News Update

Likuiditas dan Permodalan Bank Masih Baik, Masyarakat Tak Perlu Khawatir

Jakarta – CORE Indonesia (Center of Reform on Economics) menilai, kondisi industri perbankan saat ini masih sangat baik. Masyarakat pun diminta tak perlu khawatir mengingat pemerintah dan regulator juga terus mendukung terciptanya kestabilan sistem keuangan di tengah wabah pandemi Covid-19 ini, dalam rangka pemulihan ekonomi nasional.

Demikian disampaikan Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah dalam keterangannya yang dikutip di Jakarta, Senin, 13 Juli 2020. Ia menyebutkan, posisi permodalan atau Capital Adequate Ratio (CAR) perbankan hingga saat ini masih di kisaran 20%. Posisi ini melampaui batas permodalan yang ditetapkan dalam BASEL I hingga BASEL III.

“Perbankan kita lampaui semua ketentuan permodalan di BASEL I sampai BASEL III dengan rata-rata di kisaran 20 persen. Sementara kalau kita berbicara mengenai batasan-batasan yang diatur dalam BASEL III pun untuk berjaga-jaga di saat krisis, paling-paling BASEL III membatasi CAR di kisaran 12-13%. Apalagi kalau kita merujuk ke BASEL I yang membatasi CAR di kisaran 8% tresholdnya. Jadi kita jauh di atas batas minimum permodalan untuk berjaga-jaga dari sisi permodalan,” jelas Piter.

Dengan kondisi tersebut, Piter menegaskan agar nasabah maupun pelaku usaha tidak perlu mengkhawatirkan kondisi perbankan saat ini. Demikian pula dari sisi profitability, menurut Piter, tingkat keuntungan perbankan masih tinggi.

“Jadi misalnya liquidity coverage ratio-nya masih oke. Saya kira tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara agregat. NIM perbankan juga saat ini masih terjaga, demikian juga dengan NPL juga masih terjaga di level 3%. Jadi tidak ada yang mengkhawatirkan secara agregat di industri perbankan,” paparnya.

Memang ada masalah di individual bank, namun hal itu menurut Piter masih dalam kondisi yang relatif aman. “Karena kalau kita lihat satu-satu, bank yang dianggap bermasalah, permodalan dan likuiditasnya masih terjaga, walaupun sudah ada tekanan, tetapi belum menunjukkan hal yang perlu dikhawatirkan,” pungkas Piter.

Dia menambahkan, kondisi perbankan yang masih terjaga ini tidak lepas dari peran pemerintah dan regulator. “Karena seharusnya dengan wabah Covid 19 ini tekanan NPL sangat besar. Tetapi karena OJK melonggarkan kolektabilitas, restrukturisasi kredit, sangat membantu bank dalam menekan lonjakan NPL. Sehingga sampai bulan Mei 2020 NPL perbankan masih di 3%,” ucapnya.

Di sisi lain, lanjut Piter, pemerintah juga mempunyai niat baik dalam menjaga pemenuhan likuiditas bank dengan cara menempatkan dana baik melalui Bank Jangkar maupun Bank Mitra. Hal ini menurut Piter,  didorong oleh keinginan pemerintah untuk membantu dunia usaha dan perbankan dalam menambah likuiditas perbankan.

Saat ini koordinasi antara pemerintah, otoritas keuangan dan moneter terus diperkuat dalam meningkatkan kerjasama dan peran dalam menjaga likuiditas bank, sebagai bagian dari program pemulihan dan penguatan ekonomi nasional. “Bank Jangkar ini niat baik dari pemerintah, karena seharusnya BI yang menginjeksi perbankan karena BI merupakan  otoritas moneter yang mempunyai instrument itu. Tetapi ini niat baik pemerintah,” tutupnya. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Dirut BTN Nixon LP Napitupulu Dinobatkan sebagai Bankers of The Year 2025

Poin Penting Dirut BTN Nixon LP Napitupulu dinobatkan sebagai Bankers of The Year 2025 oleh… Read More

3 hours ago

Ramai Spin Off, Ini Kinerja Bank Umum Syariah Sepanjang 2025

Poin Penting Spin off UUS menjadi BUS merupakan kewajiban sesuai POJK No. 12/2023 bagi UUS… Read More

3 hours ago

IHSG Diproyeksi Tembus 9.800 pada 2026, DBS Beberkan Pendorongnya

Poin Penting Peningkatan belanja pemerintah, khususnya untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), dinilai… Read More

4 hours ago

Harga Bitcoin Stagnan di Level USD90.000, Pasar Tunggu Rilis Data Inflasi AS

Poin Penting Dalam 24 jam terakhir, BTC naik 0,70 persen ke level USD91.280 dengan dominasi… Read More

4 hours ago

Pemerintah Tarik Utang Rp736,3 Triliun hingga Desember 2025

Poin Penting Pemerintah menarik utang Rp736,3 triliun hingga Desember 2025, setara 94,9 persen dari target… Read More

4 hours ago

IHSG Ditutup Berbalik Melemah ke Posisi 8.884, Ini Pemicunya

Poin Penting IHSG ditutup melemah 0,58% ke level 8.884, dipicu aksi ambil untung setelah menyentuh… Read More

4 hours ago