Mengupas Skema Robot Trading Bodong

Mengupas Skema Robot Trading Bodong

robot trading
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

 

Oleh Rico Usthavia Frans, Anggota Steering Committee Indonesia Fintech Society (IFSoc)

ROBOT trading bodong berskema Ponzi sedang ramai menjadi pembicaraan dan pemberitaan di media. Para founder dan influencer yang tadinya agresif berjualan sekarang berusaha menghapus jejak digital di media sosial (medsos) mereka. Ditangkapnya beberapa founder dan influencer memberi citra negatif kepada robot trading. Korbannya banyak tapi sebagian besar masih dalam denial stage atau malu untuk bercerita.

Bagaimana sih skema penyedia robot trading bodong itu untuk menipu korbannya? Berikut beberapa langkah jahat yang umum dilakukan oleh penyedia robot trading bodong.

Langkah kesatu: Mendirikan broker bodong sebagai bagian dari ekosistem mereka

Penyedia robot trading bodong berniat menipu dari awal. Langkah awal mereka mendirikan perusahaan broker sebagai bagian dari kelompok mereka. Broker memiliki peran yang krusial dalam proses investasi karena mereka mengelola dana investor dan mengeksekusi proses jual beli.

Dengan memiliki broker sendiri, mereka memiliki kontrol mutlak terhadap broker tersebut, alias broker tersebut adalah broker bodong. Broker bodong tersebut biasanya mereka dirikan di negara-negara kecil yang secara hukum tidak terlalu ketat pengawasannya, seperti Cyprus, British Virgin Island, dan Seychelles.

Langkah kedua: Membuat robot trading bodong yang kinerjanya bisa dimanipulasi

Langkah berikutnya adalah membuat robot trading sebagai kedok investasi bodong. Robot yang mereka buat tidak benar-benar dipakai untuk mencari keuntungan dari pasar namun hanya dipakai untuk mengeksploitasi kontrol mutlak terhadap broker bodong yang mereka miliki. Misalnya, robot mereka bisa mengatur posisi order mereka di harga berapa pun tanpa perlu sesuai dengan harga yang ada di pasar. Bahkan, tidak jarang mereka mengedit posisi trading secara manual untuk mengendalikan profitabilitas robot mereka.

Langkah ketiga: Merancang strategi penjualan yang menggiurkan

Setelah memiliki robot yang kinerjanya bisa diatur semau mereka sendiri, mereka mulai melakukan/merancang strategi penjualan robot dengan iming-iming keuntungan yang spektakuler. Bagi mereka, penjelasan strategi trading yang baik dan edukasi konsumen bukanlah prioritas. Semakin sederhana penjelasannya, walaupun tidak masuk akal, semakin baik. Misalnya, ada yang menjelaskan bahwa strategi mereka adalah memasang posisi trading maksimum dua kali sehari dengan target keuntungan 1% per hari. Strategi memasang posisinya bagaimana, tidak pernah dijelaskan.

Dalam praktiknya, kegiatan trading yang dilakukan oleh robot dalam hitungan menit saja. Yang penting robot kelihatan bekerja dan menghasilkan keuntungan yang konsisten sehingga bisa menunjukkan “keuntungan pasti tanpa risiko”. Rata-rata penyedia robot trading menjanjikan keuntungan sekitar 10%-15% sebulan, tapi ada juga yang menjanjikan di atas 20% sebulan. Itu artinya modal kita bisa menjadi 2-3 kali lipat dalam setahun. Fantastis!

Baca Juga : Lagi, Robot Trading Menelan Kerugian Raturan Miliar di Bali

Langkah keempat: Membangun jaringan pemasaran dengan skema MLM

Selanjutnya, mereka membangun jaringan pemasaran dengan skema multi level marketing (MLM). Setiap investor baru didorong menjadi agen penjualan yang harus mencari downline. Mereka mendapatkan komisi berdasarkan downline yang direkrut yang tidak jarang lebih besar daripada keuntungan dari trading.

Para agen tersebut cukup mudah melakukan penjualan karena keuntungan yang diperoleh para downline cukup menggiurkan dan konsisten dari bulan ke bulan. Namun, semua keuntungan itu semu karena diatur oleh penyedia robot melalui broker yang di bawah kendali mereka.

Langkah kelima: Menggalang dana dengan skema Ponzi dan melakukan margin call

Melalui skema piramida MLM tersebut, penyedia robot trading bodong bisa menggalang dana yang besar untuk menjalankan skema “Ponzi” atau sistem gali lubang tutup lubang yang akhirnya merugikan investor yang bergabung belakangan. Keuntungan investor awal dibayari oleh modal investor yang bergabung belakangan.

Setelah berhasil mengumpulkan dana yang cukup besar, mereka memulai masa panen atau exit. Cara panen umumnya dilakukan dengan rekayasa agar investor “kalah trading”, atau lazim disebut margin call (MC). Dengan melakukan margin call, mereka tidak bisa dituntut karena secara teknis robot mereka kalah trading.

Langkah keenam: Menahan dana investor di broker bodong dengan berbagai alasan

Penyedia robot trading bodong yang kehabisan napas berusaha menahan dana investor dengan alasan perizinan. Mereka mengatakan bahwa aktivitas penarikan dana di broker tidak bisa dilakukan karena mereka sedang mengurus perizinan robot trading. Padahal, di awal mereka gembar-gembor bahwa robot trading mereka adalah legal. Hal ini sebenarnya secara teknis tidak masuk akal. Kontrol penarikan dana itu ada di tangan broker bukannya penyedia robot trading. Masalah perizinan robot trading, jika memang ada, tidak ada hubungannya dengan larangan penarikan dana di broker.

Selain bersembunyi di balik alasan perizinan, ada juga yang menyalahkan broker yang memblokir dana sehingga tidak bisa ditarik. Padahal, brokernya adalah broker bodong milik mereka sendiri. Semuanya itu hanya akal-akalan mereka untuk menahan dana di broker bodong yang mereka miliki sendiri.

Melalui WhatsApp atau Telegram group yang mereka miliki, penyedia robot bodong berusaha dan menenangkan investor mereka. Namun, jika ada investor yang vokal, mereka langsung dibungkam atau bahkan dikeluarkan dari grup. Beberapa penyedia robot trading juga mulai membuka keran tarik dana dengan limit yang relatif kecil sekitar US$100 atau US$500 per bulan. Sebagian lagi mencoba memberikan jalan keluar dengan penarikan menggunakan cryptocurrency. Hal-hal itu semua bertujuan untuk menenangkan investor yang mulai panik dan memperpanjang napas skema Ponzi mereka.

Ciri-Ciri Robot Trading Bodong

Sebenarnya modus yang dilakukan oleh penyedia robot trading bodong ini sangat mudah dibaca. Beberapa red flag yang bisa kita jadikan indikator, antara lain tawaran keuntungan menggiurkan dan too-good-to-be-true; penyedia robot memaksa kita menggunakan broker tertentu dan robot mereka tidak bisa berjalan di luar broker tersebut; broker yang wajib dipakai didirikan di negara-negara yang kurang jelas hukumnya, tidak mengantongi izin resmi dari regulator, serta kredibilitasnya meragukan; dan pemasarannya menggunakan metode MLM dengan penjelasan strategi trading yang terlalu sederhana.

Kita perlu menyadari bahwa robot trading adalah alat bantu untuk melakukan transaksi jual beli secara otomatis berdasarkan logika dan analisis pasar yang diprogram oleh pembuat robot. Tidak semua penyedia robot trading itu jahat dan berniat menipu. Ada juga yang benar-benar membuat robot yang bagus dan bermanfaat.

Dengan menggunakan robot trading yang bagus, investor bisa mendapatkan keuntungan yang lebih stabil daripada mengandalkan manual trading. Banyak trader profesional dan perusahaan investasi besar yang menggunakan algorithmic trading, nama lain dari robot trading, sebagai alat bantu trading yang utama.

Memang robot trading adalah alat bantu investasi yang netral. Baik tidaknya robot trading tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Namun demikian, menggunakan robot trading yang benar pun tidak sepenuhnya bebas dari risiko. Kita harus berhati-hati dalam memilih penyedia robot agar bisa memanfaatkan robot trading dengan baik. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]