Keuangan

Masih Dihantui Pinjol Ilegal dan Gagal Bayar, Begini Prospek Bisnis Pindar 2026

Poin Penting

  • Outstanding pindar mencapai Rp94,85 triliun per November 2025, tumbuh 25,45 persen yoy, namun masih kecil dibanding kebutuhan pembiayaan nasional dan credit gap besar
  • Credit gap UMKM diproyeksikan menembus Rp2.400 triliun pada 2026, menjadikan pindar instrumen penting inklusi keuangan
  • Eskalasi risiko kredit dan rendahnya literasi keuangan masih membayangi, tercermin dari TWP90 naik ke 4,33 persen dan maraknya pinjol ilegal

Jakarta – Outstanding pembiayaan pinjaman daring (pindar) per November 2025 tercatat sebesar Rp94,85 triliun, tumbuh 25,45 persen secara tahunan. Berdasarkan angka tersebut membuktikan bahwa pindar telah menjadi salah satu pilar pembiayaan non-bank yang penting.

Meski demikian, skala tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan pembiayaan nasional. Selain itu, Indonesia juga masih menghadapi credit gap yang signifikan, seiring dengan keberadaan sekitar 46,6 juta UMKM dan 132 juta individu yang belum memiliki akses terhadap kredit formal.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Entjik S. Djafar, menyatakan kondisi ini menempatkan pindar sebagai instrumen strategis dalam agenda inklusi keuangan nasional, khususnya bagi segmen yang belum terlayani perbankan.

Baca juga: Sumber Pendanaan Pindar Didominasi Perbankan, Nilainya Tembus Rp60,79 Triliun

Menurutnya, tantangan industri pindar ke depan bukan lagi soal seberapa cepat mengalami pertumbuhan, tetapi bagaimana industri pindar tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Credit gap yang masih sangat besar merupakan peluang sekaligus tanggung jawab bagi industri untuk menghadirkan pembiayaan yang tepat sasaran, produktif, dan terkelola dengan baik,” ucap Entjik dikutip, 23 Januari 2026.

Dari sisi peluang tersebut, credit gap UMKM diproyeksikan mencapai Rp2.400 triliun pada 2026 menempatkan pindar sebagai instrumen strategis dalam agenda inklusi keuangan.

Tantangan Pindar

Dari sisi tantangan di industri pindar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggarisbawahi dua risiko yang masih mengemuka, yakni eskalasi risiko kredit dan ketimpangan literasi keuangan di kalangan masyarakat.

Belum seimbangnya penetrasi teknologi dan literasi keuangan memperbesar kerentanan masyarakat terhadap keputusan berutang impulsif dan berpotensi meningkatkan risiko kredit macet.

Baca juga: Pendanaan Pindar Diprediksi Menanjak di Periode Ramadan, Begini Kata OJK

Sebagai informasi, tingkat wanprestasi dalam 90 hari (TWP90) naik ke 4,33 persen pada November 2025, dengan 24 penyelenggara mencatat rasio di atas 5 persen.

Tantangan lainnya adalah perjalanan industri pindar masih diikuti oleh maraknya praktik pinjol ilegal
yang memanfaatkan rendahnya literasi keuangan dan tingginya kebutuhan dana.

Namun sepanjang 2025, OJK melalui Satgas PASTI telah berhasil menutup ribuan entitas pinjol
illegal dan menghapus 2.263 entitas yang kerap melakukan praktik agresif serta penyalahgunaan data.

Di sisi lain, maraknya kasus gagal bayar jadi tantangan lainnya yang tengah dihadapi industri pindar. Teranyar ada kasus pindar Dana Syariah Indonesia yang gagal bayar lender. Sebelumnya, ada Investree, TaniFund dan Akseleran. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Kantongi Restu OJK, Panji Irawan Efektif Jabat Dirut Bank Mandiri Taspen

Poin Penting Panji Irawan resmi efektif menjabat Dirut Bank Mandiri Taspen sejak 21 Januari 2026… Read More

2 mins ago

Era Baru Risiko, CFO Tak Bisa Lagi Bergantung pada Asuransi

Poin Penting Risiko bisnis kini makin kompleks dan saling terkait, tidak lagi bisa ditangani dengan… Read More

19 mins ago

Uang Beredar Tumbuh 9,6 Persen Jadi Rp10.133 Triliun per Desember 2025

Poin Penting Uang beredar luas (M2) pada Desember 2025 tumbuh 9,6 persen (yoy) menjadi Rp10.133,1… Read More

40 mins ago

Mengapa Dana Pemerintah Tak Langsung Diserap Sektor Riil? Ini Jawaban Calon DG BI Solikin

Poin Penting Dana pemerintah Rp276 triliun yang ditempatkan di perbankan belum terserap ke ekonomi riil… Read More

52 mins ago

Bank Kaltimtara Jadi Andalan Pembangunan Daerah, Ini Catatan DPR

Poin Penting Komisi II DPR RI menegaskan peran strategis Bank Kaltimtara sebagai penggerak pembangunan dan… Read More

53 mins ago

Calon DG BI Solikin Bicara Soal Independensi Bank Sentral

Poin Penting Calon DG BI Solikin M. Juhro menegaskan independensi BI tetap terjaga sesuai mandat… Read More

1 hour ago