Melanjutkan Kinerja Neraca Dagang Di Tengah Konflik Rusia-Ukraina

Melanjutkan Kinerja Neraca Dagang Di Tengah Konflik Rusia-Ukraina

Neraca Dagang
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Oleh Ryan Kiryanto, Ekonom dan Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia sepanjang Februari 2022 mencapai US$ 20,46 miliar. Secara bulanan (month to month/mtm) nilainya naik 6,73% dan secara tahunan (year on year/yoy) melejit hingga 34,14%.

Ekspor komoditas migas naik 10,39% menjadi US$ 0,99 miliar dibanding Januari 2022, sementara ekspor non migas naik 6,55% (mtm) menjadi US$19,47 miliar. Adapun total ekspor nonmigas mencapai 95,14% dari total ekspor Indonesia.

Secara rinci, berdasarkan sektor, peningkatan ekspor terjadi pada sektor migas dan pertambangan, masing-masing tumbuh 10,39% (mtm) dan 65,82% (mtm). Tingginya pertumbuhan ekspor di sektor pertambangan terjadi didukung oleh tingginya harga batu bara.

Pada Februari lalu, komoditas non migas seperti batu bara meningkat 16,56% (mtm) sehingga mendorong peningkatan ekspor yang mencapai 139,96%, diikuti lignit yang naik 151,53%. Sementara dua sektor lainnya, yakni pertanian kehutanan/perikanan dan industri pengolahan menurun masing-masing -10,16% (mtm) dan -1,23% (mtm).

Komoditas penyumbang penurunan ekspor di sektor pertanian adalah ekspor kopi yang menurun 13,02% dan buah-buahan tahunan yang menyusut 13,82%. Kendati demikian, kinerja ekspor seluruh komoditas Indonesia secara tahunan (yoy) mengalami kenaikan dan yang paling tinggi adalah pertambangan dengan pertumbuhan 84,61%. Komoditas penyumbangnya adalah batu bara. Secara tahunan dibanding Februari tahun lalu, batu bara meningkat 75,42% (yoy) dan bijih tembaga naik 319,95% (yoy).

Berdasarkan negara tujuan, peringkat ekspor Indonesia tertinggi adalah dengan India yang bertambah US$394,4 juta. Ekspor paling dominan ke India adalah komoditas bahan bakar mineral (kode HS 27) serta lemak dan minyak hewan/nabati (kode HS 15). Kedua, ekspor ke Swiss bertambah sebesar US$351 juta, diikuti Korea Selatan sebesar US$ 220,8 juta, Tiongkok sebesar US$ 208,4 juta dan Jepang US$193,1 juta.

Sementara penurunan nilai ekspor tertinggi terjadi ke Amerika Serikat (AS), yaitu berkurang US$171,7 juta , selanjutnya Mesir yang anjlok sebesar US$57,8 juta, Italia sebesar US$49,4 juta, Afrika Selatan sebesar US$47,5 juta, dan ke Jerman sebesar US$44,6 juta. Adapun komoditas ekspor ke AS yang menurun adalah karet barang dan karet, serta pakaian dan aksesories bukan rajutan.

Lebih lanjut, pangsa ekspor nonmigas terbesar masih dipegang oleh Tiongkok yang mencapai 19,12% atau setara US$3,72 miliar. Diikuti AS sebesar 12,29% atau setara US$2,39 miliar, dan Jepang sebesar 8,76% atau setara US$1,71 miliar. Adapun pangsa ekspor Indonesia di kawasan ASEAN mencapai US$3,68 miliar dan di kawasan Uni Eropa mencapai US$1,58 miliar atau 8,12%.

Kenaikan Surplus Tertinggi

Secara kumulatif, ekspor Januari-Februari 2022 mencapai US$39,64 miliar, naik 29,75% dibanding periode yang sama pada 2021 sebesar US$ 30,55 miliar. Ekspor non migas hingga Februari 2022 tercatat US$ 37,74 miliar atau naik 31,02% (yoy). Alhasil, surplus neraca perdagangan pada Januari-Februari 2022 mencapai US$ 4,79 miliar, merupakan yang  tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Pada periode sama 2017, neraca perdagangan surplus hanya mencapai US$ 2,6 miliar. Kemudian mengalami defisit pada 2018 dan 2019 masing-masing US$ 8,7 miliar dan US$ 3,59 miliar. Memasuki 2020, neraca dagang kembali surplus US$ 1,86 miliar dan meningkat menjadi US$ 3,95 miliar pada 2021. Jadi, surplus neraca perdagangan ini lebih bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Di sisi impor dari Januari-Februari 2022, akumulasinya mencapai US$ 34,85 miliar, meningkat 31,04% dari Januari-Februari 2021 yang hanya US$ 26,59 miliar. Impor barang konsumsi tercatat US$ 2,7 miliar atau naik 4,08%. Lalu impor bahan baku/penolong tercatat US$ 26,6 miliar (naik 34,6%) dan impor barang modal sebesar US$ 5,4 miliar (naik 31,01%).

Yang menarik, BPS mencatat penurunan impor barang konsumsi selama Februari 2022, dipicu oleh penurunan impor produk farmasi.  Total nilai impor barang konsumsi pada Februari 2022 mencapai US$ 1,2 miliar, anjlok 23,85% (mtm). Secara tahunan, impor konsumsi juga turun 3,06% (yoy), terutama karena penurunan produk farmasi, yakni vaksin, yang turun 94,67% dibandingkan Januari 2022.

Selain karena impor vaksin yang turun dari bulan sebelumnya, impor produk hortikultura turut menjadi pemicu utama turunnya impor konsumsi. Dengan rincian untuk impor buah-buahan jeruk mandarin, tercatat turun 90,3% serta buah apel segar yang juga turun 84,24%.

Selain impor barang konsumsi, impor bahan baku/penolong dan barang modal juga mengalami penurunan dibandingkan Januari. Namun, tidak seperti barang konsumsi yang secara tahunan turun, maka impor bahan baku dan barang modal tersebut secara tahunan masih mencatat kenaikan.

Impor bahan baku penolong pada Februari 2022 mencapai US$12,83 miliar. Turun 7,22% (mtm), namun masih mencatat kenaikan tinggi 29,98% (yoy). Sementara, impor barang modal sebesar US$2,6 miliar, turun 7,03% (mtm), namun naik 20,98% (yoy). Jadi, secara tahunan hanya impor barang konsumsi saja yang turun, sedangkan impor bahan baku/penolong dan barang modal masih naik. Tentu ini merupakan kabar baik karena mengindikasikan aktivitas ekonomi domestik terus bergerak.

Yang juga patut dicermati adalah kinerja perdagangan Indonesia dan Tiongkok yang di Februari lalu tercatat masih mengalami defisit sebesar US$ 909,4 juta. Meskipun demikian, defisit perdagangan sudah mengecil dibandingkan periode Januari yang tercatat US$ 2,23 miliar.

Sepanjang Februari 2022, nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok tercatat US$ 3,72 miliar atau naik US$ 208,4 juta. Tiongkok menempati posisi keempat sebagai negara mitra dagang ekspor terbesar Indonesia, setelah India, Swiss dan Korea Selatan.

Sementara itu, nilai impor di bulan yang sama tercatat US$ 4,62 miliar atau mengalami penurunan terdalam dari seluruh penurunan impor Indonesia dari semua negara mitra. Impor dari Tiongkok pada Februari turun US$ 1,2 miliar, merupakan yang terbesar setelah Vietnam, Taiwan, Korea Selatan dan Jepang.

Terdapat beberapa faktor yang memicu penurunan impor dari Tiongkok, yakni produk industri farmasi (kode HS 30) yang turun senilai US$ 103 juta atau 90,58% jika dibandingkan dengan Januari 2022. Selain itu, terjadi penurunan pada mesin peralatan listrik (kode HS 85) yang turun US$ 196,6 juta atau 17,78%. Terakhir penurunan impor besi dan baja (kode HS 72) senilai US$ 97,7 juta atau 28,12%.

Ke depan, defisit dagang dengan Tiongkok diharapkan terus melandai, bukan karena turunnya impor barang konsumsi Indonesia, melainkan karena dorongan lonjakan ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok, meskipun negara Tirai Bambu ini sedang menata perekonomiannya menuju kenormalan baru.

Waspadai Efek Krisis Rusia-Ukraina

Memanasnya tensi geopolitik pasca-agresi militer Rusia ke Ukraina tentu mendapatkan perhatian pemerintah dan kalangan dunia usaha. Memang nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia dan Indonesia-Ukraina masih relatif kecil sehingga tidak memberikan pengaruh signifikan bagi neraca perdagangan Indonesia.

Pada 2021 lalu ekspor Indonesia ke Rusia hanya US$ 1,49 miliar, sedangkan impor US$1,25 miliar sehingga tercatat surplus US$ 239,8 juta. Alhasil pangsa ekspor ke Rusia hanya 0,65% dan pangsa impor juga hanya 0,64%. Adapun memasuki Januari hingga Februari 2022, ekspor ke Rusia tercatat US$ 332,1 juta, sedangkan impor lebih tinggi US$ 347,1 juta, sehingga mengalami defisit US$ 15 juta.

Sementara neraca dagang Indonesia dengan Ukraina pada 2021 lalu untuk ekspor hanya US$ 417 juta, sedangkan impor US$ 1 miliar sehingga mencatat defisit US$ 623,9 juta. Dengan demikian kontribusi ekspor dan impor dengan Ukraina juga tercatat relatif kecil. Pangsa ekspor ke Ukraina pada 2021 hanya 0,18% dan impor 0,53%.

Lebih lanjut, untuk neraca dagang Januari-Februari 2022 antara Indonesia dengan Ukraina, tercatat defisit US$ 6,9 juta. Sebab nilai ekspor dua bulan terakhir hanya US$ 28,7 juta, sedangkan impor mencapai US$ 35,6 juta. Jadi, kalau dilihat kontribusi baik ekspor maupun impor tidak terlalu besar dengan kedua negara tersebut.

Namun, yang perlu dicermati lebih kritis adalah potensi efek samping atau second roun effect berupa terjadinya disrupsi pasokan global karena transportasi antar-negara dan antar-kawasan terganggu.

Disrupsi logistik internasional berpotensi mengganggu kelancaran transmisi modal, barang dan jasa dari dan ke Rusia dan Ukraina. Efek lanjutannya adalah terjadinya lonjakan harga karena ongkos logistik melonjak sebagai dampak kelangkaan bahan baku/penolong maupun barang modal.

Oleh karena itu, mencari negara importir dan eksportir lainnya sebagai alternatif Rusia dan Ukraina menjadi penting sebagai jalan keluar atas disrupsi pasokan global. Dalam konteks pencarian pasar alternatif tersebut, negara-negara lain juga melakukan hal yang sama. Dengan demikian, kesigapan mendapatkan mitra dagang alternatif ini sangat krusial di saat ketidakpastian di kawasan Eropa masih berlanjut.

Maklum, perang Rusia-Ukraina turut mempengaruhi pasokan besi dan baja serta komoditas serealia di dalam negeri. Oleh karena itu, para pengusaha domestik harus mencari dua komoditas tersebut dari negara-negara lain. Prinsipnya, pelaku usaha nasional tidak boleh hanya bergantung pada satu negara saja dalam mengimpor besi baja maupun serealia termasuk gandum. Jika ketegangan masih berlangsung, masih ada negara lain yang bisa mengimpor besi dan baja serta serealia untuk Indonesia.***

*) Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]