Moneter dan Fiskal

Menkeu Purbaya Buka Opsi Turunkan Tarif PPN

Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang untuk menurunkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Meski demikian, langkah tersebut akan dikaji pemerintah sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat.

Purbaya menjelaskan, keputusan ini masih belum dapat dipastikan karena bergantung pada kondisi ekonomi nasional hingga akhir tahun ini, termasuk capaian penerimaan negara dan kemampuan fiskal pemerintah.

“Kita baru naik ya? Dari 10 persen ke 11 persen tetap naik ya. Kita akan lihat seperti apa akhir tahun, ekonomi seperti apa, uang saya yang saya dapat seperti apa sampai akhir tahun. Saya sekarang belum terlalu clear,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, pada Selasa (14/10/25).

Baca juga: Purbaya Lapor APBN Alami Defisit Rp371,5 Triliun per September 2025

Purbaya menyebutkan, penyesuaian tarif PPN dapat menjadi salah satu instrumen kebijakan fiskal guna memperkuat konsumsi masyarakat jika tekanan terhadap daya beli masih berlanjut.

“Nanti akan kita lihat bisa nggak kita turunkan PPN, itu untuk mendorong daya beli masyarakat. Tapi kita pelajari dulu hati-hati,” ungkapnya.

Seperti diketahui, tarif PPN naik dari 10 persen menjadi 11 persen sejak 1 April 2022, sesuai amanat Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).

Pada 2024, pemerintah resmi menaikkan tarif PPN menjadi 12 persen yang hanya berlaku khusus untuk barang dan jasa mewah. Kebijakan ini telah berlaku mulai 1 Januari 2025.

Barang dan jasa yang dikenakan tarif PPN 12 persen ini mencakup kendaraan bermotor, private jet, kapal pesiar, serta rumah, apartemen, kondominium, atau town house dengan harga jual Rp30 miliar atau lebih, serta barang mewah lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan perpajakan.

Baca juga: Purbaya Buka Peluang Tambah Penempatan Dana ke Himbara

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 131 Tahun 2024 (PMK 131/2024) tentang PPN, disebutkan bahwa penerapan tarif PPN 12 persen untuk barang dan jasa mewah ini didasarkan pada kebutuhan untuk meningkatkan keadilan pajak di masyarakat.

Adapun masa transisi untuk implementasi aturan baru ini berlangsung pada periode 1 Januari hingga 31 Januari 2025. Dalam masa tersebut, penghitungan PPN untuk Barang Kena Pajak (BKP) dengan karakteristik konsumen akhir dilakukan dengan cara mengalikan tarif 12 persen dengan nilai lain sebesar 11/12 dari harga jual.

Namun, mulai 1 Februari 2025, penghitungan PPN akan kembali mengikuti ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (2), yakni tarif 12 persen dikalikan dengan harga jual atau nilai impor. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Bukan Gaji, Ini 5 Faktor yang Bikin Pekerja Indonesia Paling Bahagia se-Asia Pasifik

Poin Penting Indonesia jadi negara dengan pekerja paling bahagia di Asia Pasifik, dengan 82 persen… Read More

32 mins ago

Gozco Capital Agresif Tambah Saham BBYB, Kepemilikan Jadi 10,53 Persen

Poin Penting PT Gozco Capital membeli 164 juta saham Bank Neo Commerce senilai Rp59,7 miliar,… Read More

1 hour ago

Bumi Serpong Damai (BSDE) Catat Prapenjualan Rp10,04 Triliun, Lampaui Target 2025

Poin Penting BSDE membukukan prapenjualan Rp10,04 triliun pada 2025, tumbuh 3 persen yoy dan melampaui… Read More

2 hours ago

Leadership is All About Getting Result

Oleh Ignasius Jonan, Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019 TAHUN 2026 diawali… Read More

3 hours ago

IHSG Pagi Ini Dibuka Melemah ke Level 8.122

Poin Penting IHSG dibuka flat melemah di level 8.122,01 pada perdagangan Selasa (4/2), dengan nilai… Read More

3 hours ago

Rupiah Hari Ini (4/2) Dibuka Melemah ke Level Rp16.762 per USD

Poin Penting Rupiah melemah tipis pada awal perdagangan Rabu (4/2/2026), dibuka di level Rp16.762 per… Read More

4 hours ago