Perbankan

LPS Dorong BPR Tingkatkan Tata Kelola dan Keamanan Siber

Poin Penting

  • Risiko BPR/BPRS meningkat, terutama pada bank dengan permodalan rendah, dipicu lemahnya tata kelola, keterbatasan profesionalisme, operasional, kepemilikan tunggal, serta ancaman siber.
  • LPS menekankan penguatan infrastruktur dan teknologi informasi, khususnya sistem core banking, sebagai langkah strategis
  • Kinerja BPR/BPRS tumbuh terbatas, dengan kredit dan aset BPR naik moderat, sementara pembiayaan BPRS justru mengalami kontraksi tajam meski aset dan DPK masih tumbuh.

Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai potensi ancaman masih menghantui para pelaku bank perekonomian rakyat (BPR) dan bank perekonomian rakyat syariah (BPRS) di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Anggito Abimanyu, Ketua Dewan Komisioner LPS dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK), Selasa, 27 Januari 2026.

“LPS mencermati meningkatnya risiko keuangan pada bank yang permodalan rendah, khususnya untuk BPR dan BPRS. Tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi keuangan, tetapi juga oleh pelemahan tata kelola, keterbatasan profesionalisme dan operasional,” kata Anggito.

Di samping itu, Anggito melihat beberapa titik lemah BPR/S yang membahayakan industri. Selain lemahnya tata kelola, hal yang ia sorot yaitu kepemilikan tunggal BPR serta ancaman siber yang menghantui para pemain BPR.

Ke depan, kata Anggito, tantangan pelaku industri akan hadapi datang dalam bentuk struktural dan operasional. Untuk itu, Anggito menekankan pentingnya memperkuat infrastruktur dan kapasitas teknologi informasi bagi BPR/S.

“LPS memandang (BPR) perlu menguatkan infrastruktur dan kapasitas teknologi informasi. Terutama, menguatkan core-banking dari sistem BPR dan BPRS,” ujar Anggito.

“Hal tersebut merupakan langkah strategis yang, tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi operasional, tetapi juga memperbaiki tata kelola dan manajemen risiko terhadap keamanan cyber BPR/S,” tambahnya.

Kinerja BPR dan BPRS

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Oktober 2025, realisasi kredit industri BPR konvensional tumbuh 5,66 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp155,46 miliar. Selanjutnya, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp148,43 miliar, atau tumbuh 4,26 persen yoy.

Adapun total aset hanya naik 4,87 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp211,09 triliun per Oktober 2025.

Di periode yang sama, total aset industri BPRS tumbuh 5,61 persen (yoy) menjadi Rp25,56 triliun. DPK juga mengalami kenaikan 8,23 persen menjadi Rp17,59 triliun.

Namun, kinerja pembiayaan mengalami kontraksi 61,12 persen (yoy) hingga menyentuh angka Rp7,29 triliun. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

KB Bank Ramadan Berbagi 2026: Menguat dalam Kebersamaan, Tumbuh dengan Keberkahan

Jakarta - PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) menggelar kegiatan buka puasa bersama dengan… Read More

2 hours ago

Tragedi Bantargebang Terulang, Longsor Gunungan Sampah Tewaskan 4 Orang

Poin Penting: Longsor gunungan sampah di Bantargebang menewaskan empat orang dan kembali menyoroti krisis pengelolaan… Read More

2 hours ago

Belum Mampu Rebound, IHSG Ditutup pada Level 7.337

Poin Penting IHSG ditutup melemah 3,27 persen ke level 7.337 pada perdagangan 9 Maret 2026.… Read More

2 hours ago

Panglima TNI Siaga 1: Pasukan dan Alutsista Disiapkan, Ada Apa?

Poin Penting: Status Siaga 1 TNI merupakan tingkat kesiapan tertinggi di militer yang menandakan pasukan,… Read More

2 hours ago

Harga Minyak Sempat Tembus USD100 per Barel, Purbaya Buka Suara soal APBN dan BBM

Poin Penting Pemerintah akan mengevaluasi pergerakan harga minyak dunia selama satu bulan sebelum menentukan kebijakan… Read More

3 hours ago

RUPST BNI Sepakat Tebar Dividen Rp13,02 Triliun atau 65 Persen dari Laba 2025

Poin Penting RUPST BNI menyetujui pembagian dividen Rp13,02 triliun dari laba bersih 2025. Nilai tersebut… Read More

3 hours ago