Poin Penting
Jakarta – PT BNI Asset Management (BNI AM) memproyeksi akan terjadi rotasi sektor yang mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2026 dari emiten konglomerasi kembali ke emiten perbankan.
Chief of Investment BNI AM, Farash Farich, menilai saham-saham emiten konglomerasi telah mengalami penguatan tertingginya, sehingga emiten tersebut pada tahun ini diperkirakan akan berfokus untuk menjaga kinerja positif yang telah diraih sebelumnya.
“Saham perbankan kan memang tahun lalu tuh tough (sulit) gitu kan demand terhadap loan (kredit) sangat rendah terus pertumbuhan dana pihak ketiga juga sebenernya untuk segmen yang menengah ke bawah tuh turun atau bahkan flat. Jadi (perbankan) memang berat tahun lalu,” kata Farash kepada jurnalis Infobanknews Khoirifa Argisa Putri di kantornya kawasan Jakarta Selatan, kemarin.
Baca juga: Intip Gerak Saham Asuransi Jelang Batas Pemenuhan Modal Minimum
Farash menyebut, kinerja segmen perbankan yang tertekan tersebut juga didorong oleh pengeluaran provisi untuk kredit macet yang berdampak pada pertumbuhan kinerja keuangan. Sebagian kinerja perbankan tahun lalu flat, bahkan ada yang menurun.
“Makanya perbankan tahun lalu kan turun bisa 5-10 persen dengan udah turun banyak, expense udah dikeluarin banyak tahun lalu terus di akhir tahun kan likuiditas ditambah dari pemerintah dari Bank Indonesia (BI) nah harusnya akan banyak impact positifnya di 2026,” imbuhnya.
Tidak hanya itu, indeks Purchsing Manager Index (PMI) yang telah positif dalam lima bulan berturut-turut juga diharapkan dapat mendorong demand terhadap kredit pada 2026.
“Di tahun ini potensinya tinggi tuh dibanding tahun lalu lagian kan tahun lalu udah turun. Jadi sebenarnya kalau dia balik aja ke level yang sama kayak 2024 biasanya kalau tahun lalu bisa turun 10 persen harusnya growth percentage-nya tuh bisa 12 persen untuk kembali ke level yang sama aja,” ujar Farash.
Sementara untuk dividend yield perbankan, Farash memperkirakan masih berada di kisaran 5 persen. Ini di luar dari kenaikan harga saham dan pertumbuhan laba bersih.
“Keliatan udah membaik aja trajektornya jangan turun terus gitu lah banyak kalo ini udah ada yang udah stabil, ada yang udah naik. Nah itu orang akan positif gitu, sementara tadi valuasi murah kemudian dividend di first quarter sama second quarter, itu pasti akan mendorong untuk investor asing masuk ke situ,” tambahnya.
Baca juga: Anak Usaha Emtek Diam-diam Borong Saham Superbank Rp25,76 Miliar
Sebagai informasi, untuk saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo masih mengalami pergerakan yang variatif sejak awal 2026. Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), misalnya, terpantau naik 0,93 persen ke posisi Rp8.150.
Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga meningkat 1,09 persen menjadi Rp3.700 per saham.
Sementara, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang masing-masing terkoreksi 1,43 persen dan 0,94 persen secara year-to-date (ytd) pada perdagangan kemarin (7/1). (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Rasio utang pemerintah 40,46 persen terhadap PDB dinilai Purbaya masih aman dibandingkan negara… Read More
Poin Penting OJK resmi mencabut izin usaha PT BPR Kamadana di Bali pada 18 Februari… Read More
Poin Penting LPEM UI sarankan BI Rate tetap 4,75% pada RDG Februari 2026 guna menjaga… Read More
Poin Penting Mantan petinggi Bank BJB, Bank DKI, dan Bank Jateng jadi terdakwa kredit macet… Read More
Poin Penting BTN RUN 2026 dibuka 13 Februari via bale by BTN dan 18 Februari… Read More
Poin Penting Bank Danamon dan Adira Finance memperpanjang bunga dan margin spesial KPM Prima mulai… Read More