Moneter dan Fiskal

Menkeu Sebut, Defisit Transaksi Berjalan Sumber Kerentanan Ekonomi

Jakarta – Defisit transaksi berjalan (current account deficit) dianggap menjadi sumber kerentanan utama bagi kondisi perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global. Oleh sebab itu, pemerintah bersama regulator terkait terus melakukan bauran kebijakan dalam upaya menjaga stabilitas dan penyesuaian terhadap tantangan baru.

“Dengan mengurangi sumber kerentanan perekonomian Indonesia, terutama yang berasal dari defisit transaksi berjalan,” ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati di Gedung Parlemen Jakarta, Selasa, 4 September 2018.

Namun demikian, kata dia, perekonomian Indonesia akan tetap mampu menjaga ketahanannya secara fleksibel dan bisa menjaga momentum perbaikan. Sehingga, pemerintah bisa secara efektif menjalankan fungsi alokasi, distribusi dan stabilisasi dalam konteks gejolak ekonomi global yang masih akan berlangsung hingga tahun depan.

“RAPBN 2019 sebagaj instrumen kebijakan fiskal harus dirancang agar sehat, adil dan mandiri. APBN 2018 telah mampu menjadj alat untuk membantu menjaga stabilitas perekonomian nasional dengan berbagai kebijakan fiskal yang ekspansif ecara terukur, namun dengan tingkat defisit yang semakin menurun,” ucapnya.

Adanya tantangan yang berbeda, tambah dia, maka RAPBN 2019 disusun dengan tujuan untuk menjaga momentum pembangunan dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap gejolak global. Kesehatan RAPBN 2019 akan terus dijaga dengan menurunkan rasio defisit anggaran, serta mengarahkan defisit keseimbangan primer juga makin mengecil.

“RAPBN 2019 didesain sehat, adil dan mandiri. Aspek keadilan dicerminkan dengan menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan sumber daya manusia, antara alokasi belanja Pusat dan daerah serta penerapan sistem perpajakan yang adil,” paparnya.

Sementara itu, aspek kemandirian diwujudkan dengan meningkatnya kontribusi penerimaan perpajakan dalam penerimaan negara, serta penggunaan instrumen pembiayaan utang yang semakin menurun. APBN merupakan instrumen penting untuk menjalankan negara dalam menjaga perekonomian dan menciptakan kemakmuran yang berkeadilan.

“Saat ini kita dihadapkan pada kondisi perekonomian global yang masih penuh gejolak, sebagai akibat kebijakan ekonomi dj AS yang menimbulkan dampak ke seluruh dunia,” tegasnya.

Kebijakan normalisasi moneter dan kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve, serta perang dagang dengan China, kata dia, telah berdampak negatif pada banyak negara, termasuk emerging market. Menurutnya, gejolak ekonomi global dan pengaruh negatifnya terhadap negara-negara berkembang diperkirakan masih akan berlangsung hingga 2019.

“Oleh karena itu, RAPBN 2019 djrancang untuk mengantisipasi berlangsungnya gejolak global,” tutup Sri Mulyani. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Kesehatan Dompet Pascalebaran: Perang, Defisit, dan Rupiah yang Terseok-seok

Oleh Pak De Samin, The Samin Institute AKHIR-akhir ini, ketika sedang di Kopi Klotok Menoreh,… Read More

1 hour ago

Jerat Defisit APBN: Menkeu Purbaya, Bunga Utang Menggunung dan Tax Ratio yang Rendah

Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group JANGAN besar pasak daripada tiang. Mari… Read More

3 hours ago

GoPay Kini Bisa Tarik Tunai Tanpa Kartu di ATM BRI dan Bank BJB, Ini Caranya

Poin Penting GoPay kini bisa tarik tunai tanpa kartu di seluruh ATM BRI dan Bank… Read More

16 hours ago

Animo Tinggi, BRI Kanwil Jakarta II Tambah Kuota Mudik Gratis jadi 2.750 Pemudik

Poin Penting BRI Kanwil Jakarta II menambah kuota mudik gratis menjadi 2.750 pemudik dengan 55… Read More

16 hours ago

Proteksi Pemudik 2026, BRI Life Andalkan Produk Asuransi Digital MODI

Poin Penting BRI Life menghadirkan asuransi digital MODI-MOtraveling untuk melindungi pemudik Lebaran 2026 dari risiko… Read More

16 hours ago

Adira Finance Lepas 300 Pemudik ke Solo dan Yogyakarta, Dapat Cek Kesehatan dan Asuransi

Poin Penting Adira Finance memberangkatkan 300 pemudik dari Jabodetabek menuju Solo dan Yogyakarta melalui program… Read More

17 hours ago