Moneter dan Fiskal

Marak Transaksi Virtual Diduga Jadi Alasan BI Kaji Rupiah Digital

Jakarta – Rencana Bank Indonesia (BI) yang akan melakukan uji coba terhadap teknologi rantai blok (blokchain) yang menjadi teknologi dasar keberadaan mata uang digital/virtual (cryptocurrency) dianggap akan memberikan dampak positif khususnya dari sisi efisiensi di industri sistem pembayaran.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, langkah yang dilakukan BI tersebut menunjukkan bahwa BI mengakui keberadaan mata uang digital seperti Bitcoin memiliki banyak manfaat bagi industri sistem pembayaran dan sektor-sektor lainnya.

Menurut dia, alasan BI yang akan mengembangkan teknologi blokchain dengan melakukan uji coba mata uang digital ini, juga sejalan dengan maraknya mata uang digital seperti Bitcoin dan sebagainya yang dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap stabilitas sistem keuangan nasional di tengah terus berkembangnya teknologi.

“Iya (BI) khawatir banyak transaksi virtual yang tidak dicatat BI, termasuk adanya risiko devisa bocor,” ujarnya saat dihubungi, di Jakarta, Selasa, 30 Januari 2018.

Tak menutup kemungkinan dengan adanya uji coba ini maka mata uang rupiah yang diedarkan saat ini bisa berubah menjadi digital. Pasalnya, teknologi mata uang digital ini akan mulai diujicobakan BI pada tahun ini. Kajian penggunaan mata uang digital oleh BI ini juga telah dilakukan oleh bank sentral di negara-negara lain.

“Artinya BI juga mengakui bahwa teknologi dibelakang Bitcoin atau dikenal dengan istilah Blockchain mempunyai banyak manfaat. Salah satunya blockchain bisa membuat transaksi keuangan lebih efisien. Namun sayang bukan dikelola dan diawasi oleh Negara,” ucapnya.

Kendati demikian, kata dia, langkah BI yang akan melakukan kajian terkait dengan ujicoba blockchain serta mata uang digital tetap harus memerhatikan berbagai risiko. Dirinya mengingatkan agar pelaku pasar jangan sampai menjadikan rupiah sebagai lahan spekulasi sehingga nilainya terlalu fluktuatif.

“Ini harus diperhatikan jangan sampai rupiah dijadikan lahan spekulasi sehingga nilai nya terlalu fluktuatif. Kemudian rasio uang beredar terhadap barang harus di atur sehingga tidak menimbulkan gejolak inflasi,” tegasnya.

Di sisi lain, guna mendukung wacana BI untuk melakukan kajian terkait dengan blockchain serta mata uang digital ini, maka BI juga harus menyiapkan payung hukum yang tertuang dalam Peraturan BI. Selain itu, BI juga harus mewajibkan laporan rutin bagi platform uang virtual ke BI terkait data nasabah, jumlah transaksi dan lainnya.

“Langkah lainnya, keamanan sistem dengan melakukan uji coba secara berkala dan bekerjasama dengan pihak ketiga yang bersertifikasi internasional jadi kemungkinan transaksi tidak terlacak serta hacker jadi minim,” tutupnya. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

OJK Tunjuk Bank Kalsel Jadi Bank Devisa, Potensi Transaksi Rp400 Triliun

Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More

3 hours ago

Riset Kampus Didorong Jadi Mesin Industri, Prabowo Siapkan Dana Rp4 Triliun

Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More

3 hours ago

Peluncuran Produk Asuransi Heritage+

PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More

3 hours ago

DPR Desak OJK Bertindak Cepat Cegah Korban Baru di Kasus DSI

Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More

3 hours ago

Penyerahan Sertifikat Greenship Gold Gedung UOB Plaza

UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More

7 hours ago

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

10 hours ago