Nasional

Menbud Fadli Zon Nilai Ekonomi Budaya Bisa Lampaui SDA

Poin Penting

  • Ekonomi budaya dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan SDA karena budaya tidak akan habis, sementara komoditas seperti batu bara dan migas bersifat terbatas
  • Pengelolaan aset budaya melonjak signifikan, tercermin dari kenaikan cagar budaya nasional hingga 85 situs dan warisan budaya tak benda mencapai 2.727 entitas
  • Potensi ekonomi budaya besar jika dikelola profesional, seperti lonjakan pengunjung Museum Nasional, dengan peluang dukungan swasta dan insentif fiskal bagi pelaku usaha budaya.

Jakarta – Menteri Kebudayaan (Menbud) Republik Indonesia Fadli Zon menilai ekonomi budaya memiliki prospek jangka panjang yang jauh lebih berkelanjutan dibandingkan sumber daya alam (SDA) yang bersifat terbatas.

“Batu bara, nikel, oil and gas itu nantinya akan habis. Budaya tidak akan pernah habis,” ujarnya dalam acara diskusi budaya yang diselenggarakan Infobank Media Group bertajuk Pembangunan Ekonomi Berbasis Seni dan Pelestarian Budaya di Jakarta, Kamis (22/1).

Ia memaparkan lonjakan signifikan dalam pengelolaan aset budaya sejak berdirinya Kementerian Kebudayaan.

Baca juga: Fadli Zon Dorong Kebudayaan Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Tahun ini, jumlah cagar budaya tingkat nasional melonjak menjadi 85 situs, naik sekitar 850 persen dibanding sebelumnya.

Total cagar budaya nasional kini mencapai 313 situs, sementara warisan budaya tak benda menembus 2.727 entitas.

Salah satu contoh nyata ekonomi budaya terlihat dari transformasi Museum Nasional. Setelah revitalisasi dan pengembalian artefak dari Belanda, jumlah pengunjung melonjak hingga 400 persen.

“Sekarang pengunjung Museum Nasional bisa 5.000 sampai 7.000 orang per hari, bahkan saat libur bisa 12.000 sampai 13.000 orang,” jelas Fadli.

Fadli membandingkan potensi ini dengan museum kelas dunia seperti Versailles di Prancis yang mampu meraup puluhan miliar rupiah per hari dari tiket dan merchandise.

Baca juga: Bos LPS Ungkap Peran Strategis Sektor Keuangan Jaga Warisan Budaya

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi serupa jika dikelola secara profesional dan melibatkan sektor swasta.

Ia pun membuka peluang insentif fiskal bagi pelaku usaha yang berkontribusi pada kebudayaan.

“Kita sedang memikirkan agar sumbangan ke bidang kebudayaan bisa mendapatkan semacam tax insentif,” pungkasnya. (*) Alfi Salima Puteri

Galih Pratama

Recent Posts

Anggota BPK Fathan Subchi Dorong Ekonomi Kreatif Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

Poin Penting Anggota BPK Fathan Subchi mendorong ekonomi kreatif sebagai motor pertumbuhan ekonomi untuk mendukung… Read More

1 hour ago

Bos LPS Ungkap Peran Strategis Sektor Keuangan Jaga Warisan Budaya

Poin Penting Sektor keuangan berperan strategis dalam pelestarian aset budaya melalui pembiayaan khusus budaya, asuransi… Read More

2 hours ago

Fadli Zon Dorong Kebudayaan Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Poin Penting Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan kebudayaan bukan beban anggaran, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi… Read More

2 hours ago

Bank DBS Indonesia Angkat Triana Gunawan Jadi Komisaris

Poin Penting PT Bank DBS Indonesia menunjuk Triana Gunawan sebagai Komisaris Independen efektif per 31… Read More

3 hours ago

OJK: Kredit Macet Tanpa Fraud Tak Dapat Dipidana

Poin Penting OJK menegaskan kredit macet tanpa unsur fraud bukan tindak pidana, melainkan risiko bisnis… Read More

3 hours ago

Komisi XI DPR Dorong OJK Perkuat Regulasi dan Pengawasan Aset Kripto

Poin Penting Komisi XI DPR RI mendorong OJK mempercepat pengaturan IAKD dan aset kripto yang… Read More

3 hours ago