BONUS demografi yang dimiliki bangsa Indonesia menjadi bahasan yang menarik dalam beberapa tahun terakhir ini. Selain memiliki jumlah penduduk yang cukup besar, karakteristik sebaran demografi Indonesia juga menjadi keunggulan Indonesia. Demografi Indonesia termasuk dalam tipe piramida penduduk ekspansif.
Hal ini ditandai dengan mayoritas penduduk berada pada kelompok usia muda, laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, tingkat kelahiran bayi yang tinggi dan kelompok usia tua yang jumlahnya sedikit.
Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019 menyebutkan dari 268 juta jiwa penduduk Indonesia sebanyak 50% atau 133 juta jiwa adalah angkatan kerja, 41% atau 111 juta jiwa adalah usia produktif (15-54 tahun) dan 26% atau 70 juta jiwa adalah usia nonproduktif. Dengan karakteristik piramida penduduk yang ekspansif ini dapat dipastikan pada 2050 penduduk Indonesia akan didominasi oleh penduduk usia produktif atau sekitar 60%-70% dari total jumlah penduduk.
Dengan 41% usia produktif saat ini, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Usia produktif menjadi penggerak kegiatan konsumsi dan investasi yang berujung pada pertumbuhan ekonomi. Kebutuhan hidup mereka masih terus berkembang. Pendapatan yang mereka peroleh selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga diinvestasikan untuk kebutuhan jangka panjang. Konsumsi dan investasi menjadi penyokong pendapatan domestik bruto (PDB) nasional.
Potensi demografi Indonesia harus terus dioptimalkan. Kualitas sumber daya manusia (SDM) terutama penduduk usia produktif harus dipersiapkan. Dari sisi keuangan, pemahaman SDM tentang konsumsi dan investasi harus terus ditingkatkan. Kegiatan literasi dan inklusi keuangan melibatkan para pemangku kepentingan di industri keuangan.
Tanpa disadari, pandemi COVID-19 ini menjadi “pecut” yang membuat kita beberapa langkah lebih maju. Masyarakat yang saat ini memiliki pemikiran kritis dan kewaspadaan tinggi terhadap aspek kehidupan akan mencari cara yang lebih efektif dan efisien dalam berkegiatan termasuk aktivitas perbankan. Kondisi ini juga menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan bagi generasi milenial yang lekat dengan teknologi. Transformasi digital di industri perbankan wajib dilakukan untuk menjawab tuntutan konsumen.
Memenuhi tuntutan tersebut, PermataBank selalu berinovasi mengembangkan fitur-fitur transaksi online termasuk transaksi investasi. eMutualFund and eBond adalah dua fitur utama di mana nasabah dapat melakukan transaksi reksa dana dan obligasi pasar sekunder secara online. Transaksi online ini dapat dilakukan melalui PermataNet dan PermataMobileX.
Selain itu, PermataBank juga memiliki fitur SBN Ritel online untuk memberikan kemudahan melakukan transaksi obligasi pemerintah pasar perdana seperti seri ORI, SR, SBR dan ST. Inovasi-inovasi ini menjadi salah satu jalur transformasi digital yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. (*)
Poin Penting 15,2 juta NIB diterbitkan, 14,9 juta untuk usaha mikro; masih ada 40 juta… Read More
Poin Penting Pemerintah memperpanjang penempatan Rp200 triliun di bank-bank milik negara hingga September 2026 untuk… Read More
Poin Penting Studi CELIOS menunjukkan Program MBG bisa membuang 62–125 juta porsi/minggu, merugikan negara Rp622… Read More
Poin Penting OJK menegaskan tidak ada perpanjangan waktu, semua UUS asuransi wajib spin off paling… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ungkap sudah ada sejumlah pendaftar calon ADK OJK, terutama… Read More
Poin Penting Pemerintah memastikan dana THR 2026 sebesar Rp55 triliun telah siap dan tinggal menunggu… Read More