Investor kawakan Lo Kheng Hong. (Foto: Wikipedia)
Poin Penting
Jakarta – Aksi Lo Kheng Hong kembali menjadi sorotan pasar. Investor kawakan tersebut tercatat terus mengakumulasi saham PT Intiland Development Tbk. (DILD) dan PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL) sepanjang awal 2026, mempertegas strategi value investing yang selama ini ia pegang.
Data terbaru hingga April 2026 menunjukkan peningkatan kepemilikan signifikan pada kedua emiten tersebut, di tengah pergerakan harga saham yang cenderung fluktuatif.
Baca juga: Gajah Tunggal Group Sumbang 300 Ribu Masker Kepada TNI
Per 7 April 2026, saham GJTL ditutup di level Rp1.090 atau turun 1,80 persen pada hari tersebut, namun masih mencatat kenaikan 4,31 persen secara year to date (YtD). Di tengah kondisi tersebut, Lo Kheng Hong justru menambah kepemilikannya.
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Selasa, 7 April 2026, Lo Kheng Hong mengakuisisi 1.240.000 lembar saham GJTL pada 2 April 2026. Transaksi ini meningkatkan total kepemilikannya menjadi 219,47 juta lembar saham atau setara 6,30 persen.
Aksi tersebut merupakan kelanjutan dari akumulasi yang telah dilakukan sepanjang Maret 2026, menandakan keyakinan jangka panjang terhadap kinerja emiten tersebut.
Selain GJTL, Lo Kheng Hong juga terus menambah porsi di saham DILD. Per 1 April 2026, kepemilikannya mencapai 707.053.000 lembar saham atau setara 6,82 persen.
Jumlah ini meningkat dibanding posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar 695.069.100 lembar saham atau 6,7 persen. Artinya, sepanjang awal 2026, ia telah mengakumulasi tambahan sekitar 11,98 juta lembar saham.
Harga saham DILD sendiri berada di level Rp123 per lembar dan telah terkoreksi sekitar 12,77 persen secara YtD. Namun penurunan tersebut justru dimanfaatkan sebagai peluang beli.
Saat dikonfirmasi, Lo Kheng Hong mengungkapkan alasannya secara singkat. “[Alasan beli] hanya harganya lagi turun saja,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan pendekatan klasik value investing, yakni membeli saham saat harga berada di bawah nilai intrinsiknya.
Lo Kheng Hong lahir pada 20 Februari 1959 di Jakarta dan dikenal sebagai salah satu investor individu paling sukses di Indonesia. Ia kerap dijuluki “Warren Buffett Indonesia” berkat konsistensinya menerapkan strategi investasi jangka panjang.
Perjalanannya dimulai dari kondisi sederhana. Setelah lulus SMA, ia tidak langsung melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi.
“Ketika saya tamat SMA, orang tua saya tidak punya uang untuk saya bisa melanjutkan kuliah,” ujarnya, dikutip situs resmi Universitas Nasional (Unas).
Ia kemudian bekerja sebagai pegawai tata usaha di bank dengan gaji Rp50.000 per bulan pada 1979, sambil kuliah malam di Universitas Nasional (Unas).
“Lampunya masih lampu kuning, remang-remang,” kenangnya.
Selama 11 tahun bekerja, kariernya relatif stagnan. Namun titik balik terjadi pada 1988 saat deregulasi perbankan membuka peluang baru, dan gajinya melonjak signifikan setelah pindah kerja.
Baca juga: KB Bank Kucurkan Pembiayaan Rp250 Miliar Dorong Pengembangan Kawasan Industri Intiland
Sejak awal bekerja, Lo Kheng Hong sudah membangun kebiasaan berinvestasi saham. Ia menolak menyimpan uang di deposito dan memilih membeli saham perusahaan yang dinilai murah.
“Kalau adik-adik mahasiswa buka website Bank Danamon, muncul nama saya sebagai pemegang saham nomor lima,” ujarnya.
Ia juga menegaskan filosofi investasinya: “Uang besar itu hanya didapat dari tidur yang panjang.”
Sebagai investor berpengalaman sejak 1980-an, ia telah melewati berbagai krisis besar, termasuk 1998 dan pandemi 2020.
“Always invest in bad time—ketika semua orang takut, saat itulah saya membeli saham,” pesannya.
Saat ini, sekitar 99 persen kekayaannya ditempatkan di saham, tanpa alokasi pada deposito atau obligasi. Ia meyakini saham tetap menjadi instrumen terbaik karena menawarkan dividen dan potensi capital gain yang tinggi. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More
Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More
Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More
Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More
Poin Penting IHSG melonjak 4,42% ke level 7.279, dengan mayoritas saham (623) ditutup menguat. Seluruh… Read More
Poin Penting: Biaya haji 2026 terancam naik signifikan akibat kenaikan harga avtur, asuransi, dan tekanan… Read More