News Update

Menkeu Purbaya Janji Kurangi Utang: Tidak Boleh Ada Kebocoran!

Jakarta – Pemerintah berkomitmen untuk memperkuat disiplin fiskal dengan mengurangi penarikan utang baru dan memperketat kontrol terhadap belanja negara. Hal ini ditegaskan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pernyataan terbarunya, menyikapi kekhawatiran publik atas posisi utang pemerintah.

“Kita akan coba mengurangi penarikan utang, semaksimal mungkin, seoptimal mungkin. Dalam artian begini, kalau saya utang pun, itu pemakaiannya harus maksimal, tidak boleh ada kebocoran, dan harus mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan seoptimal dan semaksimal mungkin,” kata Purbaya, dalam telekonferensi dengan para wartawan di acara Media Gathering Kemenkeu, di Bogor, Jumat, 10 Oktober 2025.

Ia juga menambahkan bahwa langkah efisiensi belanja negara akan terus diperkuat. Pemerintah tidak akan memangkas program strategis, tetapi akan mengeliminasi anggaran untuk program-program yang dinilai tidak efisien.

“Bukan berarti saya memotong program pemerintah, tetapi saya memotong program-program yang tidak efisien, yang hanya memboroskan uang negara, yang sebagian tadi diperoleh dari utang. Jadi akan kita membangun, menciptakan belanja yang lebih bertanggung jawab ke depan,” tegasnya.

Baca juga: Dana Pemerintah Rp200 Triliun Terserap 56 Persen, Purbaya Optimistis Ekonomi Pulih

Sebelumnya, Direktur Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu Suminto melaporkan, realisasi utang pemerintah pusat per Juni 2025 mencapai Rp9.138,05 triliun, atau setara 39,68 persen terhadap PDB per kuartal II/2025.

Meski terjadi penurunan sebesar 0,43 persen secara bulanan dari posisi Mei 2025 yang sebesar Rp 9.177,48 triliun, namun rasio utang Indonesia secara tahunan tercatat sedikit meningkat dibandingkan Juni 2024 yang sebesar 39,81 persen.

Baca juga: Utang Luar Negeri RI Turun USD1,6 Miliar di Juli 2025, Sisanya Tinggal Segini

Suminto menegaskan bahwa rasio utang Indonesia masih berada di level moderat jika dibandingkan dengan sejumlah negara ASEAN, termasuk Malaysia.

“Rasio utang 39,86 persen suatu level yang cukup rendah, cukup sedang (moderat) dibanding banyak negara, termasuk negara tetangga,” kata Suminto dalam acara yang sama. (*)

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

Gara-Gara Menu Kelapa Utuh, Operasional 9 Dapur MBG di Gresik Disetop

Poin Penting BGN menghentikan sementara 9 dapur Program Makan Bergizi Gratis di Gresik karena polemik… Read More

3 hours ago

Belum Mampu Rebound, IHSG Ditutup Parkir di Zona Merah ke Posisi 7.022

Poin Penting IHSG ditutup melemah 1,61 persen ke level 7.022,28 pada perdagangan Senin (16/3/2026). Sebanyak… Read More

3 hours ago

Konflik Iran-AS-Israel Dorong Harga Minyak, Defisit APBN Berpotensi Melebar

Poin Penting Konflik Iran–AS–Israel memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas USD100 per barel.… Read More

3 hours ago

Demutualisasi Bursa Efek dan Manajemen Risiko

Oleh Paul Sutaryono KINI pemerintah sedang menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang demutualisasi bursa efek.… Read More

3 hours ago

Cara Amartha Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Desa

Poin Penting Amartha meluncurkan Amartha Empower, portal donasi, zakat, dan sedekah untuk memperluas pemberdayaan ekonomi… Read More

3 hours ago

CCTV Tol Bisa Dipantau Real-Time di Travoy, Jasa Marga Bantu Pemudik Pilih Rute Terbaik

Poin Penting: Jasa Marga menyediakan akses CCTV di ruas tol yang dapat dipantau real-time melalui… Read More

3 hours ago