Masih banyaknya perbankan nasional yang modal intinya di bawah Rp1 triliun atau kategori BUKU 1, dan BUKU 2 dengan modal inti di kisaran Rp1 triliun hingga Rp5 triliun menjadi persoalan tersendiri. Terlebih saat proses pembukaan sektor keuangan dalam rangka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) semakin dekat.
Baca juga: Kala Bank Berlomba Mempertebal Pencadangan
Bank-bank regional bahkan sudah lebih dahulu masuk ke pasar perbankan Indonesia lewat gurita usahanya. Sebut saja tiga bank jagoan Singapura tadi, DBS, OCBC dan UOB yang sudah punya anak usaha di Bumi Pertiwi. Belum serbuan bank-bank Malaysia, lewat Grup Maybank dan CIMB yang sudah lebih dulu hadir di Tanah Air.
Untuk itu perlu usaha ekstra dari perbankan nasional untuk membangun kekuatannya, karena memahami karakteristik pasar dalam negeri dan local wisdom saja tidaklah cukup. Peningkatan permodalan menjadi sebuah keharusan karena merupakan senjata utama dalam bisnis perbankan. Konsolidasi bisa menjadi salah satu langkah yang ditempuh. (*)
Editor: Paulus Yoga
Poin Penting Kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 4,88% sepanjang 2025, di tengah perlambatan kredit UMKM… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,53 persen ke level 8.103,87, dengan mayoritas saham terkoreksi (349… Read More
Poin Penting Seorang siswa SD di NTT bunuh diri karena orang tuanya tak mampu membeli… Read More
Poin Penting Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp56,3 triliun pada 2025, ditopang pertumbuhan kredit 13,4… Read More
Poin Penting Keberadaan debt collector berperan sebagai credit collection support yang menjaga likuiditas, menekan risiko… Read More
Poin Penting Aset kelolaan DPLK Avrist tumbuh 9,24% menjadi Rp1,32 triliun hingga Desember 2025, dengan… Read More