Perbankan

Melambat, DPK Perbankan Tumbuh 8,1 Persen di Oktober 2025

Poin Penting

  • Penghimpunan DPK Oktober 2025 mencapai Rp9.153,6 triliun (8,1 persen yoy), turun dari 8,4 persen yoy bulan sebelumnya
  • Sedangkan kredit perbankan tumbuh 6,9 persen yoy, melandai dari 7,2 persen yoy, dengan pertumbuhan tertinggi pada kredit investasi (15 persen yoy)
  • Suku bunga kredit turun ke 9,00 persen, dan suku bunga deposito berbagai tenor juga menurun, mencerminkan pelonggaran kondisi pendanaan perbankan.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Oktober 2025 sebesar Rp9.153,6 triliun atau tumbuh 8,1 persen secara tahunan (year on year/yoy). Ini melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 8,4 persen yoy.

Berdasarkan Analisis Perkembangan Uang Beredar yang diterbitkan BI, pertumbuhan DPK tersebut didorong oleh giro dan simpanan berjangka yang tumbuh masing-masing sebesar 13,2 persen yoy dan 4,9 persen yoy, setelah pada September 2025 tumbuh masing-masing 13,7 persen yoy dan 5,9 persen yoy.

“Sementara itu, tabungan tumbuh sebesar 7,2 persen yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,4 persen yoy,” tulis laporan tersebut, dikutip, Senin, 24 November 2025.

Berdasarkan golongan nasabah, pertumbuhan DPK terutama didorong oleh pertumbuhan DPK korporasi sebesar 15,9 persen yoy. Ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya 15,5 persen yoy.

Baca juga: BI Guyur Likuiditas Rp393 Triliun ke Perbankan per Awal Oktober 2025

Selain itu, kredit yang disalurkan oleh perbankan tumbuh positif. Pada Oktober 2025, kredit tercatat Rp8.106,8 triliun, atau tumbuh 6,9 persen yoy, setelah pada bulan sebelumnya tumbuh 7,2 persen yoy.

Secara rinci, penyaluran kredit kepada debitur korporasi dan perorangan tumbuh masing-masing sebesar 10,2 persen yoy dan 3,0 persen yoy.

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Modal Kerja (KMK) pada Oktober 2025 tumbuh sebesar 2,1 persen yoy, setelah tumbuh sebesar 2,9 persen yoy pada September 2025.

Kemudian, Kredit Investasi (KI) pada Oktober 2025 tumbuh sebesar 15 persen yoy, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 14,4 persen yoy, terutama bersumber dari sektor Pengangkutan dan Komunikasi, serta sektor listrik, gas, dan air bersih.

Sementara itu, Kredit Konsumsi (KK) pada Oktober 2025 tumbuh sebesar 6,9 persen yoy, setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 7,3 persen yoy. Ini didorong oleh perkembangan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), dan Kredit Multiguna

Selain itu, penyaluran kredit properti tumbuh sebesar 5,0 persen yoy, meningkat dibanding pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 4,3 persen yoy terutama berasal dari pertumbuhan kredit kredit real estate sebesar 7,7 persen yoy.

Adapun penyaluran kredit kepada UMKM pada Oktober 2025 terkontraksi sebesar 0,1 persen yoy, setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 0,2 persen yoy.

Kontraksi tersebut dipicu oleh kredit skala mikro dan menengah yang masing-masing terkontraksi sebesar 4,3 persen yoy dan 1,4 persen yoy.

Sementara itu, kredit UMKM pada skala kecil tumbuh sebesar 6,4 persen yoy. Berdasarkan jenis penggunaan, kontraksi kredit UMKM pada Oktober 2025 dipengaruhi oleh Kredit Modal Kerja -4,1 persen yoy.

Baca juga: Indef Optimistis Dana Rp200 T di Bank BUMN Tingkatkan Akses Kredit dan Ekonomi

Di sisi lain, pada Oktober 2025, suku bunga kredit dan suku bunga simpanan mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada September 2025 sebesar 9,00 persen, menurun dibandingkan suku bunga kredit bulan sebelumnya sebesar 9,04 persen.

Suku bunga simpanan berjangka juga menurun pada tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan, masing-masing sebesar 4,33 persen, 4,98 persen, 5,15 persen, dan 4,82 persen, setelah pada September 2025 masing-masing tercatat sebesar 4,61 persen, 5,29 persen, 5,24 persen, dan 4,85 persen.

Sementara itu, suku bunga simpanan berjangka pada tenor 24 bulan dibandingkan suku bunga pada bulan sebelumnya sebesar 4,36 persen. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Agrinas Ikuti Saran Tunda Impor Mobil dari India

Poin Penting Agrinas menyatakan siap menunda rencana impor 105 ribu kendaraan dari India mengikuti arahan… Read More

11 mins ago

Laba Astra Otoparts (AUTO) Tembus Rp2,20 Triliun di 2025, Cetak Rekor Baru

Poin Penting Astra Otoparts (AUTO) membukukan laba bersih Rp2,20 triliun pada 2025, meningkat dari Rp2,03… Read More

23 mins ago

Kemenkeu: Program MBG Serap Anggaran Rp36,6 Triliun hingga 21 Februari

Poin Penting Program MBG telah menyerap Rp36,6 triliun hingga 21 Februari 2026, setara 10,9% dari… Read More

36 mins ago

Respons BSI soal Perpanjangan Penempatan Dana SAL Rp200 Triliun

Poin Penting Pemerintah perpanjang penempatan dana SAL Rp200 triliun hingga September 2026 untuk menjaga likuiditas… Read More

54 mins ago

Harga Emas Antam Cs Naik Serentak, Ini Rincian Lengkapnya

Poin Penting Harga emas Antam, Galeri24, dan UBS kompak naik pada 24 Februari 2026 di… Read More

2 hours ago

Dana Asing Tercatat Inflow Rp1,09 Triliun, Saham Bank Mendominasi

Poin Penting Pada 23 Februari 2026, investor asing mencatat net foreign buy Rp1,09 triliun, meski… Read More

2 hours ago