Nilai tukar USD tambahnya terus melemah karena serangkaian data ekonomi yang tidak menggembirakan dari AS sehingga investor mempertanyakan apakah Fed akan meningkatkan suku bunga AS lagi tahun ini.
Sentimen akan Donald Trump pun tampak semakin melemah karena pasar meragukan kemampuannya untuk melaksanakan proposal belanja fiskal.
Baca juga: Jaga Inflasi Administered Prices, BI Perkuat Koordinasi
Walaupun pasar bereaksi terhadap pengumuman pajak besar pekan lalu yang tidak banyak menjelaskan tentang reformasi pajak, perlu diingat bahwa dukungan terhadap reformasi yang diajukan, tidak berarti reformasi tersebut akan disahkan oleh kongres.
Perhatian kini akan tertuju pada rapat Fed dan data tenaga kerja AS pekan ini yang dapat menimbulkan volatilitas nilai tukar USD. Walaupun pasar memperkirakan bahwa Fed tidak akan mengubah suku bunga di bulan Mei, investor akan menganalisis rapat kali ini untuk mencari isyarat atau konfirmasi mengenai kenaikan suku bunga di bulan Juni. (*)
Page: 1 2
Poin Penting ACA membukukan premi Rp6 triliun sepanjang 2025, tumbuh 17 persen yoy, jauh di… Read More
Poin Penting Amartha Prosper resmi meluncur, tawarkan imbal hasil 6,5–14 persen per tahun dengan konsep… Read More
Poin Penting PT Asuransi Central Asia (ACA) telah membayarkan klaim sebesar USD 11,04 juta atas… Read More
PT Asuransi Central Asia (ACA) membayarkan klaim senilai USD 11,04 juta kepada PT PLN Batam,… Read More
Bank Mandiri secara konsolidasi berhasil mencatatkan kinerja solid di sepanjang 2025 tercermin dari penyaluran kredit… Read More
Jakarta – PT Bank CIMB Niaga Tbk membidik nilai transaksi hingga Rp45 miliar dalam penyelenggaraan Cathay… Read More