerintahan baru, serta strategi menuju Indonesia Emas 2045.
Baca juga: Ini Daftar Negara dengan Tarif PPN Tertinggi, Ada Indonesia?
Airlangga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid meskipun dunia menghadapi tantangan ekonomi global, seperti fragmentasi geo-ekonomi, lonjakan harga akibat ketegangan geopolitik, dan suku bunga tinggi yang menekan beban utang.
“Ekonomi Indonesia tumbuh kuat sebesar 5 persen pada semester awal 2024. Tingkat pertumbuhan ekonomi didorong oleh inflasi yang rendah dan terkendali dalam kisaran target, serta rasio utang terhadap PDB juga terkendali. Kondisi ini memberikan dasar yang kuat bagi stabilitas ekonomi nasional,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, dikutip, Senin 25 November 2024.
Senior Vice President (Policy) US-ABC, Marc Mealy, juga menyatakan keyakinannya bahwa kerja sama ekonomi antara AS dan Indonesia akan terus berkembang.
“Pergantian pemerintahan di kedua negara diharapkan akan membawa angin segar yang membuka peluang baru untuk memperkuat hubungan bilateral dan memperluas hubungan bisnis di berbagai sektor,” kata Mealy.
Baca juga: Rupiah Diproyeksi Melemah, Imbas Terpilihnya Scott Bessent jadi Menkeu AS
Sejumlah perusahaan besar turut hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain FedEx, ExxonMobil, S&P Global, BP, dan Freeport-McMoRan. Berbagai perusahaan yang hadir tersebut memberikan perhatian pada kebijakan Presiden Prabowo yang berfokus pada sektor pangan, energi baru terbarukan, dan hilirisasi industri.
Airlangga menjelaskan potensi kerja sama di sektor produktivitas pangan melalui program food estate, pengembangan lahan sawah untuk tanaman padi, dan industri gula. Terdapat pula potensi kerja sama di bidang energi baru terbarukan, seperti hydropower, geothermal, carbon capture and storage, hingga small modular reactor, yang dapat membantu Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emission.
Dalam hal ini, Airlangga menegaskan bahwa perubahan pemerintahan bukan hambatan, melainkan peluang untuk memperluas investasi, sehingga dapat berkontribusi untuk menciptakan lapangan kerja baru di Indonesia.
Mengenai kesiapan infrastruktur Indonesia untuk menerima investasi dari luar, Airlangga menegaskan kesiapan Indonesia untuk menerima investasi yang masuk, ditunjukkan, antara lain dengan keberadaan 22 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang memberikan kemudahan dan insentif bagi investor. (*)
Editor: Yulian Saputra
Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More
Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More
Pada ajang tersebut, CIMB Niaga meraih tiga penghargaan, masing-masing pada kategori Produk Wealth Management untuk… Read More
Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More
Poin Penting ICEx resmi diluncurkan sebagai platform infrastruktur aset kripto berstandar institusional, didukung modal USD70… Read More
Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More