News Update

Laba Melonjak 61%, Aset BTPN Tembus Rp100 Triliun

Jakarta – PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) berhasil mencetak laba bersih (net profit after tax/NPAT) mencapai Rp1,97 triliun di 2018. Jumlah tersebut melonjak 61% jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2017 sebesar Rp1,22 triliun.

Kinerja positif itu berhasil diraih seiring keberhasilan BTPN dalam bertransformasi ke digital, sehingga memangkas biaya operasional. Hasilnya, rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) menjadi lebih baik. Biaya operasional rutin perusahaan (business as usual) selama kurun Januari – Desember 2018 tercatat Rp3,48 triliun, turun 12% dari periode yang sama 2017 sebesar Rp3,93 triliun.

Penurunan biaya ini membuat pendapatan operasional bersih (net operating income) meningkat 12% menjadi Rp5,2 triliun meski pendapatan operasional (operating income) hanya tumbuh 2% menjadi Rp10,2 triliun. Rasio biaya terhadap pendapatan pun turun dari 69% pada 2017 menjadi 56% pada 2018.

Keberhasilan lainnya, BTPN masuk daftar jumlah bank di Indonesia dengan kepemilikan aset di atas Rp100 triliun.

Pencapaian ini terwujud sebelum BTPN beroperasi sebagai entitas baru, hasil penggabungan usaha (merger) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI).

Hingga akhir Desember 2018, aset BTPN mencapai Rp101,9 triliun, tumbuh 7% dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) senilai Rp95,5 triliun. Total pembiayaan tercatat Rp68,1 triliun atau tumbuh 4% dan pendanaan (funding) sebesar Rp80,5 triliun, meningkat 5%.

“Kami bersyukur atas pencapaian ini. Berkat dukungan semua pihak, BTPN tumbuh luar biasa dalam 1 dekade terakhir dan masuk ke jajaran bank dengan aset di atas Rp100 triliun. Setelah resmi merger, BTPN tentu memiliki kesempatan untuk menjadi lebih kuat dan lebih besar lagi,” kata Direktur Utama BTPN Jerry Ng, Kamis, 24 Januari 2019.

Baca juga: BTPN dan SMBCI Dapat Izin Merger

Sejak pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia pada Maret 2008, BTPN bertumbuh secara signifikan.

Selama 10 tahun terakhir, aset melonjak 10 kali lipat dari Rp10,6 triliun per Desember 2007. Begitu pula kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang saat itu masih senilai Rp7,85 triliun dan Rp8,80 triliun.

“BTPN segera memulai lembaran hidup baru. Kami bangga bisa mengantarkannya ke gerbang merger dengan kondisi yang sangat sehat dan kuat,” kata Jerry yang akan mengakhiri masa jabatannya pada akhir Januari ini.

Selain menapak ke level yang lebih tinggi, BTPN juga semakin efisien dan kompetitif. Hal ini merupakan hasil dari program transformasi dan inovasi digital yang digulirkan manajemen sejak tiga tahun terakhir.

Inovasi diwujudkan melalui produk baru berbasis digital antara lain BTPN Wow! dan Jenius. Sedangkan transformasi digulirkan dengan mengubah konsep pelayanan dari bank-centric, menjadi customer-centric.

“Kami tidak hanya menciptakan produk dan layanan baru berbasis digital. Kami juga melakukan digitalisasi di existing business. Kini BTPN lebih terintegrasi dan lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan nasabah secara cepat, mudah dan aman,” kata Jerry.

Berbicara rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio) BTPN sebesar 25% dan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) sebesar 1,24%. Rasio pinjaman terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) berada di level 96%. (*)

Dwitya Putra

Recent Posts

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

Poin Penting BSN menggelar Developer Gathering 2026 di empat kota sebagai langkah strategis menjadikan developer… Read More

3 hours ago

BCA Insurance Luncurkan Aplikasi BIG, Bidik 20 Ribu Pengguna di 2026

Poin Penting BCA Insurance luncurkan BIG (BCA Insurance Guard) sebagai aplikasi mobile untuk mempermudah nasabah… Read More

3 hours ago

Intip Kinerja Bisnis Emas BSI Setelah Berstatus Bullion Bank

Poin Penting Dalam waktu kurang dari setahun sebagai bank emas, total nasabah bisnis emas BSI… Read More

3 hours ago

BCA Digital Perluas Penyaluran Kredit Ritel Lewat bluExtraCash

Poin Penting Sepanjang 2025, BCA Digital menyalurkan kredit Rp8,6 triliun atau tumbuh 38 persen secara… Read More

3 hours ago

Pasar Saham Tertekan, Begini Jurus Investasi Aman di Tengah Koreksi IHSG

Poin Penting IHSG sempat turun tajam hingga 7.654 dan memicu trading halt dua kali akibat… Read More

8 hours ago

Meski Daya Beli Melemah, Amartha Yakin Prospek Pembiayaan UMKM 2026 Tetap Moncer

Poin Penting Amartha optimistis pembiayaan UMKM, khususnya segmen ultra mikro, tetap tumbuh karena kebutuhan modal… Read More

8 hours ago