Likuiditas Masih Ketat, BI Diprediksi Turunkan Bunga Acuan

Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memandang penurunan bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) masih terbuka lebar pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Oktober ini seiring dengan masih stabilnya perekonomian.

Direktur Utama BRI Sunarso menilai, penurunan bunga acuan dapat menggairahkan industri perbankan guna lebih ekspansif terhadap penyaluran kredit. Sebab, menurutnya, hingga saat ini likuiditas perbankan masih cukup ketat.

“Kalau BI Rate turun saya pikir bagus untuk market, karena kami melihatnya bahwa sebenarnya sekarang ini pricing-nya turun, tetapi kami mengahadapi kenyataan bahwa LDR (industri) masih di atas 90 persen,” kata Sunarso di Gedung BRI I, Jakarta, Kamis, 24 Oktober 2019.

Sunarso menambahkan, dengan penurunan suku bunga acuan BI, nantinya diharapkan dapat diikuti dengan relaksasi-relaksasi kebijakan lain yang lebih akomodatif.

Sebelumnya, pada RDG BI periode September 2019 sendiri BI memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,25%.

Kebijakan penurunan lanjutan pada bulan lalu konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah di bawah titik tengah sasaran dan imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

Sebagai informasi, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatatkan adanya perlambatan pertumbuhan DPK yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan kredit pada periode Agustus 2019 sehingga mendorong terjadinya kenaikan LDR perbankan dari level 93,81% pada Juli lalu menjadi 94,04% pada Agustus.

Tercatat, berdasarkan indikator likuiditas LPS pada periode Agustus,Pertumbuhan kredit secara tahunan perbankan tumbuh sebesar 8,59% yoy, sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh
7,62% secara yoy. (*)

Editor: Rezkiana Np

Suheriadi

Recent Posts

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

45 mins ago

Bangkrut Akibat Kredit Macet, Bank Ayandeh Iran Tinggalkan Utang Rp84,5 Triliun

Poin Penting Bank Ayandeh bangkrut pada akhir 2025, meninggalkan kerugian hampir USD5 miliar akibat kredit… Read More

48 mins ago

Penguatan Produktivitas Indospring Disambut Positif Investor, Ini Buktinya

Poin Penting INDS memperkuat produktivitas dan efisiensi melalui pembelian aset operasional dari entitas anak senilai… Read More

1 hour ago

KB Bank Kucurkan Kredit Sindikasi USD95,92 Juta ke Petro Oxo Nusantara

Poin Penting KB Bank salurkan kredit sindikasi USD95,92 juta untuk mendukung pengembangan PT Petro Oxo… Read More

1 hour ago

IHSG Ditutup Menguat 0,47 Persen ke Level 9.075

Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,47 persen ke level 9.075,40 pada perdagangan 15 Januari 2026,… Read More

1 hour ago

Lampaui Target, Realisasi Investasi 2025 Tembus Rp1.931,2 Triliun

Poin Penting Realisasi investasi 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7 persen (yoy) dan melampaui target… Read More

1 hour ago