Wawancara

Menanti Gairah Kebangkitan Saham Perbankan, Siap Topang IHSG 2026?

Poin Penting

  • BNI AM memproyeksikan rotasi sektor dari saham emiten konglomerasi ke saham perbankan pada 2026
  • Kinerja perbankan berpeluang membaik setelah tertekan pada 2025 akibat rendahnya pertumbuhan kredit, DPK, dan tingginya provisi
  • Dividend yield perbankan diperkirakan sekitar 5 persen, dengan valuasi murah dan stabilisasi kinerja diyakini mampu menarik kembali minat investor, termasuk investor asing.

Jakarta – PT BNI Asset Management (BNI AM) memproyeksi akan terjadi rotasi sektor yang mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2026 dari emiten konglomerasi kembali ke emiten perbankan.

Chief of Investment BNI AM, Farash Farich, menilai saham-saham emiten konglomerasi telah mengalami penguatan tertingginya, sehingga emiten tersebut pada tahun ini diperkirakan akan berfokus untuk menjaga kinerja positif yang telah diraih sebelumnya.

“Saham perbankan kan memang tahun lalu tuh tough (sulit) gitu kan demand terhadap loan (kredit) sangat rendah terus pertumbuhan dana pihak ketiga juga sebenernya untuk segmen yang menengah ke bawah tuh turun atau bahkan flat. Jadi (perbankan) memang berat tahun lalu,” kata Farash kepada jurnalis Infobanknews Khoirifa Argisa Putri di kantornya kawasan Jakarta Selatan, kemarin.

Baca juga: Intip Gerak Saham Asuransi Jelang Batas Pemenuhan Modal Minimum

Farash menyebut, kinerja segmen perbankan yang tertekan tersebut juga didorong oleh pengeluaran provisi untuk kredit macet yang berdampak pada pertumbuhan kinerja keuangan. Sebagian kinerja perbankan tahun lalu flat, bahkan ada yang menurun.

“Makanya perbankan tahun lalu kan turun bisa 5-10 persen dengan udah turun banyak, expense udah dikeluarin banyak tahun lalu terus di akhir tahun kan likuiditas ditambah dari pemerintah dari Bank Indonesia (BI) nah harusnya akan banyak impact positifnya di 2026,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, indeks Purchsing Manager Index (PMI) yang telah positif dalam lima bulan berturut-turut juga diharapkan dapat mendorong demand terhadap kredit pada 2026.

“Di tahun ini potensinya tinggi tuh dibanding tahun lalu lagian kan tahun lalu udah turun. Jadi sebenarnya kalau dia balik aja ke level yang sama kayak 2024 biasanya kalau tahun lalu bisa turun 10 persen harusnya growth percentage-nya tuh bisa 12 persen untuk kembali ke level yang sama aja,” ujar Farash.

Dividend Yield Perbankan

Sementara untuk dividend yield perbankan, Farash memperkirakan masih berada di kisaran 5 persen. Ini di luar dari kenaikan harga saham dan pertumbuhan laba bersih.

“Keliatan udah membaik aja trajektornya jangan turun terus gitu lah banyak kalo ini udah ada yang udah stabil, ada yang udah naik. Nah itu orang akan positif gitu, sementara tadi valuasi murah kemudian dividend di first quarter sama second quarter, itu pasti akan mendorong untuk investor asing masuk ke situ,” tambahnya.

Baca juga: Anak Usaha Emtek Diam-diam Borong Saham Superbank Rp25,76 Miliar

Sebagai informasi, untuk saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo masih mengalami pergerakan yang variatif sejak awal 2026. Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), misalnya, terpantau naik 0,93 persen ke posisi Rp8.150.

Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga meningkat 1,09 persen menjadi Rp3.700 per saham.

Sementara, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang masing-masing terkoreksi 1,43 persen dan 0,94 persen secara year-to-date (ytd) pada perdagangan kemarin (7/1). (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

OJK Sebut Kinerja Pasar Modal 2025 Ditutup Solid, Ini Buktinya

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa kinerja pasar modal domestik sepanjang 2025 ditutup… Read More

3 mins ago

Utang Pindar Warga RI Tembus Rp94,85 Triliun per November 2025, Naik 25,45 Persen

Poin Penting Total pembiayaan pinjaman daring mencapai Rp94,85 triliun per November 2025, tumbuh 25,45 persen… Read More

4 mins ago

Tumbuh 7,74 Persen, OJK Catat Kredit Perbankan November 2025 Capai Rp8.315 Triliun

Poin Penting Kredit perbankan tumbuh menguat 7,74 persen yoy pada November 2025 menjadi Rp8.315 triliun… Read More

14 mins ago

Stabilitas Sistem Keuangan RI Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Global

Poin Penting OJK menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga, meski dinamika geopolitik dan perekonomian… Read More

28 mins ago

IHSG Pagi Ini Dibuka Semringah ke Level 8.967

Poin Penting IHSG dibuka menguat 0,47 persen ke level 8.967,44 pada perdagangan Jumat (9/1), dengan… Read More

1 hour ago

Rupiah Dibuka Melemah, Tembus Rp16.835 per Dolar AS

Poin Penting Rupiah melemah 0,22% pada pembukaan perdagangan Kamis (9/1/2026) ke level Rp16.835 per dolar… Read More

2 hours ago