Ilustrasi: BI pangkas suki bunga acuan jadi 6 persen pada September 2024. (Foto: Erman Subekti)
Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memandang ruang penurunan lanjutan untuk suku bunga acuan BI7DDR dan kebijakan moneter yang akomodatif cukup terbuka hingga akhir tahun. Hal tersebut sejalan dengan
meningkatnya risiko perlambatan ekonomi serta proyeksi inflasi yang rendah.
“Disisi lain, langkah the Fed dan central bank negara lain dalam melakukan pelonggaran, risiko volatilitas di pasar keuangan, risiko kinerja neraca transaksi berjalan serta respon pelaku ekonomi terhadap pemangkasan BI7DDR akan menjadi faktor pertimbangan lain yang menentukan penurunan lanjutan suku bunga moneter,” kata Pgs Direktur Grup Surveilans dan Stabilitas Sistem Keuangan Samsu Adi Nugroho dalam keterangannya di Jakarta, Senin 16 September 2019.
Dirinya juga menyebut, dengan penurunan BI7DRR dalam 2 periode terakhir, arah suku bunga antar bank (JIBOR) di semua tenor berpeluang turun secara gradual merespon penurunan yang ditempuh BI dan kondisi likuiditas antar bank yang relatif stabil.
Sebelumnya, pasca pemangkasan tingkat bunga Fed rate pada periode Juli, tekanan Presiden Trump terhadap pemangkasan lanjutan semakin menguat. Pernyataan dari beberapa mantan ketua dan anggota dewan gubernur The Fed memperkuat fakta bahwa Federal Reserve saat ini berada di bawah tekanan politik kuat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di pihak lain The Fed secara terbuka tetap berargumen bahwa kebijakan Federal Reserve dipandu sepenuhnya oleh mandat kongres untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja dan tidak memasukkan pertimbangan politik dalam mengambi keputusan.
Sebagai informasi saja, hasil rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Agustus 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%. Kebijakan pelonggaran lanjutan pada bulan lalu ditempuh sejalan dengan dengan rendahnya prakiraan inflasi dan langkah pre-emptive mendorong momentum pertumbuhan ekonomi di tengah risiko perlambatan ekonomi global.
Strategi moneter dan kebijakan makroprudensial juga tetap diarahkan untuk memastikan ketersediaan likuiditas dan akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian. (*)
Editor: Rezkiana Np
Poin Penting IHSG sempat turun tajam hingga 7.654 dan memicu trading halt dua kali akibat… Read More
Poin Penting Amartha optimistis pembiayaan UMKM, khususnya segmen ultra mikro, tetap tumbuh karena kebutuhan modal… Read More
Poin Penting Pertamina resmi membentuk Sub Holding Downstream (SHD) untuk mengintegrasikan Patra Niaga, Kilang Pertamina… Read More
Poin Penting Pertumbuhan hijau dinilai Anindya Bakrie sebagai bagian inti strategi pertumbuhan nasional, mencakup ekonomi,… Read More
Poin Penting BTN menggelar Run for Disabilities sebagai bagian Road to BTN Jakim 2026, menegaskan… Read More
Poin Penting BTN menegaskan komitmen ESG dan inklusivitas melalui BTN Run for Disabilities dengan melibatkan… Read More