HRTA bakal ekspansi buka toko di luar Pulau Jawa. (Foto: istimewa)
Jakarta – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), emiten manufaktur perhiasan emas dan emas batangan membidik kenaikan pendapatan dan laba bersih di tahun ini.
Direktur Keuangan HRTA, Ong Denny, mengatakan pendapatan dibidik akan meningkat sekitar 47 persen atau sebanyak Rp27 triliun, sedangkan laba bersih ditargetkan tumbuh 35 persen menjadi Rp600 miliar.
“Kami menargetkan target pendapatan naik 47 persen, yaitu di kisaran Rp27 triliun dengan target laba bersih Rp600 miliar atau naik sebesar 35 persen,” ucap Ong Denny dalam Paparan Publik secara virtual di Jakarta, 12 Juni 2025.
Baca juga: Hartadinata Abadi (HRTA) Tebar Dividen Rp21 per Saham
Untuk merealisasikan target tersebut, kata Ong, pihaknya akan membuka sekira 100 toko baru. Untuk pembangunannya, akan digelontorkan belanja modal atau capital expenditure (capex) hingga Rp150 miliar.
“Dari sisi capex, kami mencadangkan Rp150 miliar khususnya untuk integrasi pabrik, ini termasuk bangunan dan juga mesin-mesin,” imbuhnya.
Untuk ekspansi toko, lanjut Ong, HRTA akan fokus pada di area luar Jabodetabek. Perseroan kini mulai gencar melakukan ekspansi toko ke kota-kota besar dan skala menengah di luar Pulau Jawa. Tujuan untuk meningkatkan kinerja keuangan yang solid.
Hingga kuartal I 2025, HRTA meraih pendapatan sebesar Rp6,78 triliun atau meroket 68,97 persen dari Rp4,01 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Mirae Asset Rekomendasikan Saham Emiten Emas Makin Berkilau, Ini Alasannya
Pertumbuhan pendapatan didorong oleh peningkatan volume penjualan emas murni yang meningkat 18,77 persen secara year on year (yoy) mencapai 4,47 ton pada kuartal I 2025 dibandingkan 3,76 ton pada periode yang sama tahun lalu.
Sedangkan untuk laba bersih, HRTA berhasil membukukan labar bersih Rp149,75 miliar pada kuartal I 2025. Laba ini mengalami pertumbuhan secara tahunan sebesar 45,82 persen dari Rp102,70 miliar di tahun lalu. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Harga emas global bergerak fluktuatif dipengaruhi faktor ekonomi, inflasi, suku bunga, dan geopolitik… Read More
Poin Penting BGN meminta maaf atas insiden keamanan pangan dalam program MBG di SPPG Pondok… Read More
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pelaksanaan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 berhasil menghimpun… Read More
Poin Penting WOM Finance menetapkan pembagian dividen tunai maksimal 30 persen dari laba bersih 2025,… Read More
Poin Penting BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia resmi mengumumkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi… Read More
Poin Penting DPR menyoroti perlunya kebijakan kredit yang lebih berpihak pada masyarakat, terutama pelaku UMKM… Read More