Moneter dan Fiskal

Mengapa Dana Pemerintah Tak Langsung Diserap Sektor Riil? Ini Jawaban Calon DG BI Solikin

Poin Penting

  • Dana pemerintah Rp276 triliun yang ditempatkan di perbankan belum terserap ke ekonomi riil karena demand kredit tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya
  • Tambahan likuiditas, termasuk lewat kebijakan KLM BI dan penempatan dana pemerintah di Himbara, tidak langsung disalurkan karena bank sudah memiliki pipeline pembiayaan
  • Uang primer membutuhkan mekanisme money creation agar berdampak ke ekonomi riil.

Jakarta – Calon Deputi Gubernur sekaligus Asisten Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro mengungkapkan penyebab penempatan dana pemerintah ke sektor perbankan yang dilakukan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa senilai Rp276 triliun tidak langsung diserap oleh ekonomi riil.

Hal ini ia sampaikan saat sesi tanya jawab fit and proper test (uji kepatutan dan kelayakan) dengan Komsisi XI DPRI RI untuk calon Deputi Gubernur BI pada Jumat, 23 Januari 2026.

Solikin mengatakan, hal itu disebabkan oleh permintaan atau demand kredit saat tidak sekuat beberapa tahun sebelumnya. Sehingga likuiditas yang digelontorkan tidak secara otomatis terserap untuk kegiatan ekonomi riil.

Baca juga: Jalani Fit and Proper Test Deputi Gubernur BI, Solikin Beberkan Strategi Kebijakan ‘SEMANGKA’

Bahkan, kata Solikin, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang digelontorkan oleh BI untuk menciptakan pertumbuhan kredit juga belum mampu untuk mengerek permintaan.

“Nah itulah kenapa akhirnya waktu tadi bicara bagaimana kebijakan BI yang menambah likuditas, bahkan penempatan dana oleh pemerintah atau Menkeu di Himbara itu nggak otomatis digunakan. Karena pertama bank-bank juga sudah memiliki pipeline,” ungkap Solikin.

Lebih rinci lagi, ia menjelaskan, uang primer (base money) yang berupa utang maupun tagihan dari otoritas moneter terhadap masyarakat sebagai cikal bakal uang beredar dalam perekonomian, diperlukan mekanisme penciptaan agar uang tersebut berputar di sistem perekonomian.

Baca juga: Calon DG BI Solikin Bicara Soal Independensi Bank Sentral

“Jadi uang primer saja itu yes, perlu, tetapi kalau dia itu tetap berupa uang kartal, itu juga dia nggak akan jadi, sehingga kenapa dulu istilahnya ada giralisasi, money creation. Itulah yang di mana kita harus diletakan di instrumen-instrumen di pasar keuangan yang bisa membuat uang itu beredar atau misalkan dari kredit itu ditarik, maka GWM-nya diturunkan supaya nanti uang disalurkan ke kredit,” jelasnya.

Namun, tambah Solikin, ketika uang ditarik menjadi kredit, belum tentu langsung digunakan, tetapi akan dimasukan lagi ke giro.

“Artinya, uang tersebut belum langsung terserap ke ekonomi riil,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

OJK Dorong Bank KMBI I Perkuat Permodalan Lewat Konsolidasi

Poin Penting OJK menilai bank KBMI I (modal inti hingga Rp6 triliun) masih berpeluang memperkuat… Read More

23 mins ago

Amartha Salurkan Pembiayaan Rp13,2 Triliun Sepanjang 2025, Mayoritas ke Sektor Ini

Poin Penting Amartha menyalurkan pembiayaan Rp13,2 triliun pada 2025, tumbuh lebih dari 20% secara tahunan,… Read More

35 mins ago

Perkuat Industri Kelistrikan, BNI-Siemens Indonesia Sepakati Pembiayaan Rp300 Miliar

Poin Penting BNI–Siemens Indonesia menjalin kerja sama pembiayaan Rp300 miliar untuk proyek dan modal kerja… Read More

1 hour ago

Tensi Geopolitik Memanas, Praktisi Pasar Modal Imbau Investor Lebih Waspada

Poin Penting Tensi geopolitik mendorong aliran dana ke USD, membuat rupiah tetap rentan meski sempat… Read More

1 hour ago

LPS Ungkap Ada 4 BPR/BPRS Dilikuidasi Imbas Bencana Sumatra

Poin Penting Empat BPR/BPRS dilikuidasi akibat dampak bencana di wilayah Sumatra, dengan kondisi terparah dialami… Read More

1 hour ago

LPS Catat Tabungan Orang Kaya di Atas Rp5 Miliar Melesat 22,76 Persen, Ini Pendorongnya

Poin Penting Tabungan di atas Rp5 miliar melonjak 22,76% pada akhir 2025, didorong penempatan dana… Read More

1 hour ago