Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI, Selasa (8/4/2025). (Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden: Julian)
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (RI), Airlangga Hartarto menegaskan kenaikan tarif yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memicu lonjakan ketidakpastian ekonomi global.
Airlangga menjelaskan, kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya resesi di tingkat global, meskipun risiko resesi di Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 5 persen.
“Sehingga kita masuk dalam kebijakan yang uncertain, terjadi gejolak pasar uang di seluruh dunia, pelemahan mata uang di emerging market, kemudian juga retaliasi tarif oleh China,” ujar Airlangga dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI, di Jakarta, Selasa, 8 April 2025.
Baca juga: Presiden Prabowo Akui Tarif Trump Picu Ketidakpastian Ekonomi Global
Tidak hanya itu, ia menambahkan, dampak dari kebijakan tarif tersebut juga dapat mengganggu rantai pasok global dan mendorong banyak korporasi untuk menahan atau bahkan mengurangi konsumsi. Selain itu, pelaku usaha cenderung menerapkan sikap wait and see dalam melakukan investasi maupun ekspansi.
“Kalau kita lihat berbagai komoditas strategis itu mengalami penurunan, baik itu crude oil maupun palm oil, dan rata-rata pertumbuhan dunia juga relatif turun di angka 2,7 persen, baik Amerika, Eropa, China, Brazil, India, pertumbuhannya seluruhnya relatif rendah, hanya India yang diproyeksi menjadi 6 persen, namun dengan adanya trade policy Trump ini diperkirakan ada koreksi sekitar setengah persen,” imbuhnya.
Adapun, Airlangga juga menyebut kebijakan Trump menyebabkan sejumlah komoditas strategis mengalami penurunan. Harga fruit oil merosot hampir 30 persen, Brent turun 28 persen, dan batubara melemah 24 persen. Di sisi lain, hanya komoditas emas yang mengalami kenaikan harga.
“Jadi Pak Presiden launching bullion tepat waktu, karena ini menjadi komoditas yang recession proof, safe haven itu ada dua, dolar dan emas, dan kita punya emas. Jadi kita punya daya tahan yang kuat, kemudian kedelai turun, gandum turun, CPO turun, dan harga beras turun,” kata Airlangga.
Oleh karena itu, menurut Airlangga, dengan tren penurunan pada berbagai komoditas, mencerminkan melemahnya permintaan konsumen (demand) secara global. Karena itu, menurutnya, Indonesia perlu waspada terhadap kemungkinan resesi dunia. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Kredit tumbuh 15,9 persen yoy menjadi Rp899,53 triliun, DPK naik 29,2 persen menjadi… Read More
Oleh Firman Tendry Masengi, Advokat/Direktur Eksekutif RECHT Institute DEMUTUALISASI bursa efek kerap dipromosikan sebagai keniscayaan… Read More
Poin Penting Jahja Setiaatmadja tambah saham BBCA sebanyak 67.000 lembar secara tidak langsung dengan harga… Read More
Poin Penting IHSG dibuka melemah 0,56 persen ke level 7.878,22 pada awal perdagangan (3/2), dengan… Read More
Poin Penting Harga emas di Pegadaian kompak turun pada Selasa (3/2/2026), baik produk Galeri24, UBS,… Read More
Poin Penting Rupiah dibuka menguat 0,21 persen ke level Rp16.763 per dolar AS, dengan proyeksi… Read More