Ilustrasi: Kantor Bukalapak. (Foto: istimewa)
Jakarta – Sejak melantai di bursa pada 6 Agustus 2021, PT Bukalapak (BUKA) masih mengantongi dana hasil penawaran umum sebesar Rp9,33 triliun per Desember 2024. Lalu, bagaimana BUKA mengelola dana tersebut dan strategi ekspansi seperti apa yang dilakukan?
Menurut Victor Lesmana, Direktur Bukalapak, dana hasil IPO dilakukan untuk pengembangan bisnis baik itu organik maupun anorganik. Baik itu produk development atau melakukan akuisisi.
“Adapun dana yang ada kami tempatkan di instrumen-instrumen yang secure, apakah itu deposito di bank yang berkinerja solid, obligasi pemerintah, serta pasar uang,” ujarnya menjawab pertanyaan Infobanknews.com, 29 Juli 2025.
Baca juga: Pendapatan Tumbuh 37 Persen, Laba Bersih Bukalapak jadi Segini di Kuartal I 2025
Untuk akuisisi BUKA terus membuka mata untuk melihat opportunity yang ada. Baik yang ada di empat pilar bisnis seperti gaming, ritel, investasi, dan mitra Bukalapak, maupun pilar lain yang sejalan dengan Bukalapak.
“Kami terus looking for the right opportunity, right price, punya business model yang bagus, fundamental yang kuat, dan manajemennya solid,” jelas Victor.
Baca juga: Bukalapak Beberkan Alasan dari Penghentian Penjualan Produk Fisik
Pada awal tahun 2025, BUKA menutup bisnis e-commerce sebagai upaya untuk mencapai EBITDA positif dan memastikan keberlanjutan bisnis yang sehat dan menguntungkan.
Per Juni 2025, BUKA membukukan kenaikan revenue 12 persen dan adjustment EBITDA juga meningkat 30 persen, di mana terjadi perbaikan dari minus Rp20 miliar pada kuartal satu menjadi minus Rp14 miliar di kuartal kedua 2025.
Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More
Pada ajang tersebut, CIMB Niaga meraih tiga penghargaan, masing-masing pada kategori Produk Wealth Management untuk… Read More
Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More
Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More
Poin Penting OJK mulai membuka informasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration) di… Read More
Poin Penting AAUI menyebut industri kesulitan memenuhi modal minimum tahap I 2026. Minat pemegang saham… Read More