Perbankan

LPS Himbau Bank Digital Waspadai Ancaman Siber

Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memandang, fenomena perkembangan perbankan digital saat ini memiliki potensi manfaat dan dampak positif yang besar. Namun begitu, perbankan digital juga mengandung beberapa risiko dan tantangan yang perlu dimitigasi seperti risiko kepatuhan digital, keamanan siber, serta risiko operasional lainnya yang terkait dengan digital.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa dalam seminar Infobank bertema “Retail Bank Mapping 2022, The Rise of Neobank vs Cyber Crime”, Kamis, 17 Februari 2022 mengatakan, bagi perbankan, gelombang ekonomi digital memberikan dampak positif untuk perbaikan manajemen dan permodalan dari sejumlah bank kecil. Beberapa bank kini bertransformasi menjadi bank digital yang inovatif.

“Harapan masyarakat terhadap bank digital juga semakin tinggi, yang tercermin dari harga saham bank digital yang cenderung tinggi,” ujar Purbaya.

Salah satu risiko yang muncul dengan semakin berkembangnya perbankan digital adalah ancaman kejahatan siber, seperti misalnya social engineering yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tertentu dan skimming atau tindak pencurian informasi dengan cara menyalin informasi nasabah yang terdapat pada strip magnetik kartu kredit, atau debit yang dilakukan secara ilegal.

“Kami ingin menekankan perihal pentingnya praktik manajemen risiko yang memadai, baik oleh bank tradisional maupun bank digital,” ucapnya.

Namun, dalam lingkup yang lebih lebih luas, bank digital memiliki potensi untuk meningkatkan skala ekonomis, dengan mengandalkan model bisnis yang berbasis connectivity, tanpa perlu diikuti dengan penambahan jumlah jaringan fisik kantor cabang. Hal ini tentunya berdampak positif terhadap fungsi intermediasi perbankan, khususnya melalui perluasan akses layanan perbankan kepada masyarakat unbankable dan UMKM.

Berdasarkan data KADIN meski UMKM berkontribusi 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan 97% penyerapan tenaga kerja, namun baru 25% UMKM yang menerima pembiayaan yang dibutuhkan. “Bank digital, bersama dengan ekosistem digital lain, seperti fintech, juga berpotensi untuk meningkatkan inklusivitas layanan keuangan,” tutup Purbaya. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Asbisindo Institute–VOCASIA Hadirkan E-Learning untuk Perkuat Kompetensi Bankir Syariah

Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More

7 hours ago

Penyelundupan BBM Subsidi Marak, DPR Desak Pengawasan Diperketat

Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More

12 hours ago

Grab Luncurkan 13 Fitur Baru Berbasis AI, Apa Saja?

Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More

12 hours ago

Indonesia SIPF Siapkan Consultation Paper, Ini Tujuannya

Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More

12 hours ago

BI Sinyalkan Ruang Penurunan BI Rate Kian Sempit, Dampak Konflik Timur Tengah

Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More

12 hours ago

Lo Kheng Hong Borong Saham Intiland dan Gajah Tunggal, Ini Profilnya

Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More

13 hours ago