Moneter dan Fiskal

Lepas dari Kutukan 5 Persen, Purbaya Dorong Peran Swasta Genjot Ekonomi RI

Poin Penting

  • Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Indonesia telah lepas dari “kutukan” pertumbuhan 5 persen, dengan realisasi pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 5,11 persen secara tahunan.
  • Pemerintah fokus menjaga disiplin fiskal dan mengoptimalkan belanja negara
  • Ke depan, pertumbuhan akan ditopang sektor swasta melalui sinkronisasi kebijakan dan penghilangan hambatan struktural

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Indonesia sudah lepas dari kutukan pertumbuhan ekonomi di level 5 persen. Adapun pada 2025 ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Purbaya mengatakan, pemerintah saat ini memilih fokus untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen serta mengoptimalkan belanja negara untuk mendorong pertumbuhan yang lebih cepat.

Menurutnya, strategi tersebut telah terbukti efektif. Meski sempat diragukan banyak pihak, kebijakan menjaga defisit di bawah 3 persen justru memberikan ruang bagi pemerintah untuk memanfaatkan anggaran secara lebih optimal.

Baca juga: Purbaya Beberkan Alasan Defisit APBN 2025 Nyaris 3 Persen dari PDB

“Sekarang saya akan fokus di 3 persen dan mengoptimalkan uang yang ada untuk menjaga pertumbuhan yang lebih cepat. Kemarin kan berhasil tuh walaupun banyak orang menertawain tapi kan berhasil kan di bawah 3 persen saya bisa memanfaatkan uang,” ujar Purbaya saat Konferensi Pers Indonesia Economic Outlook, dikutip, Sabtu, 14 Februari 2026.

Sinkronisasi dan Dorong Peran Swasta

Ke depan, kata Purbaya, pemerintah akan mendorong kualitas belanja dan sinkronisasi kebijakan, bukan hanya melakukan belanja secara besar-besaran. Fokus utama diarahkan pada penghilangan hambatan struktural yang selama ini menahan laju investasi dan pertumbuhan.

“Sudah lepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen. Ke depannya akan berfokus dengan memaksimalkan uang yang ada. Saya jadi jaga sinkronisasi sekarang yang penting kita harus bisa optimalkan dengan debottlenecking perbaikan investasi untuk mesin swasta mesin pemerintah mesin pertumbuhan ekonomi swasta mungkin bisa mendukung pertumbuhan ekonomi kita,” ungkapnya.

Dia menilai mesin pertumbuhan ekonomi ke depan akan lebih ditopang oleh sektor swasta, dengan pemerintah berperan sebagai fasilitator melalui perbaikan iklim investasi dan koordinasi lintas kebijakan. Sinkronisasi antara mesin pertumbuhan swasta dan pemerintah dinilai krusial agar momentum ekspansi dapat berkelanjutan.

Untuk target pertumbuhan ekonomi di 8 persen, Purbaya menyatakan pemerintah akan tetap berhitung secara cermat sebelum menambah ruang fiskal. Meski begitu, menurutnya, tambahan anggaran belum tentu diperlukan dalam waktu dekat.

Baca juga: Purbaya Siapkan Rp55 Triliun untuk THR ASN, TNI, dan Polri

“Nanti ke depan kalau mau 8 persen misalnya kita evaluasi apakah kita perlu uang tambahan atau tidak. Kalau saya sih insting saya tidak karena kita sudah menjalankan investasi yang terbesar di sini dalam waktu tidak terlalu lama jadi saya sudah ada beberapa indikasi seperti ini,” bebernya.

Lebih lanjut, selama hasil investasi mulai terlihat dan pertumbuhan tetap terjaga, kebijakan fiskal akan tetap dikendalikan secara disiplin dan terap berprinsip pada kehati-hatian.

Di samping itu, pemerintah belum melihat kebutuhan untuk melampaui batas defisit 3 persen terhadap PDB. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Realisasi Penyaluran PKE LPEI 2025 Capai Rp13,5 Triliun, Melesat 85 Persen

Poin Penting Penyaluran Penugasan Khusus Ekspor (PKE) LPEI mencapai Rp13,5 triliun sepanjang 2025, naik 85… Read More

30 mins ago

Tak Perlu Khawatir, Bos Pegadaian Jamin Stok Emas Fisik Aman!

Poin Penting Tabungan emas Pegadaian dijamin 1 banding 1 dengan emas fisik yang tersimpan di… Read More

2 hours ago

Defisit APBN Februari 2026 Tembus Rp135,7 Triliun

Poin Penting APBN Februari 2026 defisit Rp135,7 triliun atau setara 0,53 persen dari PDB, dengan… Read More

11 hours ago

Mudik Tenang dan Nyaman, Tugu Insurance Hadirkan Asuransi t mudik

Poin Penting Tugu Insurance meluncurkan asuransi mikro t mudik (konvensional dan syariah) untuk memberikan perlindungan… Read More

11 hours ago

Airlangga Beberkan Jurus Pemerintah Jaga Daya Beli di Awal 2026

Poin Penting Pemerintah menggulirkan stimulus fiskal dan bansos sejak awal 2026 untuk menjaga daya beli;… Read More

11 hours ago