Ilustrasi: Kantor LPS. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyampaikan bahwa pihaknya saat ini terus mengkaji atau menghitung terkait dengan limit Program Penjaminan Polis (PPP) bagi pemegang polis.
Direktur Eksekutif Surveilans, Data, dan Pemeriksaan Asuransi LPS, Suwandi, mengatakan kredibilitas PPP salah satunya ditentukan oleh cakupan perlindungan, dengan jumlah ideal minimal 90 persen nasabah terlindungi.
“Nah, kita masih hitung. Masih dihitung berapa biaya kira-kira yang memenuhi 90 persen minimal (pemegang polis),” ujar Suwandi dalam Temu Media Nasional dikutip, Senin, 8 Desember 2025.
Baca juga: Berpotensi Dipercepat, LPS Siap Jalankan Program Penjaminan Polis pada 2027
Kemudian, dari sisi risiko, LPS memastikan bahwa perusahaan asuransi yang akan masuk dalam PPP harus berada dalam kondisi sehat. Jika terjadi kegagalan perusahaan asuransi, LPS akan menyiapkan pendanaan untuk menutupi kebutuhan sesuai ketentuan.
“Kalau itu (perusahaan asuransi gagal) yang terjadi, maka LPS pasti akan menggunakan banyak funding untuk menutupi kebutuhan dalam perusahaan asuransi yang akan ditemukan. Walaupun diundang-undang sudah ada solusinya, yaitu ada istilahnya pinjaman antar program,” imbuhnya.
Berdasarkan hal itu, Suwandi menjelaskan bahwa perusahaan asuransi dapat menutup kebutuhan dananya melalui mekanisme pinjaman dari penjamin perbankan.
“Tapi sifatnya kan pinjaman yang harus dikembalikan. Yang menjadi beban siapa? Yang menjadi beban adalah nanti industri asuransi lagi. Jadi nggak boleh menggunakan sumber dananya dari industri asuransi atau dari perbankan dipakai untuk asuransi,” ujar Suwandi.
Baca juga: Implementasi PPP Diharapkan Mampu Tingkatkan Penetrasi Asuransi di Indonesia
Sebagai informasi, LPS menyebutkan bahwa mandat UU P2SK terkait implementasi PPP berpotensi dipercepat menjadi tahun 2027 dari target semula 2028.
Percepatan itu dapat terealisasi apabila Rancangan Perubahan UU P2SK ditetapkan pada 2025 dan Rancangan PP terkait PPP ditetapkan paling lambat akhir triwulan I 2026. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Pada perdagangan 9 Februari 2026, investor asing membukukan net foreign sell sebesar Rp599,51… Read More
Poin Penting Antrean KJP Februari 2026 wajib daftar online melalui Dharma Jaya atau Pasar Jaya.… Read More
Poin Penting IHSG sesi I ditutup menguat 1,26 persen ke level 8.132,75 pada perdagangan Selasa… Read More
Poin Penting BPNT dan PKH tahap I 2026 cair Februari untuk sekitar 18 juta KPM.… Read More
Poin Penting KPR BTN tumbuh double digit sepanjang 2025, dengan KPR Subsidi naik 10% yoy… Read More
Jakarta - FTSE Russell mengumumkan akan melakukan penundaan review indeks Indonesia untuk periode Maret 2026.… Read More