Pound masih tertekan
Jakarta – Sejumlah mata uang tercatat menguat terhadap dolar. Salah satunya adalah mata uang euro. Pasangan mata uang ini melejit dari 1.09 ke 1.12 selama beberapa sesi trading terakhir.
Jameel Ahmad, VP of Research Analyst FXTM menyebut, mayoritas peningkatan EUR tergantung pada melemahnya USD. “Dari sudut pandang fundamental, tidak ada berita baru di pasar untuk meningkatkan optimisme terhadap ekonomi Uni Eropa. Karena itu, para penjual kemungkinan akan membuka posisi setelah pasangan mata uang ini mengalami kelelahan setelah menguat selama beberapa hari terakhir” ujar Jameel.
Terlepas dari segala berita dan data ekonomi yang menunjukkan bahwa hasil referendum Brexit yang mengejutkan ini akan memukul ekonomi Inggris, mata uang Poundsterling ternyata juga menguat karena melemahnya USD. Mata uang Inggris ini meningkat ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir yaitu 1.3365 di 24 jam terakhir.
“Sejujurnya, ini hanyalah pantulan teknikal dari zona support penting 1.3050 yang kita bahas pekan lalu. Dengan begitu banyaknya indikator ekonomi yang masih negatif dan dampak Brexit terhadap ekonomi Inggris, momentum GBPUSD pada jangka menengah dan jangka panjang sepertinya masih lebih mendukung para investor jual” papar Jameel. (*)
Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More
Poin Penting ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab untuk mengintegrasikan pemantauan, pengelolaan, dan analisis… Read More
Poin Penting optimistis pertumbuhan KPR tetap positif dalam 3–5 tahun ke depan, dengan target peningkatan… Read More
Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More
Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More
Poin Penting ALFI mendesak pemerintah melakukan harmonisasi regulasi KBLI 2025 karena dinilai memicu inefisiensi dan… Read More