Oleh Yazid Bindar, Guru Besar Institute Teknologi Bandung
PELEMAHAN nilai tukar rupiah yang kini menembus angka Rp17.000 per 1 USD telah menyalakan alarm di kalangan pelaku pasar, akademisi, dan publik luas. Kenaikan tajam dari kisaran Rp16.000-an dalam waktu singkat mengindikasikan tekanan serius terhadap perekonomian nasional.
Banyak yang mulai bertanya: apakah ini pertanda bahwa Indonesia sedang menuju krisis moneter kedua, setelah 1998? Apalagi, jika nilai tukar terus melemah dan melintasi angka psikologis Rp20.000 per dolar Amerika Serikat (AS), maka skenario terburuk bisa saja menjadi kenyataan.
Poin Penting Allianz Indonesia memperkuat kanal keagenan (ASN) dan bancassurance melalui kickoff awal 2026 untuk… Read More
Poin Penting BRI menerbitkan Surat Berharga Komersial (SBK) senilai Rp500 miliar, menjadi yang pertama di… Read More
Poin Penting Pelaporan SPT via Coretax capai 126.796 SPT hingga 12 Januari 2026 pukul 14.00… Read More
Poin Penting DBS Bank memproyeksikan IHSG menguat ke level 9.800 pada 2026, ditopang fundamental pasar… Read More
Poin Penting IHSG berbalik menguat pada pembukaan perdagangan 13 Januari 2026, naik 0,56 persen ke… Read More
Poin Penting Produksi minyak Venezuela rendah, invansi AS tak berdampak besar ke harga energi global.… Read More