News Update

Masuk BEI, Danantara Dinilai Bisa Jadi Market Balancer

Poin Penting

  • Berstatus sovereign wealth fund, Danantara adalah market player, bukan pengawas. Fungsi regulator tetap di OJK.
  • Kehadiran Danantara dinilai bisa jadi market driver dan balancer, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.
  • Pasar disebut tengah rebalancing berbasis fundamental, dan Danantara tetap berinvestasi disiplin pada aset berkualitas.

Jakarta – Pengamat Ekonomi dan Pasar Modal Farid Subkhan, menilai kekhawatiran terhadap potensi pengaruh Danantara Indonesia di pasar modal dinilai terlalu dini.

Menurutnya, Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) berperan strategis untuk mengelola aset negara dan melakukan investasi untuk menghasilkan return yang optimal bagi negara. Terkait kepemilikan saham di pasar bursa, Danantara Indonesia tidak dapat dipandang sebagai regulator.

“Danantara bukan regulator. Danantara adalah salah satu market player dalam perekonomian. Kepemilikan saham pada institusi publik berfungsi sebagai investasi untuk mendapatkan gain tertentu,” ujar Farid, dalam keterangannya, Jumat, 6 Februari 2026.

Ia menilai, Danantara Indonesia dalam hal ini berfungsi sebagai market driver dan market balancer. Dalam menjalankan fungsi tersebut, kata dia, Danantara mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di berbagai sektor, baik sektor riil maupun sektor keuangan, juga investasi dalam dan luar negeri. 

“Termasuk untuk menjaga daya saing perusahaan negara dalam persaingan global dan memperkuat daya saing ekonomi nasional,” kata pria yang aktif sebagai pengurus KADIN ini.

Terkait dengan keterlibatan Danantara Indonesia dalam menanamkan investasi di pasar modal, menurut Farid, hal tersebut bukanlah sebagai regulator, melainkan sebatas market player dalam perekonomian. Pihak yang menjalankan fungsi regulator dalam hal ini adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

“Wajar bila Danantara memiliki penyertaan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena hal itu merupakan praktik investasi yang sangat lazim,” ujarnya.

Baca juga: Moody’s Pangkas Outlook RI Jadi Negatif, Airlangga: Perlu Penjelasan Soal Peran Danantara

Farid juga mencontohkan hal serupa terjadi di negara maju. Seperti Singapura yang memiliki saham di Singapore Exchange (SGX), Qatar Investment Authority yang memiliki saham di Qatar Stock Exchange dan London Stock Exchange, dan China Investment Corporation (CIC) yang memiliki saham di Shanghai Stock Exchange, Shenzhen Stock Exchange, Hong Kong Exchanges & Clearing, hingga London Stock Exchange.

Sementara agar tidak terjadi tumpang tindih, Farid menyarankan agar OJK sebagai regulator dapat mengatur dan mengawasi operator dan pasar perdagangan saham dan uang. Ini penting dilakukan untuk memastikan BEI bisa menjalankan tugasnya secara transparan, adil, akuntabel dan pro pasar.

“Baik pasar domestik maupun pasar internasional, OJK tidak dipengaruhi oleh pemegang saham Bursa Efek Indonesia. OJK merupakan otoritas keuangan negara yang sangat kredibel dan independen.Tidak ada yang mempersoalkan itu, bahkan harus terus diperkuat,” kata pengajar di Universitas Perbanas ini.

Farid berharap, keberadaan exchange atau pasar modal seperti BEI adalah sebagai operator dan fasilitator perdagangan dan investasi bagi para investor, baik investor institusi besar maupun investor ritel.

Ia menilai bahwa BEI harus dapat menjamin semua kepentingan investor, baik institusi maupun ritel. Dengan adanya investor besar, termasuk Danantara Indonesia pada BEI, Ia meyakini hal tersebut bisa membuat BEI menjadi lebih berpihak pada pasar.

Baca juga: Apa Untungnya Danantara Masuk Bursa Saham? Ini Kata Pakar

“Ruang itu harus dibuka, termasuk kepada institusi besar lainnya supaya BEI lebih kompetitif di pasar global,” katanya menambahkan.

Sementara itu, Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menyampaikan pergerakan pasar dalam beberapa hari terakhir menunjukkan proses penyesuaian yang berjalan secara tertib dan mulai menemukan keseimbangan.

Setelah sempat terjadi volatilitas, pasar pada perdagangan hari ini terlihat mulai rebound, mencerminkan respons investor yang semakin rasional dan selektif.

“Sejak awal, kami melihat dinamika pasar ini secara utuh dan proporsional. Meski sempat terjadi penyesuaian jangka pendek, pasar relatif cepat menunjukkan sinyal pemulihan, seiring kembalinya minat terhadap saham-saham dengan fundamental dan likuiditas yang kuat,” ujar Pandu.

Menurutnya, pergerakan tersebut mengonfirmasi bahwa pasar tengah melakukan rebalancing berbasis kualitas aset. Dalam konteks yang lebih luas, tekanan dan volatilitas yang terjadi juga bersifat regional dan global, bukan fenomena yang berdiri sendiri di Indonesia.

“Aset-aset yang tetap diminati adalah perusahaan dengan fundamental yang solid, arus kas yang sehat, valuasi yang menarik, dan likuiditas memadai. Ini menunjukkan bahwa mekanisme pasar bekerja dan penyesuaian berlangsung secara rasional,” katanya. 

Untuk itu, volatilitas jangka pendek dinilai sebagai bagian dari dinamika normal pasar, sementara keputusan investasi tetap relevan dilihat dalam horizon menengah hingga panjang.

Pandu menegaskan bahwa Danantara Indonesia beroperasi sebagai market participant dan berinvestasi dengan disiplin yang sama seperti pelaku pasar lainnya. 

“Sebagai market participant, Danantara aktif berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental kuat, valuasi yang atraktif, arus kas yang sehat, serta likuiditas yang baik. Kami tetap percaya pada prospek ekonomi Indonesia dan daya tarik aset domestik,” ujarnya.

Ia menambahkan, Danantara Indonesia mendukung langkah-langkah penguatan struktur pasar bersama para pemangku kepentingan, dengan fokus pada peningkatan keterbukaan informasi dan penguatan tata kelola. 

“Pendalaman teknis dan implementasi yang terukur menjadi kunci agar reformasi pasar berjalan berkelanjutan dan memperkuat kepercayaan investor,” kata Pandu.

Pandu juga mencatat respons cepat regulator dan penyelenggara pasar sebagai sinyal positif. Sejalan dengan itu, Danantara Indonesia telah berdiskusi dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan akan terus berkoordinasi dengan MSCI, self-regulatory organizations (SRO), serta OJK untuk mendukung penguatan pasar modal secara berkelanjutan. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Moody’s Turunkan Outlook Indonesia, BI Tegaskan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Poin Penting BI menilai penurunan outlook Moody’s tidak mencerminkan pelemahan ekonomi domestik. Stabilitas sistem keuangan… Read More

2 hours ago

Bantah Terkait Dugaan Kasus Pidana Pasar Modal, Berikut Klarifikasi Lengkap BUVA

Poin Penting PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menegaskan tidak memiliki keterlibatan, baik langsung maupun… Read More

3 hours ago

Ekonomi RI Tumbuh 5,11 Persen, Celios: Dari Mana Sumber Pertumbuhannya?

Poin Penting Celios pertanyakan pertumbuhan PDB 5,11 persen dipertanyakan, pasalnya konsumsi rumah tangga & PMTB… Read More

3 hours ago

Purbaya Lantik 43 Pejabat Pajak dan DJA, Ini Daftar Lengkapnya

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melantik 40 pejabat eselon II di DJP dan… Read More

5 hours ago

Laba BCA Digital Melonjak 98 Persen Jadi Rp213,4 Miliar di 2025

Poin Penting BCA Digital raih laba Rp213,4 miliar, ditopang DPK Rp14,3 triliun (+22%) dan kredit… Read More

5 hours ago

OJK Targetkan Kredit Tumbuh 12 Persen di 2026, Begini Tanggapan Bankir

Poin Penting Pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan 10–12 persen, lebih tinggi dari target 2025 sebesar 9–11… Read More

6 hours ago