Headline

Mandiri-1 Kemungkinan Besar Orang Dalam

DIREKTUR utama (dirut) Bank Mandiri pengganti Budi G Sadikin (BGS) kemungkinan besar adalah bankir dari dalam organisasi Bank Mandiri. Ini melanjutkan tradisi dan praktek kepemimpinan terbaik di Bank Mandiri, di mana program suksesi berhasil memunculkan pemimpin baru dari dalam organisasi sejak 10 tahun terakhir. Kepastian siapa yang bakal menjadi Mandiri-1 akan ditentukan pada rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang salah satu agendanya mengangkat dirut baru untuk menggantikan Budi G Sadikin (BGS) yang habis periode jabatannya.

Dua pekan terakhir nama kandidat yang menguat menjadi enam orang yaitu, Rokye Tumilar, Pahala Mansyuri, dan  Kartiko Wirjoatmodjo, di mana ketiganya adalah bankir yang sekarang aktif menjadi anggota dewan direksi Bank Mandiri. Dua kandidat lainnya adalah eks Bank Mandiri yaitu Sunarso yang saat ini menjadi Wakil Dirut BRI dan Maryono yang kini menahkodai BTN. Satu nama lain adalah Elvyn G Masassya, eks bankir PermataBank dan BNI, yang baru saja mengakhiri masa tugasnya sebagai dirut BPJS Ketenagakerjaan.

Pagi ini sebelum RUPST digelar pukul 14.00 mengerucut lagi menjadi dua nama yang bakal menduduki kursi Mandiri-1. Siapakah dia? Sumber internal di Bank Mandiri  mengatakan kepada Infobank, bahwa pengganti BGS adalah kemungkinan besar dari dalam organisasi bank yang per 2015 beraset Rp910 triliun dengan laba bersih Rp20,30 triliun dan harga saham hari ini (21/3) Rp10.250 per lembar.

Sebelumnya atau sejak empat bulan lalu ada 10 nama yang disebut-sebut sebagai kandidat pengganti BGS. Selain enam nama tersebut, ada empat nama lain yang masuk dalam bursa kandidat Mandiri1 yaitu Asmawi Sjam (Dirut BRI), Sofyan Basir (Dirut PLN), Hendi Prio Santoso (Dirut PGN), dan Haryanto T Budiman (Senior Country Officer JP Morgan di Indonesia).

Di luar kebiasaan, RUPST yang biasa digelar pada pukul 10.00 kali ini diadakan pukul 14.00. Apakah ini untuk mengulur waktu karena masih ada tarik-menarik kepentingan tentang penunjukkan Mandiri-1, yang jelas pemilihan pemimpin perusahaan pelat merah sudah biasa diwarnai dengan berubahnya keputusan nama. Tidak usah heran jika keputusan RUPST menghasilkan kejutan di luar skenario karena sudah menjadi kebiasaan penentuan pemimpin perusahaan BUMN di detik-detik terakhir ada intervensi baik dari pemerintah maupun titipan partai politik. (KM)

Redaksi

Recent Posts

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

43 mins ago

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

5 hours ago

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

13 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

14 hours ago

UMP 2026 Tuai Pro Kontra, Kadin Tekankan Pentingnya Jaga Daya Saing Indonesia

Poin Penting Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai penetapan UMP 2026 memiliki pro dan… Read More

14 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

15 hours ago