Ilustrasi salah satu proyek PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE)
Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO/PGE) membukukan laba bersih sebesar USD31,37 juta atau sekitar Rp528,91 miliar pada kuartal pertama (Q1) 2025. Angka ini turun 33,97 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan periode sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan per 31 Maret 2025, PGE mencatatkan pendapatan sebesar USD101,51 juta pada kuartal I-2025, turun 1,75 persen yoy dibandingkan posisi USD103,32 juta pada Q1 2024.
Adapun pendapatan tersebut dikontribusikan oleh sejumlah proyek seperti Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) area Kamojang sebesar USD39,08 juta, Ulubelu USD28,12 juta, Lahendong USD21,31 juta, Lumut Balai USD10,51 juta, dan Karaha USD2,46 juta.
Baca juga : PGEO dan PEMA Siap Lakukan Pengeboran Panas Bumi di Aceh
Meski kinerja laba dan pendapatan tertekan, PGEO tetap kokoh menopang rencana pertumbuhan jangka panjang.
Hal ini terlihat dari raihan total aset sebesar USD3,03 miliar, naik 0,93 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Termasuk, ekuitas USD2,04 miliar, meningkat 1,56 persen.
Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Yurizki Rio mengatakan, kinerja kas operasional yang kuat membuktikan efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan manajemen.
Hasil yang diraih sejauh ini juga menunjukkan bahwa kinerja perusahaan masih tetap berada di jalur bisnis yang kuat dalam mendukung terwujudnya transisi energi nasional, sekaligus juga upaya mengejar target kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW) yang dikelola secara mandiri dalam 2-3 tahun mendatang.
Baca juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Sukses Bukukan Kinerja Solid di Awal 2025, Ini Rinciannya
“Kami berkomitmen mempercepat pengembangan panas bumi dengan mengoptimalkan efisiensi operasional. Oleh karena itu, kami menerapkan strategi belanja yang diarahkan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang,” ungkap Yurizki Rio.
“Kinerja solid PGE selama beberapa tahun terakhir menjadi fondasi kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan. Hal tersebut menjadi bekal kami untuk terus berekspansi secara lebih agresif untuk memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, beberapa proyek kunci PGE untuk mencapai target tersebut mencakup pengembangan Lumut Balai Unit 2 (55 MW), Hululais Unit 1 & 2 (110 MW), serta sejumlah proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW.
“Proyek Lumut Balai Unit 2 ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun ini. “Proyek ini akan memperkuat portofolio energi hijau PGE dan menjadi sinyal optimistis kami untuk mendorong peningkatan operasional dan kinerja keuangan sepanjang tahun 2025,” pungkasnya. (*)
Edtor: Yulian Saputra
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More
Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More