Beras; Bahan pangan utama. (Foto: Paulus Yoga)
Setiap institusi harus meningkatkan kapasitasnya dalam menghadapi risiko krisis. Ria Martati
Jakarta–Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono mengungkapkan ada dua indikator penting yang wajib diwaspadai oleh para manajer krisis yaitu angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan krisis harga pangan.
“Untuk para manager krisis dua indikator ini krusial dan harus dimonitor dengan sungguh-sungguh,” kata Boediono dalam seminar “Managing Financial Turbulence” yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta, Selasa, 22 September 2015.
Boediono mengatakan berdasarkan pengalaman krisis-krisis terdahulu, krisis ekonomi dapat merambat ke krisis lainnya termasuk krisis sosial, hingga dapat menumbangkan rezim pemerintahan. Untuk dapat bertahan dari krisis ke depan menurutnya sangat penting bagi institusi meningkatkan kemampuannya.
“Resiliansi menghadapi krisis tergantung bagaimana institusi menyiapkan diri mereka sendiri,”tandasnya. (*)
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More
Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More