Direktur Utama Bank Muamalat, Imam Teguh Saptono. (Foto: Ayu Utami S)
Poin Penting
Jakarta – PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Bank Muamalat) menargetkan pertumbuhan kinerja keuangan agresif pada 2026 dengan membidik pembiayaan (lending) tumbuh sekitar 60 persen dan penghimpunan dana pihak ketiga (funding) meningkat sekitar 40 persen. Target ini bagian dari upaya bank memasuki fase turning point (titik balik) setelah penyesuaian bisnis sejak 2018.
Direktur Utama Bank Muamalat, Imam Teguh Saptono menyampaikan, sepanjang 2025 pertumbuhan pembiayaan bank berada di kisaran 12 persen, sementara pertumbuhan funding sekitar 11 persen. Memasuki 2026, fokus pertumbuhan akan dibalik dengan akselerasi pembiayaan yang lebih tinggi dibandingkan funding.
Untuk penghimpunan dana, Bank Muamalat tetap mengandalkan Dana Pihak Ketiga (DPK) berbasis CASA sebagai motor utama pertumbuhan. Loyalitas nasabah disebut menjadi modal terbesar bank syariah pertama di Indonesia.
“Terus terang, loyalitas modal terbesar di Muamalat saat ini adalah loyalitas nasabah. Segmen Bank Muamalat adalah Islamic loyal customer,” ujar Imam, saat ditemui di Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.
Baca juga: Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat
Ia menambahkan, struktur pendanaan tetap solid meski industri perbankan bergejolak. Porsi CASA Bank Muamalat tetap stabil di atas 50 persen.
“Dalam kondisi up and down, CASA kami tetap 50 persen, dan sampai saat ini rata-rata berada di atas 50 persen,” tambahnya.
Penguatan CASA ditopang aktivitas transaksi nasabah melalui aplikasi perbankan digital Muamalat DIN, yang saat ini digunakan oleh sekitar 700 ribu pengguna.
“Muamalat DIN stabil, down time stabil. Sampai saat ini kami tidak pernah punya cerita down time yang signifikan. Pakainya Muamalat DIN itu motor kami, jadi tetap di transaction,” ujar Imam.
Baca juga: Transaksi QRIS Bank Muamalat Tembus 5 Juta, Tumbuh 89 Persen per November 2025
Sementara itu, Bank Muamalat juga mempercepat digitalisasi layanan perhajian seiring rencana Saudi Central Bank (SAMA) untuk sistem pembayaran cashless pada 2028.
“Ini harus dipersiapkan dari sekarang. Sistem yang bisa mendukung ekosistem pembayaran haji. Itu menjadi salah satu roadmap kami di sisi transaction dan funding,” katanya.
Dari sisi pembiayaan, Bank Muamalat mengarahkan portofolio ke Islamic ecosystem, dengan fokus pada sektor rumah sakit, pendidikan dan ekosistem haji.
Segmen konsumer difokuskan pada KPR, pembiayaan haji, dan emas, sedangkan segmen korporasi ditargetkan pada debitur besar, khususnya BUMN.
Page: 1 2
Poin Penting Direksi PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) memborong 162.800 saham pada 26 Februari… Read More
Poin Penting INDEF menilai lonjakan harga pangan membuat masyarakat menengah bawah fokus ke kebutuhan pokok… Read More
Poin Penting Pakar Universitas Padjajaran Yayan Satyakti mengusulkan Indonesia segera impor minyak mentah dari AS… Read More
Poin Penting Inflasi Februari 2026 capai 4,76 persen yoy, didorong kenaikan IHK dari 105,48 menjadi… Read More
Poin Penting Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Februari 2026 sebesar 0,68 persen (mtm), dengan IHK… Read More
Poin Penting Nadiem Makarim mendirikan Gojek (2010) hingga merger dengan Tokopedia membentuk GoTo Group pada… Read More