News Update

LPS Pandang Penurunan Bunga Acuan Masih Terbuka, Ini Faktornya

Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memandang ruang penurunan lanjutan untuk suku bunga acuan BI7DDR dan kebijakan moneter yang akomodatif cukup terbuka hingga akhir tahun. Hal tersebut sejalan dengan
meningkatnya risiko perlambatan ekonomi serta proyeksi inflasi yang rendah.

“Disisi lain, langkah the Fed dan central bank negara lain dalam melakukan pelonggaran, risiko volatilitas di pasar keuangan, risiko kinerja neraca transaksi berjalan serta respon pelaku ekonomi terhadap pemangkasan BI7DDR akan menjadi faktor pertimbangan lain yang menentukan penurunan lanjutan suku bunga moneter,” kata Pgs Direktur Grup Surveilans dan Stabilitas Sistem Keuangan Samsu Adi Nugroho dalam keterangannya di Jakarta, Senin 16 September 2019.

Dirinya juga menyebut, dengan penurunan BI7DRR dalam 2 periode terakhir, arah suku bunga antar bank (JIBOR) di semua tenor berpeluang turun secara gradual merespon penurunan yang ditempuh BI dan kondisi likuiditas antar bank yang relatif stabil.

Sebelumnya, pasca pemangkasan tingkat bunga Fed rate pada periode Juli, tekanan Presiden Trump terhadap pemangkasan lanjutan semakin menguat. Pernyataan dari beberapa mantan ketua dan anggota dewan gubernur The Fed memperkuat fakta bahwa Federal Reserve saat ini berada di bawah tekanan politik kuat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di pihak lain The Fed secara terbuka tetap berargumen bahwa kebijakan Federal Reserve dipandu sepenuhnya oleh mandat kongres untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja dan tidak memasukkan pertimbangan politik dalam mengambi keputusan.

Sebagai informasi saja, hasil rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Agustus 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50%. Kebijakan pelonggaran lanjutan pada bulan lalu ditempuh sejalan dengan dengan rendahnya prakiraan inflasi dan langkah pre-emptive mendorong momentum pertumbuhan ekonomi di tengah risiko perlambatan ekonomi global.

Strategi moneter dan kebijakan makroprudensial juga tetap diarahkan untuk memastikan ketersediaan likuiditas dan akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian. (*)

Editor: Rezkiana Np

Suheriadi

Recent Posts

Catat Kinerja Solid di 2025, Tugu Insurance Terus Memperkuat Fundamental Bisnis

Tugu Insurance/TUGU telah mencatatkan kinerja solid sepanjang tahun buku 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar… Read More

5 hours ago

Purbaya Pertimbangkan Barter Geo Dipa untuk Akuisisi PNM

Poin Penting Kemenkeu mempertimbangkan skema pertukaran PNM dengan Geo Dipa untuk memperkuat penyaluran KUR. Fokus… Read More

6 hours ago

Resmi! BRI Bagikan Dividen Rp52,1 Triliun, Cek Nilai per Sahamnya

Poin Penting BRI membagikan dividen tunai Rp52,1 triliun atau Rp346 per saham untuk Tahun Buku… Read More

6 hours ago

Tren Kinerja Positif, Bank Banten Kelola RKUD Pemkab Serang

Dengan tren pencapaian kinerja perusahaan yang gemilang hingga Tahun 2025, Bank Banten berhasil dipercaya dan… Read More

6 hours ago

Ahli Tegaskan Kasus Sritex Bukan Korupsi, Eks Dirut Bank Jateng Dinilai Tak Layak Dipidana

Poin Penting Dua ahli hukum menilai kasus kredit macet Sritex merupakan ranah perdata dan risiko… Read More

6 hours ago

OJK Siapkan Aturan Baru RBB, Begini Respons Purbaya

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendukung rencana OJK menyesuaikan RBB agar perbankan lebih… Read More

8 hours ago